Part 9 - Ternyata Mimpi Buruk Tidak Akan Hilang Saat Terbangun Sekalipun

291 22 0

Kimi bersembunyi di balik punggung Titin yang menjaga mesin kasir karena melihat sosok Malik yang baru saja melewati pintu masuk kedai. Matanya mengedar entah mencari siapa. Dia duduk di pojok lalu mengeluarkan macbook dari dalam tas. Tanpa sadar Kimi mencengkram erat punggung Titin hingga gadis itu mengerang kesakitan.

"Ih ngapain sih ngumpet. Sana samperin tuh ada pelanggan. Ketahuan sama pak Omay dan pak Misael bahaya kita." kata Titin.

"Tapi, Tin.."

"Apa lagi? Jangan sia-siain ikan kakap di depan mata, Kim." Titin menaik turunkan kedua alisnya.

"Maksud kamu?"

"Cowok itu kelas kakap tau, Kim. Gebet sana keburu kepancing cewek-cewek berdada busung." Titin pun menunjuk keberadaan Malik dengan dagunya. Karena kesal, bahkan Titin mendorong keras tubuh ringkih Kimi sekuat tenaga. Pelan-pelan Kimi menghampiri Malik yang sibuk di depan layar macbook. Kimi menelan salivanya karena memandangi titisan dewa Yunani di depannya ini.

"Iya saya tau kalau saya ganteng." ucap Malik tanpa membuang pandangannya dari macbook. Kimi menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kepada siapa om-om resek itu berbicara. "Kiminara Utami, saya bicara sama kamu." lanjut Malik.

Kimi pun melotot. "Oh..hmm kirain ngomong sama macbook." gumam Kimi.

Akhirnya Malik mendongak dan mulai menatap wajah Kimi yang merona malu. "Boleh saya pesan sekarang?" tanya Malik sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Hm..boleh kok. Ini buku menunya."

"Saya pesan espresso saja dulu."

"Baik. Mohon ditunggu sebentar." saat Kimi hendak berbalik, Malik mencekal pergelangan tangannya.

"Wajahmu kalau bertemu dengan saya jangan seperti espresso. Pahit."

Kimi tidak mau ambil pusing dengan perkataan Malik barusan. Dia segera menarik pergelangan tangannya dari pegangan Malik.

Rupanya Malik tengah menunggu kedatangan seorang perempuan cantik dengan tubuh aduhai macam model internasional. Kimi muak dengan keduanya yang tidak jarang memamerkan kemesraan.

Mereka pikir ini hotel esek-esek yang bisa seenaknya saling menjamah satu sama lain. Dasar pria mesum dan perempuan plastik.

**

Kimi uring-uringan sejak tiba di rumah. Dia terlihat gemas sendiri entah untuk hal apa. Bahkan saat makan malam berdua dengan Lidia--El masih meninjau cabang--dia menggigiti sendoknya.

"Gigimu nggak sakit gigit sendok, nak?" tanya Lidia heran.

"Hmm..kenapa eyang?" tanya Kimi dengan wajah bloonnya. Lalu dia tersadar dan meletakkan kembali sendoknya di atas piring.

"Eyang perhatiin dari tadi kamu gigitin sendok. Kamu nggak lagi panas tinggi kan?"

Kimi meringis malu. "Nggak kok eyang. Kimi nggak lagi panas tinggi. Aku sudah kenyang, aku duluan ya, eyang." Kimi beranjak dari tempat duduknya sambil membawa piring kotornya untuk segera dicuci.

Meskipun ada asisten rumah tangga yang membersihkan, El selalu mewanti-wanti Kimi untuk tetap mencuci piringnya sehabis makan dan membersihkan kamarnya sendiri.

Kimi tertegun di depan wastafel sehabis mencuci piring. Wajah Malik yang menyebalkan bahkan dengan kurang ajarnya muncul di otaknya. Buru-buru Kimi menepis pikiran anehnya itu.

"Kimi, kamu beneran nggak apa-apa? Kenapa kepalamu diketuk-ketuk begitu? " Lidia tiba-tiba  menyentuh bahu Kimi dari belakang.

"Hehehe..nggak kok eyang. Kimi cuma lagi kesel saja sama seseorang. Eyang istirahat ya. Selamat malam eyang." Kimi mencium pipi Lidia lalu menuju kamarnya.

Target KimiBaca cerita ini secara GRATIS!