Arti ⬆: Pelukan Kesedihan
⚠ Awas baper akut.. ⚠⚠
Vote&komentar, ya.. Jangan lupeu tau! 😉😉 ❗❗❗

----------
"Luka di hatiku memang tak kentara, tapi siapa pun bisa melihatnya lewat tatapan mataku dan luruhnya air mata."
----------
Soundtrack:
🔊 Sampai Menutup Mata - Acha Septriasa
Lumpuhkan Ingatanku - Geisha

***

Pukul 08.00 WIB. Fajar tak terbit di ufuk timur. Sinarnya bagai hilang dilahap awan hitam. Kehangatannya pun tak terasa di pagi ini. Buatku meringkuk kedinginan bersama sepi.

Dedaunan pun meliuk-liuk di rantingnya, akibat ulah sang pawana yang berdesauan. Sementara, aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Pikiranku mengelana, hatiku merana, dan aku merasa begitu hampa.

Hampa.

"Ini adalah hari pertama aku tanpamu. Aku pun sadar bahwa mulai detik ini aku takkan melihat senyumanmu lagi.

Tak terbayangkan perih di hati ini. Tak terhitung lagi rindu yang merimbun dalam sanubari. Dan aku semakin terjebak dalam sepi yang begitu menyayat hati.

Tapi kau tak jua datang 'tuk tawarkan genggaman ataupun pelukan. Karena kau telah pergi, tinggalkan kenangan yang sangat berarti.

Sampai saat ini, aku masih belum yakin bahwa aku telah kehilanganmu. Tapi saat aku terbangun dari tidurku, akhirnya kusadar bahwa ini benar-benar nyata.

Duhai kamu yang telah pergi.... Terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini, terima kasih atas ilmu-ilmu yang telah kau bagi padaku, thanks for everything.

Kepada sahabatku yang telah pergi,
I miss you...

Dariku yang tenggelam dalam sunyi."

Kutuliskan kata-kata yang berasal dari lubuk hatiku terdalam. Hasil tarian penaku tadi, kini menjadi sebuah prosa tersedih yang pernah kubuat seumur hidupku. Ya, sekaligus catatan termuram dalam kisah hidupku.

Ternyata aku benar-benar telah kehilanganmu. Tak ada sandiwara dan rekayasa semesta. Ini nyata.

'Andai saja kau tahu bahwa kehilanganmu membuatku lupa bagaimana rasanya bahagia.'  Aku berkata dalam hati. Tanganku menggenggam pigura yang membingkai fotoku bersama Adam. Tanpa kusadari, bulir-bulir kesedihan pun luruh dan menganak-pinak di sudut-sudut mataku.

Aku memeluk foto itu erat-erat, seakan-akan mampu mengobati kerinduanku pada sahabatku, Adam. Kemudian kuletakkan pigura itu di atas nakas yang berada di sebelah kasurku. Tatapanku pun mengedar ke seluruh penjuru istanaku; kamar.

Di istanaku ini, ada begitu banyak barang-barang yang membuatku teringat pada Almarhum Adam---seperti jar, kotak musik berbentuk piano, galeri foto pada dinding, boneka panda, snow globe, dan kertas origami berbentuk bangau yang menggelantung di jendela kamar.

"Origami itu---" Iris mataku tertuju pada origami yang tampak bergerak-gerak di atas sana. Jendela kamarku sengaja kubuka agar udara segar masuk dan dapat kuhirup. Aku menghela napas panjang, lalu berjalan ke arah jendela.

Aku berdiri di sana seraya menyentuh origami-origami itu. Aku tersenyum getir. Hatiku berdesir hebat. Entah mengapa dadaku tiba-tiba saja terasa sesak. Jantungku pun serasa akan meledak.

🔄
"Udah, jangan nangis lagi, Lea.... Nothing's to be worried. Semuanya pasti akan baik-baik aja kok. Percayalah! Allah itu selalu ada dan mengawasi semua hamba-Nya, bahkan seluruh manusia," tutur Adam waktu itu---saat aku gagal menjalankan tugasku pada satu acara OSIS.

Saat itu, aku kepergok tengah menyendiri dan terisak pelan. Ia pun langsung menghampiriku dan berusaha menenangkanku dengan kata-kata bijaknya.

"Tapi aku ngerasa bersalah banget, Dam.... Mereka pasti kecewa banget sama aku, mungkin aja benci---" Aku kehabisan kata-kata untuk membuat Adam mengerti.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!