5. Malam Pertama

14.2K 450 30
                                    

Wanita itu membelai wajah Luna dan berkata.

"kamu sudah besar ya nak, maafin mamah. Maafin mamah karena baru datang sekarang. Maafin mamah udah ninggalin kamu sama ayah. Mamah minta maaf" sesalnya seraya memeluk Luna.

Tubuh Luna menegang hebat saat tangan halus wanita itu memeluknya. Apa ini? kenapa tiba-tiba ada wanita yang datang mengaku sebagai ibunya? Apa wanita ini benar-benar ibunya? Luna nggak ngerti, otaknya belum mampu memproses keadaan ini. buru-buru dia melepaskan pelukan wanita itu.

"maaf maksud anda apa ya? Dan kenapa anda menyebut diri anda sendiri dengan sebutan mamah. Saya nggak ngerti"

"sayang ini mamah, mamah datang nak. Mungkin sulit buat kamu nerima kenyataan ini, tapi sekarang mamah disini, mamah datang untuk kamu Luna."

"apa? untuk aku? nggak, aku nggak butuh mamah. Luna cuma butuh ayah, aku nggak punya mamah aku Cuma punya ayah selamanya akan seperti itu." tegas Luna dengan tatapan nanar.

"luna kamu jangan bersikap seperti itu nak, mamah tahu mamah salah, tolong maafin mamah. Mamah kangen kamu Luna, apa kamu nggak kangen sama mamah?"

"apa? kangen? Iyah luna emang kangen sama mamah, bahkan luna kangen mamah setiap hari setiap saat sampe rasanya sulit buat bernafas, tapi itu dulu mah, waktu Luna TK. Waktu temen-temen Luna dengan bangganya meluk mamah mereka pada hari Ibu, tapi Luna.." tenggorokan Luna tercekat kala dia mengingat masa kecilnya, dengan suara lirih Luna melanjutkan ucapannya.

"luna Cuma punya ayah buat dipeluk. Ayah bisa menjadi ibu sekaligus ayah buat Luna, jadi Luna nggak butuh mamah lagi. lebih baik mamah nggak usah temuin Luna lagi, karena percuma aja, buat Luna mamah udah nggak ada. Satu hal yang bisa Luna sampein, makasih udah lahirin Luna ke dunia ini"

Dengan airmata yang tak bisa dibendung lagi, Luna berjalan meninggalkan wanita itu yang mulai terisak mendengar penolakan anaknya sendiri.

Luna memilih untuk menghampiri Jeki yang sedang berpamitan dengan ayahnya.

"ayo pergi" Luna menarik tangan Jeki ke arah mobil yang akanl mengantar mereka ke rumah Jeki.

"eh, ta..tapi gue belum pamitan sama semuanya"

Luna tidak mendengar kata-kata jeki, dia terus menarik tangan Jeki menjauh. Semua yang menyaksikan kejadian tersebut hanya tersenyum penuh arti, mereka menganggap pasangan itu sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam pertama mereka.

"lo tunggu sini, gue mau pamit sama semuanya dulu" Jeki meninggalkan Una di dalam mobil

Luna hanya diam menatap ke arah luar, sesekali ia menyeka airmatanya. Dari dalam mobil dia bisa melihat wanita yang tadi mengaku sebagai ibunya tengah dirangkul oleh seorang pria. Wanita itu masih nampak menangis dan pria disampingnya dengan penuh kasih sayang mengusap airmata di pipi wanita itu.

"Cihh jadi dia ninggalin ayah demi pria itu dan sekarang dengan nggak tahu malunya dateng mengaku sebagai ibu gue. haha jangan harap gue mau ngakuin dia" Luna tertawa miris

Hati Luna kembali sakit mengingat masa-masa sulitnya dulu bersama ayahnya yang dengan sabar merawat dirinya sejak kecil. Mengingatnya membuat hati Luna sedih, memikirkan bahwa ibunya disana senang-senang bersama lelaki lain sedangkan ayahnya harus hidup sendirian merawat Luna sejak ia kecil hingga besar seperti ini.

Luna pikir wanita itu kembali untuk menjaga ayahnya yang saat ini sakit-sakitan. Namun pemandangan didepannya membuat ia semakin membenci ibu kandungnya.

Mengapa dia baru datang sekarang? Kemana dia saat Luna sakit? Dimana dia saat Luna membutuhkan ibunya disetiap ulang tahunnya, hingga Luna lelah sendiri berdoa pada tuhan untuk bertemu dengan ibunya.

Kawin Kontrak (eunkook)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang