2. Sahabat

917K 74.6K 14.3K
                                              

Arlan tampak telaten membersihkan kamar Kana. Seminggu dua kali, dia pasti datang khusus untuk merapikan kekacauan cewek yang bahkan jarang memegang sapu.

Kana berbaring telentang di kasur. Tadi dia sudah dipijit, diberi makan, dan wajahnya juga diseka Arlan agar kembali kinclong.

Arlan kini memisahkan pakaian kotor Kana yang berantakan di belakang pintu. 90% pakaian yang ada di sana hanya baju tidur. Maklum. Kana cuma mau mandi sehari sekali. Malam pakai baju tidur, siang juga sama.

Dan seperti dugaan Arlan, ada celana dalam beraneka warna dan bra yang menjadi satu tumpukan juga. Dia sudah biasa, walau tetap sedikit malu saat memasukannya ke keranjang cucian.

Selesai menyingkirkan pakaian kotor. Arlan meletakkan tangannya di tungkai kaki Kana dan pundaknya. Mengangkat si cewek pemalas dan memindahkannya ke sofa. Kali ini Arlan mengganti sprei dan sarung bantal. Setelah semua rapi, Kana dia pindahkan lagi ke kasurnya.

"Lo itu, kita udah sama-sama dewasa. Jangan sembarangan rebahan pamer CD mulu depan gue kenapa, sih?" Arlan menarik kaos Kana yang sempat tersingkap. Cewek itu meliriknya sekilas lalu tidak peduli. "Gue cowok loh. Kalo gue serang gimana?"

"Sini!" Kana menepuk-nepuk kasurnya. Tangannya kian dia rentangkan. "Ayo serang gue."

Memang cewek gak waras.

Arlan geleng-geleng.

"Lo gak bisa selamanya kayak gini. Suatu hari, lo bakalan hidup sendiri. Nyokap-Bokap lo gak bakalan selamanya ada di sisi lo." Arlan memberi nasihat. Mau bagaimana lagi? Masa depan Kana suramnya mengalahkan gulita malam.

"Kan ada elo."

"Gue setelah wisuda kerja. Terus nikah." Kalimat Arlan membuat Kana kali ini menatapnya lama. "Cari pacar coba. Emangnya lo gak mau nikah juga?"

"Sama elo!"

"Ogah!" Arlan bergidik. "Nyusahin doang lo mah."

Jahatnya...

Kana beringsut duduk. Dia menarik tangan Arlan dan berucap. "Gue jadi istri kedua atau kelima gak pa-pa. Asal dikasih makan sehari tiga kali, camilan, sama wifi aja. Nikahin gue, plis."

"Males." Arlan menghempas tangan Kana kemudian bertolak pinggang. "Emangnya lo kepikiran ngelakuin hubungan suami-istri sama gue?"

"Hah? Ngapain?"

"Yang udah nikah harus ngelakuin itu lah."

"Mikirnya aja udah capek sama ribet duluan." Kana berdecih. "Kan lo punya istri pertama sama kesekian. Lo bisa gituan sama mereka. Anggap aja gue hewan peliharaan."

"Lo bahkan udah gak ngerasa jadi manusia. Nyokap lo bisa nangis darah dengernya."

Kana berbaring lagi. Arlan menghela napas. Apa yang harus dia lakukan agar Kana lebih bersemangat menjalani hidupnya.

"Na!"

"Hm?"

"Lo gak mau punya anak? Anak kecil lucu loh."

"Kalo sekali ngeludah bisa jadi anak gue mau aja, sih."

"Ngeri, oy!" Arlan setengah berteriak. Dasar Kana. Tingkat malasnya sudah mencapai level dunia. Mana mungkin melahirkan bisa dilakukan dengan meludah saja? Dunia bisa hancur karena manusia terlalu gampang berkembang biak.

"Cari pacar sana. Gak semua cowok punya niat buruk sama lo." Arlan kelepasan. Lupa kalau Kana punya dua kali trauma tentang lawan jenisnya. Dia mengimbuhkan, "buktinya gue selalu baik sama lo, kan?"

Tidak ada jawaban. Kana memejamkan mata rapat lalu berbisik, "Dasar human!"

"Emangnya lo apaan?!"

"Gue ..." Kana memberi jeda. "Donat."

"Hah?"

"Gue mau donat, Arlan."

Arlan mengembuskan napas kasar. Pekerjaannya sudah selesai. Dia mengambil kunci motor yang tadi dia letakkan di meja Kana lalu pamit, "Gue pergi beliin bentar."

"Sankyu My Hubby."

"Ogah!"

***

FRIENDSHIT (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang