5

636 18 0

"Kepercayaan seseorang bukanlah sesuatu yang bisa seenaknya disiakan."

                                ^^^^

       Naila mengetuk pintu ruangan Aldan, tak butuh waktu lama dia mendapat izin 'masuk' dari Aldan. Dengan senyum mengembang Naila menghampiri meja Aldan dan menyimpan sesuatu disana. Aldan sendiri tengah sibuk dengan beberapa laporan yang menumpuk di meja, jadi tidak terlalu memperhatikan benda apa yang Naila taruh.

       "Ada apa, apa ada hal penting?" Aldan bertanya masih sambil mengamati laporan yang ada dihadapannya dengan serius.

       "Tentu saja penting, amat penting malah." jawab Naila penuh semangat. Aldan sampai mengangkat wajahnya karena ingin tahu.

       "Pasti sangat serius sampai kamu berkata seperti itu. Ada apa, apa perusahaan mengalami masalah?" pikir Aldan cepat.

       Ekspresi Naila berubah kecewa mengetahui Aldan tak ingat hari besar yang akan diselenggarakannya, "Kenapa yang ada di kepalamu itu cuma masalah kantor, sih!" gerutunya penuh kekesalan.

       "Jadi ada apa? Bicaranya yang benar, aku sedang banyak pekerjaan yang perlu aku selesaikan." ujar Aldan menekankan sambil menunjuk laporan-laporan yang perlu diperiksanya.

       Naila menggeleng tak percaya, "Lihat ini!" dia terpaksa harus menunjukkan undangan yang sempat dia simpan di meja untuk menjelaskan niatnya.

       "Aah ... ya," melihat itu Aldan langsung terkejut, dia segera menghampiri dan mengambil undangan untuknya dari tangan Naila lalu merangkulnya. "Maaf, Naila. Aku sebenarnya ingat, tapi urusan kantor yang bikin pusing buat aku sedikit kurang fokus. Aku masih ingat kapan kamu akan mulai cuti, kok." Aldan mulai beralasan.

       "Hmmm... terserah kau saja. Jangan lupa untuk hadir, ingat!" Naila sangat serius, Aldan harus datang di pesta pernikahannya.

       Aldan mengiyakan dengan isyarat 'oke' menggunakan tangannya, sambil tersenyum. "Mulai besok kamu tidak akan masuk, kan?"

       "Iya, makanya aku memberimu undangan hari ini. Yang lain sudah mendapat undangan mereka, karena kamu yang paling spesial jadi aku sangat berharap kamu datang. Ingat, jangan lupa!" Naila kembali mengingatkan sebelum keluar dari ruangan Aldan.

       Setelah Naila pergi, Aldan memperhatikan undangannya. "Undangannya lumayan!" gumamnya.

       Aldan membuka undangannya, melihat sekilas pada nama calon pengantin yang tertera di undangan itu. Tanpa sadar, dia mulai berpikir kalau tertera namanya disana dan nama pasangannya kosong, namun entah kenapa tiba - tiba tertulis nama Asya disana. "Ah..kenapa aku bisa membayangkan hal seperti itu!" Aldan sangat bingung dengan pikirannya.

       Tak mau semakin tidak jelas, dia segera menutup undangan dan menyimpannya di meja, lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat teralihkan.

                               ****

       Hari ini, Ibu tidak bisa menjaga toko, jadi aku yang menggantikannya menjaga dari pagi hingga sore. Sebenarnya aku ingin merawat ibu saja dan menutup toko sehari ini, tapi ibu melarang. Dia bilang, aku tak perlu menjaganya karena dia masih bisa melakukan semuanya sendiri.

       Pulang sore cukup menyenangkan, aku bisa melihat matahari terbenam sambil berjalan pulang. Setiap melihat matahari terbenam aku selalu ingat Putera. 'Apa yang tengah dia lakukan hari ini? Apakah dia baik - baik saja disana? Apa dia masih belum bisa menemuiku? Kapan dia akan kembali?' bahkan masih banyak pertanyaan lain yang ingin kutahu jawabannya, tapi sayang hanya angin yang menjawabnya.

       Aku telah bertemu pria itu, yang kuingat namanya adalah Aldan. Pertemuan pertamaku dengan Aldan tidaklah cukup membuatku bisa mengenalnya, apalagi mengingat kalau dia ternyata telah memiliki kekasih dan memintaku untuk mundur teratur. Sejujurnya, aku ingin melakukan itu. Tapi aku tidak bisa, jadi aku terpaksa bersikap seakan-akan aku adalah wanita perebut kekasih orang. Mau bagaimana lagi?

       Masih dengan pikiran yang beterbangan tak jelas, telepon genggamku tiba-tiba berbunyi dan untuk kedua kalinya dari nomor baru yang tak kukenal. Kusapa lebih dahulu dan suara wanita-lah yang terdengar jelas.

       "Ini tante Yuli, kamu ingat!" ujarnya. Aku langsung ingat ibu Aldan, tapi ada keperluan apa beliau menelponku?

                               ****

       Asya sampai di rumah dengan nafas tak beraturan, kakinya sangat lemas harus berjalan terburu-buru karena mendapat telepon dari tante Yuli 'mama Aldan'.

       Hal pertama yang dilihatnya setelah masuk rumah adalah ibunya dan tante Yuli yang tengah bercengkrama, padahal tadi tante Yuli telah membuat jantung Asya seperti akan jatuh dari tempatnya.

       'Asya, ibumu harus dibawa ke rumah sakit. Cepat pulang, kami akan menunggumu!' Asya mulai menggerutu dalam hati mengingat ucapan tante Yuli, dia benar - benar telah tertipu.

       Asya menghampiri keduanya, tak lupa disertai senyuman termanis yang bisa dia lakukan.

       "Eh, Asya sudah pulang!" seru tante Yuli tanpa rasa bersalah.

       "Ibu senang kamu pulang cepat." ibu Asya tahu kalau putrinya itu pasti akan kesal, jadi dengan halus dia menarik Asya untuk duduk disampingnya, "Ibu sengaja meminta tante Yuli berbohong padamu, soalnya ibu sangat khawatir kalau kamu selalu sampai setelah hari mulai gelap." ujarnya jujur.

       'Ah, sudah kuduga. Karena hal ini, aku jadi tidak bisa menikmati matahari terbenam. Ibu memang pintar.' gerutu Asya dalam hati.

       "Kamu tidak marah kan, Asya?" tanya tante Yuli, dia merasa tidak enak pada Asya.

       "Tidak apa - apa tante." Asya tidak mungkin bilang kalau sebenarnya dia sangat kesal, apalagi setelah mengetahui itu ulah ibunya.

       Asya kembali menjadi pajangan setelah ibunya dan tante Yuli mulai membicarakan hal yang khas ibu-ibu. Asya sudah tidak bisa menghitung berapa gerakan tak nyaman yang telah dia gunakan, agar kedua wanita yang tengah berbincang itu memperbolehkan dia pergi. Tapi, entah karena tak sadar atau memang sengaja, mereka terus saja sibuk mengobrol tanpa memperdulikan keberadaan Asya.

       Tak lama, seseorang datang. Yah, Aldan sengaja datang untuk menjemput sang mama pulang. Dari ekspresi yang dia tunjukkan, Asya tahu kalau Aldan tidak dalam keadaan yang baik.

       "Mama kan punya supir. Aku capek hari ini, malah disuruh ngejemput segala lagi!" Tidak seperti Asya, Aldan tak segan untuk menggerutu kesal karena ulah mamanya. Semua yang ada disana mendengar jelas gerutuan Aldan.

       Tante Yuli terlihat tidak enak dengan ulah Aldan di depan ibu Asya dan Asya. Dengan cepat dia menghampiri Aldan dan melayangkan cubitan yang cukup menyakitkan di pinggang Aldan. Tentu saja Aldan mengaduh kesakitan, "Kamu tuh bikin malu aja, ya!" bisiknya.

       Asya yang melihat itu menahan tawa, hal yang selama ini tak pernah dia lakukan. Ibu Asya justru tidak begitu banyak berekspresi.

       "Kalau begitu, kami pamit dulu." ujar mama Aldan cepat.

       "Kenapa buru-buru?" tanya ibu Asya, "Aldan bahkan belum duduk sama sekali."

       "Tidak usah, dia memang datang untuk menjemputku. Kami harus pulang sebelum papa Aldan pulang!" mama Aldan beralasan.

       Sekilas Aldan dan Asya sempat bertukar pandang sebelum Aldan benar-benar melajukan mobilnya pergi, tapi tak ada ekspresi apapun yang bisa mereka tunjukkan.

My ChoiceBaca cerita ini secara GRATIS!