"Aku hanya pergi ke klinik samchonku. Aku adalah perawat di sana. Samchon membutuhkanku"

"Berjanjilah tidak lebih dari itu"

"Niel"

"Yakso"

"Ne, yakso"

###

Daniel dengan gelisah menunggu Rara. Bolak balik dirinya melihat jam yang tergantung di toko milik bibi Rara. Sekarang sudah jam 2 tapi Rara belum juga pulang dari klinik tersebut.

"Daniel-ssi, makanlah dulu" Bibi Rara yang bernama Yena itu membawa nampan berisi bubur.

"Ah, kamshamnida imo. Seharusnya imo tak perlu seperti ini"

"Gwenchana Daniel-ssi"

"Imo, apa imo tau kliniknya tutup jam berapa?"

"Ah, klinik milik suamiku tutup sebentar lagi"

"Ah ne"

"Wae?"

"Aniyo imo" Daniel tersenyum dan mulai memakan makanannya.

"Ah, kau pasti menunggu Rara kan"

Ucapan bibi Rara sontak membuat Daniel tersedak makanannya. Daniel mencoba minum.

"Ah, aniyo, aniyo"

"Aish, aku tau dari sikapmu Daniel. Lagi pula Rara baru saja kemari. Cobalah bersabar" bibi Rara tertawa kecil lalu pergi meninggalkan Daniel yang sekarang nampak sedikit malu.

Setelah selesai makan Daniel memuruskan pergi kedalam mobil dan melihat Rara yang tengah membantu pasiennya. Senyum Daniel mengembang seketika dan tak terasa dirinya mulai mengantuk dan tertidur.

2 jam kemudian...

"Daniel?"

"Daniel ireona"

"Suara lembut itu" batin Daniel.

Daniel terbangun.
"Eoh, Rara-ya"

"Kenapa kau tidur dimobil?"

"Aku? Ah, entahlah. Sepertinya aku tertidur"

"Hm, begitu rupanya"

"Rara-ya"

"Ne"

"Ak ingin berbicara sesuatu"

"Mwo?"

"Kajja ikut aku"

Tanpa persetujuan Rara, Daniel menarik tangan Rara dan membawanya pergi sampai tepi laut.

"Katakan ada apa Niel?" Tanya Rara yang mencoba membuka percakapan diantara mereka yang sempat cangguh selama beberapa menit.

"Rara-ya" Daniel menatap Rara dengan sungguh sungguh.

Rara hanya terdiam, degub jantungnya semakin tak menentu melihat Daniel yang sedang menatapnya serius.

"Rara-ya, ikutlah bersamaku. Ayo kita menjadi pasangan kekasih"

Rara membulatkan matanya. Jantungnya hampir lepas karna ucapan Daniel.

"Kita bawa Woojin juga. Kumohon tinggalah bersamaku" Rara ingin saja menerimanya dengan senang hati, namun satu yang meredupkan keinginan Rara adalah Woojin. Rara takut akan keselamatan Woojin saat ini.

Rara memundurkan langkahnya.
"Maaf Daniel, aku..."

Daniel mendekati Rara dan memegang tangan Rara.
"Percayalah, aku akan menjaga dirimu dan Woojin dari Haerin dan siapapun yang ingin menyakiti kalian. Aku hanya ingin bersamamu Rara. Aku mencintaimu dan hanya kau yang aku cintai"

Rara menunduk terdiam.
"Kumohon percayalah" ucap Daniel dan menatap Rara.

Rara diam sejenak kemudian menatap Daniel dan memantapkan hatinya.
"Baiklah, aku akan ikut ke Seoul" senyum Daniel mengembang dengan indahnya.

"Tapi"

"Apa?" Senyum Daniel sedikit meredup.

"Aku harus bekerja dimana?"

"Tidak usah, kau akan menjadi istriku secepatnya"

"Mwo?"

"Kita kan akan tinggal bersama dan kau sekarang kekasihku. Untuk apa kita menunda nundanya"

"Niel, kau sadar dengan apa yang kau bicarakan"

"Ne, aku sadar"

"Aish, Niel. Dengarkan aku baik baik. Aku harus membiayai Woojin dan aku harus bekerja"

"Tidak usah. Aku saja yang membiayai Woojin"

"Kang Daniel"

"Baiklah baiklah. Kau akan bekerja di rumah sakit sebelumnya. Eotteoke?"

"Aku akan mencoba melamar pekerjaan sendiri"

"Wae?"

"Aku harus mandiri changi-a"

Daniel kaget dengan apa yang Rara ucapkan tadi.
"Apa aku tidak salah dengar"

"Mwo?" Ucap Rara sambil menahan senyum.

"Coba katakan sekali lagi"

"Kajja kita pulang" Rara berjalan meninggalkan Daniel yang masih kaget.

"Rara-ya, coba katakan sekali lagi"

"Andwae"

"Rara-ya"

Terimakasih sudah membaca dan votenya ^^. Author seneng banget banyak yang membaca cerita ini. Semoga ceritanya gak membosankan ya dan terimakasoh juga buat yang mau nungguin author update lagi, kemungkinan author bakal update seperti semua mulai minggu ini ya 😊😊

My Nurse - Kang DanielBaca cerita ini secara GRATIS!