#Satu

965 96 26
                                                  

Kim Hwa Young

"Jadi apa rencanamu hari ini?"

Suara nyaring itu pecah saat aku mengepak barang-barangku, memasukkannya ke dalam tas jingga berukuran sedang. Aku baru saja membelinya kemarin setelah insiden jebolnya tas lamaku, mengakibatkan kemaluan luar biasa menjalari tubuh yang terjebak di antara rak toko buku mall Busan.

Untuk yang keempat kalinya, harapan terakhir adalah berdoa agar tas ini tahan beban baja, atau aku biasa menyebutnya buku-buku tebal harianku. Mereka sudah seperti benda wajib yang harus kugendong kemana-mana.

"Menyiapkan negosiasi lanjutan," jawabku.

"Mwo!?" Ya. Dia kaget.

Aku menaruh telunjuk di bibirku sendiri. Protes, "Bisakah kau pelankan suaramu, eonni?"

Dia mengerucutkan bibir, berharap itu imut namun tidak berhasil membuatku luluh. Tanpa menunggu apa-apa lagi kami melangkahkan kaki keluar gedung perpustakaan universitas. Aku mengambil dua pilihan, menghindari resiko penghuni setempat terganggu dengan suara cewek ini, dan yang kedua aku lapar.

Yoonji berjalan canggung di sampingku, kami berhasil keluar lingkungan universitas yang ramai dan cerah. Dia tidak pernah canggung, aku tahu apa yang dia pikirkan. Sorotnya menyiratkan sesuatu yang disebut simpati. "Jadi ini sudah...? Dan kau sudah...?"

"Tepat ke-20 kalinya, Yoon," ucapku melengkapi TTS yang telah dibuat cewek berambut bob sebahu itu. Aku merapikan rambut karamelku, terutama bagian poni, lalu membetulkan letak kacamata bulat dengan sentuhan akhir paling simpel, senyum. Untuk hal yang paling kunantikan sepanjang hidupku.

Yoonji memukul lenganku, ia tidak jadi canggung dan malah tertawa cecikikan.

"Aku tahu Seoul adalah tempatmu!" Mata kelamnya menggerling ke arahku, berkilauan. "Biar aku mentraktirmu kali ini!"

"Gumawo, eonni," ucapku berterimakasih. Yoonji lebih tua tiga tahun dariku, tapi kami sama-sama lulusan tahun ini. Dia satu-satunya yang bisa mempertahankan akalku untuk berpikir dan bertingkah sesuai umur seharusnya. Namun diluar wilayahnya, aku kembali ke rutinitas belajar 24/7. Aku gila belajar, lebih dari kata giat, sangat gila. Dan dengan aturan ketat sistem belajar di Korea Selatan, bahkan dia terheran-heran mengapa aku begitu betah.

Pintu kaca berdenting memukul bel yang bertumpu pada kusen atas. Kami mampir di cafe langganan Yoonji sebulan terakhir ini, hanya berjarak beberapa kilometer dari kampus. Entah berapa tempat yang dijajalnya selama kuliah. Ia tipe gadis yang mudah bosan, kadang bertindak seperti laki-laki, namun terorganisir. Mulutnya pedas, terutama jika itu soal hal yang dibenci. Dia negosiator yang handal, bisa memperbaiki apa saja, dan tak heran banyak industri yang mengincarnya.

Dia berpotensi memajukan perindustrian di Busan. Aku membayangkannya sebagai ikon kota ini. Benar-benar gadis pesisir yang tangguh.

"Bagaimana rasanya bekerja?" tanyaku. Gadis di hadapanku ini membuat iri semua orang di universitas, bagaimana tidak? Ia telah membiayai kebutuhannya sendiri sejak setahun sebelum ujian akhir. Sekarang masa dimana kami-lulusan baru, pontang-panting mencari pekerjaan, sedankan dia berada di suatu tempat jauh di atasku bergelut dengan klien, staff dan CEO.

"Aku tidak suka dengan Tuan Park, berotak tapi jarang melihat dia memakainya." Wow, tipikal Yoonji. Ia menaruh satu lengannya di sofa, wajahnya berubah malas. Kemalasan itu pastilah datangnya dari seseorang bernama Park dan bosan karena pesanan kami belum datang juga. Padahal gadis tan itu sangat antusias mereview cheese cake terbaik yang ia klaim hanya ada di tempat ini.

Aku tidak begitu menyukai kue, namun karena ia begitu berharap aku mencoba cheese cake rekomendasinya ditambah kata traktir, aku langsung mengangguk setuju. Lagipula aku tidak mendapat asupan gula selama ujian berlangsung terakhir kali.

DistanceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang