Bonus Part : Bittersweet

1.3K 49 9

Cloudy : Dri, kamu dimana? Jadi jemput aku? (Read)

Perempuan berbaju biru navy itu menghela nafas sekali lagi ketika melihat pesan yang dikirimnya setengah jam lalu belum juga mendapat balasan. Ia lantas membuka ikatan rambutnya yang sudah mengendur, sebelum menyandarkan tubuhnya pada tiang penyangga halte kampusnya.

Adrian Keenan Althaf : Sori sori tadi aku keasikan ngobrol sm Devina

Adrian Keenan Althaf : Masa ternyata dia junior aku di kampus

Adrian Keenan Althaf : Dunia sempit bgt ya haha

Cloudy mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Dadanya terasa sesak seketika, seperti ada benda berat yang menghimpit dari sisi kanan dan kirinya. Adrian menjadi lebih cuek dan lebih tidak perduli pada Cloudy dalam beberapa minggu terakhir ini.

Kejadian hari ini belum ada apa-apanya dibanding kejadian di hari anniversary mereka bulan lalu. Waktu itu, mereka hendak merayakan hari jadi mereka yang ketiga, namun ketika Cloudy sudah rapi dengan balutan gaun malamnya, Adrian malah ketiduran hingga keesokan paginya.

Cloudy menyampirkan tali totebag-nya di bahu kanan usai mengambil masker wajah dan kartu commuter line. Ia berlari kecil saat pemberitahuan kereta jurusan Tanah Abang sudah menggema di speaker stasiun. Matanya memanas, tapi karena keadaan di dalam kereta yang sangat berdesakkan, mau tidak mau perempuan berambut cokelat itu menahan tangisnya mati-matian.

Kali ini Adrian sudah keterlaluan.

-----

"Benayaaa, Aunty Ody kangeeen!"

Rasa lelah dan amarah Cloudy meluap seketika saat Benaya menyambutnya di ambang pintu bersama Ibu Adrian. Anak lelaki berumur dua tahun itu merupakan anak pertama dari Senna –Kakak Adrian– dan sahabat terdekat Adrian, Reuben. Cloudy sangat terkejut saat Ben mengatakan kalau ia akan menikahi Senna, sebab yang ia tahu keduanya selalu bertengkar tiap kali bertemu. Tapi di satu sisi, Cloudy lega Senna berakhir dengan lelaki seperti Ben, dan bukan dengan lelaki yang wanita itu sering temui di club.

"Dy, kamu istirahat dulu aja ya." Andina –Ibu Adrian– mengusap lembut wajah Cloudy. "Acaranya juga masih jam tujuh nanti. Kasian, kamu keliatannya capek banget."

"Iya, Ma," ujar Cloudy seraya tersenyum simpul.

Andina melongokan kepalanya ke arah belakang Cloudy, kemudian mengernyit heran saat menyadari ketidakhadiran anak bungsunya. "Loh kamu nggak bareng Adri pulangnya?"

Cloudy menggeleng lemah. "Nggak, Ma. Tadi Cloudy pulang naik kereta, Adri masih ada urusan di kampus katanya," jawabnya tak sepenuhnya jujur.

"Ooh." Andina mengangguk paham. "Nanti kalo kamu mau tidur di kamar Adri aja ya Dy, soalnya AC kamar tamu lagi rusak."

"Iya, Ma. Cloudy ke atas dulu ya," ujar Cloudy kemudian berjalan menaiki anak tangga.

Usai membersihkan make up dan mandi, Cloudy mengenakan kaus longgar berwarna hitam dan celana pendek warna abu-abu yang sebelumnya ia ambil di lemari Adrian. Ia baru menyadari kalau ia hanya membawa pakaian formal sesaat setelah ia selesai mandi.

Cloudy mengisi daya baterai ponselnya menggunakan charger milik Adrian, sebelum merebahkan tubuhnya di tempat tidur milik laki-laki itu. Lantas ia mengangkat tangan kirinya untuk sekadar melihat cincin yang melekat sempurna di jari manisnya. Mendadak perkataan Adrian kala melamarnya dulu melintas di pikirannya.

Saya janji, nggak akan membuat Cloudy menunggu terlalu lama.

Sontak setetes air mata mengalir di pipi perempuan itu. Sudah tiga tahun lamanya ia menunggu, namun Adrian masih memintanya untuk menunggu lebih lama lagi. Sampai kapan lebih tepatnya ia harus menunggu? Satu tahun? Sepuluh tahun? Atau bahkan seumur hidupnya?

Only One [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!