Chapter 10

826 26 4


Setiap orang adalah teka teki,
kamu adalah puzzle bukan untuk dirimu saja tapi bagi orang lain dan misteri besar di zaman kita, adalah bagaimana kita menembus puzzle ini

Theodore Zeldin

*******

FLASHBACK

Bella Pov

Tok! tok! tok! tok!

"Bella bangun sayang, ini sudah pagi kamu kgak siap siap ke sekolah? Nanti absenmu ada A-nya lhoh"

Emh~ perlahan lahan aku membuka mataku, kucoba untuk bangkit dari posisi nyamanku, nyawa yang terasa masih berada di puncak ubun-ubun membuatku tak begitu bertenaga sekarang dan hal yang pertama yang kulihat adalah ........kamarku yang begitu berantakan.

Dan aku tersadar, bahwa semua hal yang terjadi kemarin bukanlah mimpi. Kupikir aku akan segera bangun dari mimpi buruk ini dan semua kehidupan yang kujalani akan kembali seperti semula. Namun tidak..... Kini aku merasa lebih baik bila aku tidak terbangun dan tetap berada dalam dunia mimpi indahku sendiri.

Rasanya aku ingin menangis lagi, namun aku tak lagi memiliki tenaga untuk mengangis..... Saat ini. Dapat kurasakan dadaku kembali terasa sakit. Kuremas baju piyamaku di bagian yang terasa sakit itu.

Sebelumnya aku telah mematikan jam weker yang ada di kamarku, agar bunyi bisingnya tak membangunkanku di pagi hari. Namun kini justru suara Kak Louis yang membangunkanku.

"Bella kau boleh marah kakak, tapi jangan siksa dirimu dengan tidak memperdulikan kesehatanmu sendiri" ucap kembali Kak Louis

Benar juga....
Sejak kemarin aku belum makan apapun....
Sejak kemarin aku juga lebih banyak tidur karena kepalaku begitu pusing dan juga badanku yang lemas.

"Jadi...... Kumohon keluarlah" sambung kak Louis

Kak Lou....... Maafkan aku...

"Dan lupakan saja kejadian kemarin"

DEGH!!

Hatiku bagai mendapatkan pukulan yang begitu keras, seakan akan pipiku ditampar dengan begitu keras. Dadaku terasa terhimpit mendengar kata-kata itu.

Bagaimana...... Bagaimana Kak Lou bisa menyuruhku untuk melupakan kejadian kemarin. Di saat kalian sudah membohongiku dan mempermainkanku.

Mungkin aku memang berlebihan, alay dan lebay, tapi percayalah dibohongi oleh orang terdekat kalian itu rasanya menyakitkan.

Kuambil potongan kayu kursi yang tergeletak sembarangan di kamarku, lalu kulempar kuat kuat kayu tersebut ke pintu kamarku, sehingga menghasilkan bunyi yang begitu keras.

Aku memang tak suka bila aku diacuhkan, namun aku lebih benci bila aku dibohongi.

Kudengar suara tapakan kaki mulai menjauh. Aku tahu kalau aku mungkin memang menyakiti perasaan kak Lou tapi sudahlah biarkan saja. Kali ini, kubiarkan ego menguasai diriku.

Bella POV End

Flash off

*******

Author Pov

Beberapa menit telah berlalu  dan masih dalam posisi yang sama, Daren masih tetap memeluk erat Bella semenjak tadi hingga akhirnya kini Bella telah kembali tenang.

BroSist ComplexsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang