Chapter 23 : Surprise Untuk Reina

583 54 4

Terimakasih sudah hadir disetiap detik dalam hidupku, semuanya.

Hari itu, tepat sehari setelah Reina berulang tahun, harus Reina nobatkan sebagai hari paling boros dihidupnya. Mentraktir kawan sekelasnya di kantin sekolah, memberikan 'Pajak Ultah' kepada teman-temannya yang lain saat ia dipalak. Belum lagi ditambah teman-teman Alvan yang ikut meminta 'Pajak Ultah' tersebut.

Astaga, hari ini akan jadi hari berat Reina. Ditambah lagi, saat pulang sekolah, Reina dikejutkan oleh Aura yang datang kepadanya dengan wajah panik. Lantas, kening Reina berkerut. Ia bertanya dalam hatinya. Ada apa dengan temannya ini?

"Kenapa sih, Ra?" tanya Reina kemudian.

Aura menepuk-nepuk pundak Reina. "Rei, lo mau tahu sesuatu gak? Penting!" katanya dengan nada serius.

Lantas, Reina hanya mengangguk. Mempersilahkan Aura untuk menceritakan hal apa yang ingin ia ceritakan saat itu.

"Jadi gini, tadi, gue ngobrol gitu sama Alvan. Terus intinya, dia tuh kesel banget sama lo. Makannya dari kemarin dia cuek banget di chat sama lo. Itu karena dia marah sama lo. Nah, katanya, hari ini dia mau ketemu sama lo. Mau ngomong sesuatu gitu." jelas Aura yang membuat Reina terdiam. "Mending, lo ke kelas gue aja deh buat ketemu orangnya!" kata Aura lagi.

Reina menggeleng enggan. Dia enggan bertemu Alvan. Rasa takut mulai menjalar pada tubuhnya. Detak jantungnya mulai tidak karuan.

Astaga, ada apa?

Terlihat Aura mendecak. Kemudian, ia berjalan memasuki kelasnya. Berkata ingin bertemu Alvan. Hingga beberapa menit kemudian, ia kembali lagi ke hadapan Reina.

"Rei, jangan buat Alvan makin marah. Temuin dia. Posisinya kan lo yang bikin dia marah." kata Aura seraya menarik tangan Reina untuk pergi namun Reina tetap menahan tubuhnya untuk tetap berdiri disitu.

"YaAllah, Ra, gue salah apaan sih?"

"Ya mana gue tahu! Terserah lo deh mau ikut gue buat ketemu Alvan apa nggak! Gue gak peduli kalo ntar lo berdua ribut!" kata Aura dengan tegasnya seraya berbalik badan.

"Ra," panggil Reina dengan pelan. "Oke, Alvan dimana sekarang?" katanya mengalah.

Tiba-tiba, senyuman Aura merekah begitu saja. Entah apa yang terjadi. Aura langsung saja menarik lengan Reina dengan kuatnya ke arah kelasnya. Walau sesekali Reina menahan langkahnya karena enggan masuk ke dalam kelas Alvan.

"Pokoknya nanti jangan nangis." ucap Aura lagi.

Sesampainya dipintu kelas, jantung Reina seakan berhenti sejenak. Terpaku dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Matanya mengerjap berkali-kali meyakinkan kalau penglihatannya tidak akan salah lihat.

Alvan tengah tersenyum di depan pintu kelasnya sambil membawa kue ulang tahun berhias tulisan 'Happy Birthday Reina' dan empat buat lilin kecil.

Dibelakang Alvan, berdiri Ninda, teman-teman Reina yang lain serta teman-teman Alvan yang turut meramaikan suasana.

Saat itu, Reina bingung harus ngapain. Perasaan deg-deg an, kaget dan senang bercampur aduk jadi satu. Yang ada, dirinya malah ingin menangis karena kejutan itu.

"Van, ucapin dong wish-nya!" kata temannya Alvan yang terlihat sangat senang.

Alvan diam sejenak. Kemudian menatap Reina namun Reina enggan menatapnya balik. Sudah, tolong, Reina gak mau makin deg-deg an setelah liat matanya Alvan.

"Udah ngucapin.." balasnya pelan.

"Ya ucapin lagi lah!"

Alvan kemudian menatap temannya dengan tatapan kesal. Tetapi kemudian, ia kembali menatap Reina dan mengucapkan harapannya. "Semoga panjang umur, sehat selalu.."

Intuisi [ Completed ]Baca cerita ini secara GRATIS!