IGD – 09.57 PM

"Tolong ambil darah di bed 3 ya, terus kirim ke lab. Ini form-nya," April memberikkan secarik kertas laboratorium kepada seorang koas yang mengikutinya hari ini.

"Udah malem, masih semangat, Qil?" Bima yang baru datang- setelah makan di Masto, langsung kembali ke IGD dan segera menghampiri April.

"I'm just being April," April melihat rekannya dan tersenyum. Bima terlihat tampan, seperti biasanya. Mungkin bagi sebagian orang akan mengira bahwa dia adalah keturunan Belanda atau negara Eropa lainnya. Tapi percayalah, dia cuma seorang Abimanyu yang asli keturunan Jakarta-Padang. Satu keluarga itu emang mukanya terkenal beragam. Banyak yang bilang Bima mirip orang Belanda, Jerman, Korea, sampai Arab pun pernah. Emang muka Bima kaya bola dunia mungkin ya.

"Life's good lately?" Bima melihat ke arah sahabatnya. Walaupun udah temenan berapa tahun, Bima masih belum bisa menebak mood cewek didepannya. Terlalu datar atau terlalu heboh.

"Yes," April melirik sekilas ke arah Bima. Muka-muka yang sebentar lagi akan-

"Oi," Kaisar datang dan mengacak-acak rambut April. Mukanya kusut, bajunya berantakan. Muka-muka bangun tidur terlihat jelas.

"Udah bangun, pangeran?"

"Hehe," Kaisar tersenyum. "Tidur 30 menit asal gak ada yang ganggu udah paling nikmaaaat!"

"D-dok?" Salah satu koas memanggil tiga residen yang berjaga malam ini.

"Apaan nih?" Kaisar membalas panggilan dan menerima status yang diberikan oleh koas tersebut. Kebiasaan Kaisar yang jutek sudah terkenal di RSPD, sampai koas pun terlihat enggan untuk mendekati Kaisar.

"Pa...pasien baru dok,"

"Bed berapa, dek?"

"Bed 2, dok."

Koas tersebut melaporkan dengan lengkap pasien yang baru saja dia periksa, agar nanti Kaisar hanya tinggal konfirmasi dan segera memberi terapi untuk pasien tersebut. Padahal malam ini baru pukul 9 malam namun bed IGD sudah penuh dengan pasien. Kaisar tidak heran, karena sejak kapan IGD sepi? Sepertinya tidak akan pernah.

"Dok, pasien baru di ruang trauma. Sepertinya pasien dengan intoksikasi alkohol,"

April menggangguk. Bima dan Kaisar saling heran melihat semangat April, biasanya, dia paling tidak suka pasien dengan intoksikasi alkohol. Terlebih apabila pasiennya seorang remaja laki-laki.

"Biar sama gue aja," cela Bima. "Bukannya lo gak suka pasien intoksikasi?"

April tidak membalas, matanya tertuju pada nama pasien yang tertulis di status tersebut.

Armand Yeremia Dimitri.

"I-ini...Cal—"

"Shit." Kaisar dengan segera merebut status tersebut dan bergegas menuju ruang trauma.

"Kaisar!" April dan Bima menyusul Kaisar. Mereka tidak ingin membuat keributan malam ini.

Kaisar membuka tirai yang menutupi salah satu bed. Seorang pria tergeletak lemas dengan baju berantakan dan bau alkohol yang sangat menyengat. Kaisar menatap benci pria tersebut.

"As expected," Kaisar hanya tersenyum sarkastik, melihat pria lemah yang setengah sadar itu. Pria itu hanya bisa mengerang, dan meracau tidak jelas. "Berapa botol malam ini, Bung?"

Pasien tersebut membuka matanya, melihat ke arah Kaisar. "Kaisar..my one and only son..." Omongannya kacau namun masih dapat dimengerti.

"I'm not your son"

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!