Prolog

26 2 2

Mereka diam, namun nafas mereka berisik.

Mereka terdiam, namun mereka harus bergegas.

Mereka diam, menunggu. Ini bukan kali pertama mereka seperti ini, mereka selalu seperti ini. Semuanya sudah bersiap-siap.

"Clear."

Dengan satu aba-aba saja, mereka langsung bergerak secepat kilat. Ya, mereka harus cepat. Setidaknya, itu akan menyelamatkan hidup mereka sendiri. Senjata yang tergenggam erat di tangan-tangan dingin dan bergetar itu adalah bukti, mereka jelas ketakutan berada di tempat ini.

Tempat ini bukan tempat tinggal manusia. Bukan, manusia biasa tidak akan tinggal di tempat seperti ini. Merah, amis, gelap, kotor, menjijikkan. Entah berapa banyak lagi kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkan kondisi tempat ini, dan ini bukanlah satu-satunya.

Pepohonan yang rindang menutupi sinar matahari yang berusaha menyentuh tanah lembek tempat kami berpijak. Suara gemercik air di sela-sela pepohonan itu makin membuat tempat ini seperti di dalam hutan. Tapi, ini bukan hutan. Ini adalah sarang, sarang pemburu yang haus darah. Predator yang entah sejak kapan telah ada dan entah bagaimana mereka bisa ada.

"Cepat katakan, di mana para korban!?"

"Hentikan! Jangan bicara seolah dia manusia!" Bentak Pria parubaya berambut cepak itu pada anak-buahnya yang sedang mengancam sesuatu yang terdesak di antara kerumunan orang-orang bersenjata.

"Beta, Charlie dan Echo. Cepat periksa tempat ini!"

Tiga orang langsung bergegas setelah mendengar perintah itu, tak ada raut ketakutan dari wajah mereka yang menutupi kehisterisan hati mereka.

"Ada yang selamat! Satu orang selamat!" Seru Echo.

Seorang wanita muda, dari Name Tag yang entah bagaimana masih melekat di bajunya, orang akan langsung mengetahui jika ia berasal dari Dunia Jurnalis. Jika tim ini terlambat datang, mungkin tak satu pun korban yang ditemukan selamat. Entah itu suatu hal yang baik atau buruk mengingat korban yang tak selamat hampir memenuhi tempat yang mirip gua bawah tanah ini dengan kondisi tubuh yang tak lagi utuh.

PRAANG

Makhluk aneh itu tiba-tiba melempar sesuatu dan pecah. Sesuatu yang berbentuk bulat sebesar bola golf, pecah terbagi tiga. Satu pecahan bergulir dan diambil oleh Kapten tim, sisanya diambil olehku. Dari baunya yang menyengat amis, aku justru mencium bau lain yang tak asing.

"Benda apa ini?"

"Jilat saja." Jawab makhluk yang kami sebut Cuspid itu.

Sang Kapten menjilati benda itu, lalu terperanjat.

Makhluk itu cekikikan melihat wajah-wajah keheranan yang menatap kepanikan Sang Kapten yang bernama Georgeous Miller tersebut.

"Kau lihat yang berwarna merah? Yang merah itu adalah bahan pokok pembuatan benda yang sedang kau pegang itu." Jelas Cuspid tersebut.

"Ba, bagaimana mungkin!?"

Raut wajah sang Kapten memucat saat memandangi timnya. Rona merah terlihat pada wanita yang tergabung dalam tim yang ia pimpin termasuk korban yang selamat. Ia memandangi seluruh tempat tersebut, mengamati dengan baik para korban yang tergeletak begitu saja. Tampak kakinya bergetar gemetaran, tak satupun dari mayat-mayat itu memancarkan rona merah, bukan karena mereka telah mati, tetapi bagian yang seharusnya berwarna merah sudah tidak ada. Hilang.

"Mustahil."

Perlahan ia menatap penuh harap padaku yang juga menjilati benda berwarna hijau muda tersebut. Entah ilusi atau apa, namun sensasi yang kurasakan saat benda itu mencair bersama air liurku dan mengalir sempurna di kerongkonganku membuatku sempat berpikir jika benda aneh ini adalah opium terbaik yang pernah kucoba.

Aku tersenyum padanya.

"Ini Menarik."

PitchRead this story for FREE!