8,5-Awkward Moment

2.3K 198 2

"Aku ada berita bagus buat hubungan kita. Tiga bulan lagi Papa mau kita bertunangan."

Tiba-tiba muka ceria Rain berganti dengan mendung. Bahkan Rain lupa terakhir kali Kevin mengatakan kalau mereka akan bertunangan.

Janji itu Rain anggap serius awalnya. Tapi, setelah dia pindah ke Jerman dan bersekolah di sana. Rain melupakan janji yang dianggapnya serius itu. Tepatnya setelah dia bertemu dengan Daniel. Cowok keturunan Jerman-Jawa bermata hitam pekat itu meruntuhkan keyakinan Rain. Kevin adalah masa lalunya, bagi Rain Daniel adalah masa depannya.

***

Ulangan mendadak dari Bu Devy menguras tenaga Cellyn. Wajah gadis itu semakin suntuk setelah melihat nilai yang keluar. Di mata pelajaran lain, nilainya bagus, hampir sempurna malah. Tapi entah kenapa di pelajaran kimia, dia sangat-sangat bodoh. Pelajaran yang dijelaskan waktu kelas semester satu baru dimengertinya setelah semester dua mendekati UAS seperti sekarang. Cellyn menenggelamkan kepalanya di jaket yang ia bawa. Sebelumnya dia menyumpalkan heandseat ke telinganya karena risih dengan gerutuan teman-temannya.

Setelah cukup lama tenggelam dalam dunianya, Cellyn merasa kejanggalan lain. Kelas mendadak hening tanpa suara. Gadis itu mendongak untuk memastikan. Kevin, dia berdiri diambang pintu dengan senyum lima jari. Dia permisi kepada sang ketua kelas, Daffa untuk masuk. Daffa mengiyakan saja.

Kevin berjalan mendekat ke meja cellyn. Rasanya jantungnya sudah mau copot. Gadis itu hanya menatap sejajar tidak berani menatap lebih tinggi. Naya, yang tempat duduknya ada di depan Cellyn beringsut pindah. Membiarkan Kevin leluasa berbicara dengan temannya itu.

"Cell, kantin yuk, atau perpustakaan mau?" ucap Kevin sangat riang tidak seperti biasanya yang dingin. Penghuni kelas yang menyadari perubahan itu langsung tidak mau tahu lagi. Mereka mengangkat bahu ringan dan berpura-pura tidak mau peduli. Cellyn sendiri kaget setengah mati karena Kevin yang sekarang ada di depannya berbeda seratus persen dengan Kevin kemarin di ruang ketua yayasan. Cellyn kebingungan mencari kata-kata karena terlalu gugup. Satu tetes keringat meluncur dari pelipisnya. Dia meneguk ludah sebentar sebelum mnejawab.

"I-iya. Ke kantin dulu baru ke perpus."

Tanpa aba-aba Kevin menarik pergelangan tangan Cellyn. Gadis itu spontan mengikuti. Lagi-lagi jantungnya hampir meloncat hanya karena tangannya dipegang oleh Kevin. Kelas mendadak hening dan setelah mereka keluar ricuh kembali. Di koridor ipa, dimana tempat anak-anak yang katanya pintar dan pendiam tidak jauh berbeda. Bahkan para kaum hawa iri melihat gadis biasa itu disentuh tangannya oleh most wanted sekolah. Cellyn tidak yakin setelah ini ia bisa pulang dengan utuh.

***

Tidak jauh berbeda dengan kelas dan koridor ipa. Di kantin banyak kakak kelas yang menatap Cellyn lapar seperti ingin mencabik-cabiknya. Cellyn menundukkan wajahnya dan tidak berani melihat ke depan. Kevin yang menyadari perubahan itu berhenti dan menatap Cellyn. Dia mengangkat sedikit dagu Cellyn agar bisa melihat wajahnya. Jeritan dari para penggoda tidak terelakkan.

"Kamu biasa aja, nggak usah takut gitu, kan ada aku."

Satu kalimat lembut yang pernah Cellyn dengar dari Kevin. Bahkan sempat terlintas peryataan di otaknya kalau Kevin benar-benar serius kemarin menjadikannya pacar. Pipinya bahkan sudah memerah seperti tomat. Cellyn hanya mengangguk dan menuruti perintah Kevin. Mereka kembali berjalan dengan tangan Kevin yang terus menggenggam jemari Cellyn. Tiba-tiba giliran gadis itu yang berhenti.

"Ngg.. nggak jadi kantin ya, ke perpus aja."

Sebenarnya Cellyn bukan nerd, kutu buku atau semacamnya. Tapi kali ini dia lebih memilih untuk menjauhi tempat uji nyali seperti kantin sekarang ini. Lebih baik berhadapan dnegan buku-buku tebal dari pada cabe dengan bedak tebal.

"Kamu takut?" tanya Kevin

"Enggak, aku nggak pingin kantin aja," Kevin mengangguk dan menuruti Cellyn.

Dari arah berlawanan,Denin datang dan membawa setumpuk buku paket. Dia melihat Cellyn sangat senang karena bisa bersama Kevin. Selama ini dia lah yang Cellyn curhati tentang Kevin. Dari awal dia bertemu Kevin sampai sekarang Denin tahu betul perasaan gadis itu tidak akan pernah berubah. Denin tersenyum melewati mereka. Meskipun tidak bisa menyangkal lagi kalau hantinya mendadak remuk bertebaran seperti kaca pecah.

Di perpustakaan mereka memilih buku masing-masing. Cellyn mengambil novel remaja dan Kevin mengambil buku pelajaran, kimia. Gadis itu terkikik geli karena Kevin malah memilih buku bacaan berat seperti itu.

"Kenapa? ada yang lucu?" tanya Kevin bingung

"Kamu lucu ya. Masih sempatnya baca kimia. Kenapa nggak milih novel kayak aku. Kimia itu menakutkan lho," ujar Cellyn jujur tanpa menutupi.

"Oh ya, kimia itu asik lho. Bahkan semua di bumi ada hubungannya dengan ilmu kimia," Kevin menjawab mantap sedangkan Cellyn begidik ngeri.

"Aku mah nggak bisa pelajaran satu itu. Bagaimanapun aku coba buat ngerti, tapi nggak pernah nyampe. Sampai aku pernah hampir frustasi gara-gara kimia," Kevin tidak menyangka Cellyn adalah gadis riang yang terlalu polos untuk dijadikan sasarannya. Teringat lagi akan tujuan sebelumnya, Kevin terpaksa harus memilih gadis ini untuk menjadi korbannya demi Rain. Kevin sesegera mungkin akan menuntaskan.

"Gimana kalau kamu privat kimia sama aku. Gratis, kamu bayarnya cuma janji aja nggak akan pergi ninggalin aku."

"Yeh itu namanya nggak gratis. Tapi- yaudah deh aku mau. Di rumah aku ya."

"Oke," percakapan singkat itu harus berakhir karena bel masuk. Cellyn kembali ke kelasnya dengan senyum mengembang. Kevin kembali ke kelasnya dengan wajah muram, dia bukan aktor yang baik juga tidak terlalu buruk.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!