Adrio

Seminggu setelah kejadian terbodoh itu, sejak itu, April selalu menghindar dari gue. Kalau pun kita ngobrol, cuma sebatas ngomongin kerjaan. No less, no more. Gue sudah berusaha memulai pembicaraan tapi April selalu menghindar, dengan alasan apapun itu.

"Thanks, Yo. Duluan ke ruang ok ya."

Atau,

"We don't have anything to talk about. Thank you."

Apa beneran dia suka sama gue dan merasa kecewa lalu jadinya menghindari gue? Gue jadi bingung harus senang apa sedih, kalau kayak gini. Terlepas dari itu, kedeketan gue dengan Lily juga semakin intens, of course, karena kita selalu bareng di ruang OK dan Lily gak pernah gak mengajak gue kemanapun. She doesn't know anyone in here, so, yeah.

Gue juga gak tahu cara menghindari dia tanpa bikin dia kesal itu gimana. Gue nanya Cetta dan jawabannya dia, "Ya udah bilang kek lo kemana gitu, temenin gue ngaso atau nganterin nenek lo."

"Nenek gue udah meninggal, Cet."

"YA KAN CONTOH, ADRIO. HADEH."

Gue meneguk strawberry smoothies dan mengedarkan pandangan gue. Malam ini, malam ulang tahun gue, gue ditarik Brian untuk 'ngasih makan' para manusia manusia goa ini. Alhasil, di sini lah gue menunggu dompet gue kosong setelah dipalakkin sama mereka.

"Chandra mana sih?" Gue mengedarkan pandangan dan tidak menemukan tiang bendera satu itu. Biasanya doi yang paling semangat kalo soal traktir-traktir begini. Dia bakal pesen makanan mahal dan banyak.

"Tadi sih nungguin April...nah, nah, tuh anaknya dateng," Nabil nunjuk ke arah pintu masuk.

Gue mengikuti arah jari Nabil dan secara otomatis gue senyum. April ikut datang meramaikan, walaupun gue tahu bukan murni keinginan April dateng ke sini karena gue tentunya. April datang sama Chandra, her face looks like she doesn't want to be here.

"April! Kirain lo gak bakal dateng," Nabil menyambut April setelah menyenggol lengan gue.

"Hai, Qil."

"Hei," Dia duduk di depan gue, bersebelahan dengan Satria. "Sorry ya, gue ditarik Chandra disuruh ikut padahal-"

"I'm glad that you are here, Qil." 

She has this smile that I like the most. Bahkan senyum ponakan gue yang masih polos pun kalah. Gue suka, gue suka semua yang ada sama April. Gue suka. Dangdut. Terserah, yang penting gue suka sama dia.

"Happy birthday, Adrio. Maaf ya, aku cuma bisa beli ini. Hope you like it." April memberikan sebuah kotak berukuran sedang. Gue menerimanya dengan hati berdebar. Isinya apaan ya?

"Love it already, thank you."

April tersenyum, gue melihat dia sempat melirik ke sebelah gue—ke arah Lily yang sedang mengobrol dengan Nabil. Gue menghela napas, gimana caranya biar April gak salah paham soal ini semua. Sebenernya, gue udah geer duluan kalau April merasa salah paham dan mengira bahwa gue masih sayang sama Lily. Gue bukan siapa-siapa April, salah, maksudnya gue BELOM jadi siapa-siapa April dan gue belom pantes kalau harus dicemburuin dari seorang April. 

"Eh, udah komplit kan?" Tanya Satria yang membuyarkan lamunan gue. 

"Udah, udah, kenapa, Sat?"

Satria tiba-tiba narik tangan April, gue udah takut dia salah narik cewek pada Gendis ada di sebelah dia. Gendis jelas-jelas melihat tapi dia malah biasa aja. Ini pada kenapa sih orang-orang? Terus Satria sama April juga gak balik-balik, kemana lagi tuh?

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!