Chapter 3 - Sometimes, You Have To Pretend That Everything Is Okay

772 8 0

Menjelaskan kepada Sophie perihal kematian ibunya sangat menguras tenaga dan pikiran Aleena di awal-awal pernikahannya. Fakta bahwa ibunya tidak pernah lagi muncul di hadapannya, juga kehadiran bunda kecilnya yang tiba-tiba saja selalu berada di sisinya setiap saat membuat gadis kecil itu sering sekali bertanya-tanya. Rentetan pertanyaan itu kemudian akan berakhir dengan tangisan dan rengekan. Maka hanya Aleenalah yang harus menjelaskan dan menenangkannya, karena Faiz seperti biasa, akan menghabiskan harinya di rumah sakit, lalu pulang saat tengah malam atau dini hari. Saat pulang, dia hanya akan mengecek keadaan Sophie dan Salif, sebelum kembali mengurung diri di ruang kerjanya. Ruangan yang sudah sebulan ini juga menjadi kamar tidurnya.

Karena semenjak mereka menikah, mereka tidak pernah tidur di kamar tidur yang sama.

Sehabis sarapan, Aleena sibuk mengurus bekal dan peralatan sekolah Sophie, sementara Faiz kembali masuk ke dalam ruang kerjanya, bersiap untuk berangkat kerja sekalian mengantar Sophie ke Playgroup.

"Kami berangkat dulu," ucapnya datar ketika keluar rumah. "Hati-hati," balas Aleena dengan singkat, kemudian ikut berjalan ke garasi dan membantu menaikkan Sophie ke dalam mobil.

Sambil memanaskan mobil, Faiz terlihat mengecek smartphonenya , sementara Sophie dengan semangat melambai-lambaikan tangannya dari dalam mobil. Aleena membalas lambaiannya dengan senyum lebar. "Nanti bunda kecil jemput Sophie ya?" celotehnya terdengar ketika jendela mobil terbuka. "Pasti sayang. Nanti bunda kecil datang sama Salif," balasnya sembari tersenyum. Aleena lalu berpaling dan memandang Faiz yang masih sibuk dengan smartphone miliknya. Ia mendekat dengan sedikit ragu tapi kemudian dengan kaku mengetuk kaca jendelanya.

"Kenapa?"

Faiz meliriknya sebentar sebelum kembali berpaling, kembali mengutak atik smartphone miliknya.

"Aku boleh ngajak anak-anak ke Mall ga kak? Ada beberapa hal yang perlu aku beli. Stok kebutuhan sehari-hari juga sudah mulai menipis," ujarnya cepat, Faiz tak suka berbasa-basi dan Aleena pun mengikut dengan hanya berbicara seperlunya.

"Oh. Boleh,"  jawabnya singkat. Aleena langsung menarik nafas lega ketika suara Faiz kembali terdengar, "Tapi ajak Mbak Indah juga. Sophie biasa suka nakal kalau lagi ke mall." 

Mbak Indah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja dirumah ini semenjak kakaknya menikah dengan Faiz tujuh tahun yang lalu, adalah salah satu alasan Aleena bisa bertahan dengan pekerjaan barunya sebagai istri dan ibu. Ia hanya perlu mengurus Sophie dan Salif, sedangkan pekerjaan rumah tangga lainnya dikerjakan oleh mbak Indah. Maka Aleena pun hanya menggangguk ssembari mengiyakan.

Tangisan Salif kemudian terdengar. Aleena buru-buru melambai pada Sophie sekali lagi dan bergegas menuju kamarnya. Bayi kecil yang baru akan berusia tujuh bulan minggu depan itu menangis sembari menggeliat di dalam keranjang bayinya. Gigi pertamanya baru saja tumbuh, membuatnya semakin rewel dan sering bad mood. Aleena meraih Salif ke dalam gendongannya dan mulai menimang-nimang, sementara tangan kanannya sibuk membuat susu formula. Si kecil langsung diam begitu mendapatkan botol susunya, dan Aleena menggunakan waktu diamnya untuk mengganti popok basahnya.

Rutinitas pagi harinya hampir selalu sama sebulan ini. Ia bangun, mengurus Sophie yang kadang-kadang harus dibantu mbak Indah kalau Salif sedang rewel, memberi makan dan memandikan Salif lalu menemaninya bermain. Pagi ini pun seperti itu. Setelah menidurkan Salif, Aleena kembali merebahkan tubuhnya sesaat di ranjang, Sejam lagi ia harus mulai bersiap untuk menjemput Sophie dan waktu luangnya di pagi hari hanya pada saat ini saja.

Ia meraih telepon genggamnya, mengecek sosial media miliknya sesaat, lalu tanpa sadar membuka galeri foto. Isinya kebanyakan hanya diisi oleh foto-foto Salif dan Sophie, tapi diakhir galeri ada sebuah foto yang sedikit berbeda di sana. Fotonya saat menikah sebulan lalu, yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam galerinya.

Aleena menatap foto itu dengan lekat. Foto dirinya dan Faiz di atas pelaminan, diapit oleh orang tuanya dan juga orang tua Faiz. Kedua orang tua dan mertuanya tampak tersenyum bahagia, sementara dirinya dan Faiz hanya berdiri kaku dengan senyum yang nampak dipaksakan. Foto yang tepat menggambarkan kehidupan rumah tanggnya saat ini.

Kaku dan penuh dengan keterpaksaan.

My Husband's LoversBaca cerita ini secara GRATIS!