Part 4

33 6 6



Happy Reading!

Nine Years Ago...

Kalila berjalan dengan kepala tertunduk, ia tidak pernah suka dengan bangku sekolah setelah kejadian naas yang menimpanya setahun lalu. Kalau bukan karena bujukan Aditya dan Dewa, ia mungkin tidak akan pernah melanjutkan sekolahnya. Ia tidak suka bertemu dengan banyak orang, bertemu dengan banyak orang membuatnya selalu merasa tak aman. Dewa mengatakan ia harus bisa bangkit dari keterpurukannya dan melawan semua ketakutannya. Dewa memang benar tapi bagi Kalila itu adalah hal yang paling sulit.

"Hei dek, wajah kamu jelek sekali." Sebuah suara mengintrupsi lamunan Kalila .

Kalila mengangkat kepalanya, matanya berbinar seketika. "Kak Dewa?!" ucapnya dengan senang. Terlampau senang malah. Dewa tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada gerbang sekolah. Pria itu sedang menatap dirinya.

Kalila lantas berjalan mendekati Dewa. Dewa menegakan tubuhnya dan berjalan menghampiri Kalila juga.

"Kenapa? Kamu gak suka sekolah ini?" tanya Dewa .

"Engga... Bukan! Aku suka sama sekolah ini kok, sekolah ini lebih baik dari sekolahku yang dulu." Ucap Kalila cepat, ia tidak ingin menyusahkan Dewa dan Aditya lagi. Sudah cukup kedua pria itu kesusahan mengurusinya setahun belakangan ini. Ia hanya harus bertahan di sekolah ini sampai kelulusannya.

"Bagus deh, kamu harus sekolah terus jadi gadis yang pintar. Kamu gak boleh kayak aku dan Aditya." Ucap Dewa .

"Iya Kak..." Kalila menganggukan kepalanya dan tersenyum simpul. Dewa selalu menjaganya. Kalila tak mengerti mengapa ada orang seperti Dewa di dunia ini. Mereka tak punya hubungan sebelumnya atau pun ikatan darah tetapi pria itu selalu menjaganya dengan setulus hati. Bagi Kalila tak ada orang yang lebih penting lagi di dunia ini selain Dewa dan Aditya . Jadi sebisa mungkin ia tak akan menyakiti atau pun menyusahkan Dewa dan Aditya lagi.

"Kenapa kakak di sini?" tanya Kalila.

"Aku juga gak tau, aku tadi hanya ingin jemput kamu aja. Aku pikir mungkin kita makan siang di pasar aja karena Aditya baru aja ngehancurin dapur rumah." Ucap Dewa.

Kalila tertawa pelan. "Kak Adit emang suka ngerusak. Kalila juga udah lapa, yuuk!" ucap Kalila lalu berjalan meninggalkan Dewa. Perasaan sedihnya seketika hilang begitu melihat Dewa berdiri di gerbang sekolahnya. Kalau boleh memilih, ia ingin bekerja saja seperti Dewa dan Aditya. Itu mungkin lebih baik dari pada menjalani kehidupan normal seperti gadis-gadis seusianya.

"Tunggu Kal!" teriak Dewa pada Kalila, ia berjalan dengan senyum di bibirnya. Sejujurnya ia datang dan menjemput Kalila hari ini untuk memastikan sesuatu tidak terjadi pada gadis itu. Dewa tahu Kalila belum terbiasa dengan lingkungan barunya ini, Kalila baru beberapa hari kembali bersekolah setelah setahun lebih hanya berdiam diri di rumahnya. Ia khawatir gadis itu mengalami kesulitan atau mungkin tak bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya ini. Tapi tampaknya gadis itu baik-baik saja.

****

Bee Florist

10.05 AM

Dewa melepas pagutannya pada bibir Kalila, pria itu menatap wajah Kalila dalam. Bola matanya bergerak menatap dahi, hidung, lalu bibir yang baru saja ia kecup. Gadis itu masih memejamkan matanya. Dewa lalu tersenyum simpul.

Kalila membuka matanya dan menatap Dewa dengan kikuk. Gadis itu seketika tanpa alasan yang jelas menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk seolah tengah mencari sesuatu.

Never Be The SameBaca cerita ini secara GRATIS!