Sexy? Lumayan.

Gadis itu keluar dari kamar lalu berjalan ke ruang tengah. Di sana ia bisa melihat Landon yang sudah siap dengan kaus hitam dan celana biru selutut. Bisa sama gitu yah warna bajunya?

Mungkin dah takdir. Pikir Landon.

"Kenapa? Tergiur liat badan gue yang wow?" Kata Werlyn tanpa menoleh ke Landon lalu berjalan melewatinya ke arah dapur untuk mengambil air.

"Najis, tepos gitu bangga." Balas Landon tapi dalam hati ia menginginkan tubuhnya. Mungkin semalam memang bukan malam yang pas, ia akan melakukannya sekali lagi malam ini atau mungkin nanti. Lihat saja nanti.

"Bahasa gue tuh, by the way any way busway, hari ini kita mau kemana?" Tanya Werlyn setelah selesai meminum airnya.

"Panjang banget bang, kita hari ini mau ke suatu tempat yang gue tau lo pasti suka."

"Terserah gue bang mau ngomong sepanjang apa, tapi okelah ayo capcus."

"Kita pergi makan dulu, gue udah booking tempat tadi." Kata Landon lalu menarik tangan Werlyn keluar suites room itu dan pergi ke tempat yang di maksud.
.
.
.
Dengan pemandangan paparan pantai Kuta, Kedua insan atau lebih tepatnya pasangan terpaksa? Duduk dengan makanan yang sebelumnya sudah mereka pesan.

Werlyn mengambil benda kecil berbentuk kotak dan memfoto makanan itu lalu memasukkannya ke instastory miliknya. Landon hanya tersenyum kecil melihat kelakuan anak jaman sekarang yang apapun harus di foto dan menyebarkannya di social media.

"Perlu apa harus di foto dulu?"

"Ya suka-suka gue dong, hape-hape gue juga." Balas Werlyn dengan kesalnya lalu memilih menyantap makanannya.

Landon hanya menggelengkan kepalanya dan sesekali berdecak.

Akhirnya beberapa lama kemudian mereka selesai menyantap sarapannya dan lalu pergi setelah membayarnya. Tempat tujuan mereka selanjutnya adalah tempat yang terkenal dan ramai di kunjungi.
.
.
.
Tidak di rasa hari semakin gelap, mereka sekarang sudah berada di mobil. Werlyn sudah terlelap karena terlalu lelah dan Landon, ia ingin membawanya ke sebuah pantai.

Gadis itu terbangun saat merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya, ia keluar dari mobil dan mengikuti lelaki itu ke pantai.

"Sebentar lagi Sunset kan?" Tanya Werlyn ke lelaki itu dengan senyuman di wajahnya.

Lelaki itu mengangguk sembari tersenyum, ia ingin setiap hari melihat wajah senangnya itu, tapi itu jarang karena gadis itu bahkan tidak suka dengannya.

Mungkin gadis lain akan sangat gampang untuk di dapatkan tapi untuk yang kali ini sangat susah, gadis ini sangat langka.

"Tolong fotoin dong." Kata Werlyn dengan senyumannya dan memberikan benda kotak kecil itu ke Landon. Gadis itu berlari menjauh dari Landon dan lalu berpose. Landon memfotonya.

"Jelek banget sih, ulang lagi." Gerutu Werlyn saat melihat hasil fotonya.

"Kalau dah jelek yah terima aja lah." Balas Landon yang langsung mendapat tatapan tajam dari Werlyn.

"Ya iya, sini gue foto." Kata Landon sembari menyeringai.

Cekrek!

"Nih." Ucap Landon sembari memberikan handphone Werlyn. Gadis itu mengambilnya lalu melihat hasil fotonya sembari tersenyum kesal.

Tiba-tiba Landon menarik tangan Werlyn untuk duduk di pasir sembari menunggu matahari tenggelam. Gadis itu masih fokus dengan handphonenya dan langsung saja Landon mengambil handphone itu lalu foto diri sendiri. Ralat. Foto sama Werlyn.

Werlyn terima aja karena ia lagi gak mau merusak momen.

"Kirim fotonya yah." Kata Landon sembari mengusap rambut Werlyn dengan lembut. Werlyn langsung merasakan sesuatu pada perasaannya, itu apa?

"Jangan baper cuman karena gue ngusap rambut lo." Tambah Landon dengan senyuman manisnya itu.

Diam.

Diam.

Diam.

Canggung.

Werlyn menutup handphonenya itu setelah mengirimkan fotonya lalu menatap matahari yang mulai tenggelam. Ada rasa senang saat bisa melihat pemandangan yang indah ini, namun juga kecanggungan yang tidak ia sukai.

"Werlyn..."

"Ya?"

"Mungkin gue gak pernah cerita ini ke orang lain, tapi gue pengen banget lo tau."

Werlyn menaikkan alisnya dan menatap bingung.

"Gue dulu punya teman kecil, gue sayang sama dia, bahkan pernah jatuh cinta sama dia, tapi...karena kejadian itu, dia mengalami amnesia jangka panjang dan memori dia tentang gue itu semua hilang."

"Ya ter-" kata Werlyn terpotong karena Landon. Suara lelaki itu seperti sedih.

"Dengerin gue dulu." Katanya.

"Belum lagi setelah kejadian itu, Keluarga temen gue itu pindah ke daerah lain dan kami lost contact. Biasanya temen gue itu gue sering panggil dengan Muffin, karena temen gue itu suka banget sama namanya Muffin." Kata Landon lalu menatap kedepan dengan lanar, sesekali itu tertawa kecil yang bernada sedih.

Oh ternyata lelaki seperti dia memiliki kisah yang sedih juga. Tapi...kenapa nama panggilan temannya itu tidak asing di pendengaran gue yah? Pikir Werlyn.

<•~•>
Kalau vote dan commentnya banyak cepet update ;)

2017.10.09

CLOSE STRANGER (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang