Vote dulu ya sebelum baca. Setelah beres baca, silakan isi kolom komentar.. Xixi 😊😊 ✌ *just kidding

Attention❗❗ Awas baper❗❗ BAPER❗
----------
"Dari dulu aku sudah terjebak dalam karnaval luka yang paling meriah. Dan saat ini, aku tak bisa keluar dari bianglala yang terus berputar dan membuatku tersesat pada euforia luka yang paling lara."
----------
Soundtrack:
Aku sakit - Wali
Puaskah - Wali

***

Pukul 07.00 WIB. Saat itu, aku sedang berada di salah satu rumah sakit di Bandung. Aku hendak menjenguk Adam setelah kemarin pulang tanpa pamit dulu padanya. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang masih tampak lengang, lalu kupegang gagang pintu bernomor enam dan membukanya.

Ceklek...

Kulihat Adam sedang duduk bersandar seraya menatapku. Ia tersenyum hangat walau saat ini wajahnya masih pucat. Ia memperlihatkan senyuman terbaiknya seolah-olah ia baik-baik saja. Padahal sebenarnya aku sudah tahu semuanya.

"Assalamu'alaikum?"

"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Morning, Lea...," jawab Adam seraya menyapaku.

"Gutten morgen."

"Wiiis! Kamu abis ke Jerman ya? Bahasanya bule gitu...," tutur Adam seraya tersenyum lebar.

"Iya, abis ke sana, tapi lewat imajinasi." Aku tersenyum tipis seraya duduk di kursi yang ada di samping kasur rumah sakit. "O, iya, kamu udah sarapan?" lanjutku.

"Udah kok, Lea, tadi abis disuapin sama ibu. Kamu udah?"

"Udah."

Tiba-tiba saja, ponselku berbunyi. Mungkin, ada pesan di Whatsapp-ku. Aku pun segera mengeceknya. Dan benar saja, ternyata ada message dari Syammiel dan... Abidzar. 'Mengapa bisa di waktu yang bersamaan?' pikirku seraya membacanya.

From: Syammiel Hussain
"Assalamu'alaikum? Haura, kamu udah nerima paket yang kukirim, kan?"

'Wa'alaikumussalam warahmatullah. Udah, Syam. Jazakallah khairan katsiiran...." Itulah yang kuketik sebagai jawaban dari pesan Syammiel. Kemudian, kubaca pesan dari Abidzar.

From: Abidzar Fadlannul H.
"Assalamu'alaikum? Ukhtii, ana mau ngasihtahu kalo seminggu lagi akan ada mentoring di masjid raya Bandung. Plus, mau bahas tentang hiking. Syukron...."

Kubalas dengan, "Wa'alaikumussalam warahmatullah. Iya, Akh Abi, insyaa Allah ana datang." Setelah itu, kumasukkan hapeku ke dalam tas selempang.

"Lea...," panggil Adam dengan nada lembut.

"Ya... kenapa, Dam? Kamu butuh sesuatu?"

Adam menggelangkan kepalanya. "Lea, mata kamu kok sembab? Abis nangis ya?" Pria berlensa mata jingga itu memegang daguku seraya menatapku.

Alhasil, aku pun tak bisa mengalihkan pandanganku dari sorotan matanya itu. Kulihat ia tengah menerka-nerka lewat tatapanku yang mudah sekali terbaca. "Gapapa kok, Dam," dustaku.

"Mata kamu gak bisa bohong, Lea.... Kasihtahu aku, kamu ada masalah apa? Siapa yang udah buat kamu nangis, Lea?" Kini, Adam mengelus-elus pipiku dengan sebelah tangannya. Hal ini memang sering ia lakukan dulu, jika aku ketahuan sedang menangis atau mataku terlihat sembab.

"Kamu."

Adam mengernyit tanda tak mengerti. "Aku?"

"Iya, kamu, Dam. Kenapa kamu gak ngasihtahu aku tentang penyakit kamu? Kenapa?"

"Eu... ma-maaf, Lea... aku gak bermaksud buat nyembunyiin semua ini dari kamu. Aku gak bermaksud buat bohongin kamu...," ucap Adam seraya menggenggam tanganku. Ia tampak gugup dan bingung harus menjelaskan apa lagi padaku.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!