1. awal

26.3K 2.1K 67
                                    

Dinda memandang tiket perjalanannya ke Scotlandia dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan senang memulai hidup baru namun juga perasaan takut, kalau apa yang dilakukannya ini adalah sesuatu yang akan disesalinya.

Dinda menoleh ke belakang lalu dia tersenyum miris. Apa yang diharapkannya? Agam akan berlari mengejarnya seperti Aska mengejar Hana?

Tidak, kehidupan percintaan dengan penuh kearogansian demi mendapatkan cinta, itu hanya ada dalam keluarga Subekti dan sayangnya, dialah yang berasal dari keluarga Subekti, bukan Agam.

Dinda menarik nafas dalam. Dia memejamkan mata sambil mengucapkan mantra penguat, bahwa semua akan baik-baik saja.

Dia mengeluarkan ponselnya, masih berusaha memastikan bahwa Agam benar-benar tidak perduli padanya.

Dinda tersenyum sinis menatap pesannya yang belum terbalas.

Good bye

Pesan yang tidak dibalas Agam ini dianggap Dinda sebagai perpisahan yang memalukan. Bahkan sampai titik ini dia masih berharap, dan itu memalukan sekali.

Dinda sudah Chek in dan kemudian memasuki pesawat. Setelah ini, tidak akan ada lagi cerita antara dirinya dengan Agam.

***

Flashback

Dinda duduk tidak nyaman di tengah keluarga ibu dan ayah tirinya dan juga keluarga dari pihak lelaki yang katanya, akan dijodohkan dengannya. Perjodohan? Dinda tertawa mendengarnya. Miris memang, terpisah sejak kecil karena sang ibu memasrahkannya pada papanya tapi kini dia muncul dan menggunakan haknya sebagai ibu untuk mencampuri kehidupan Dinda di aspek paling penting, asmara.

Dinda tidak bisa tersenyum. Pasalnya, kehadirannya hanya basa basi. Dia hanya memenuhi permintaan ibunya untuk menghadiri makan malam saja dulu, berkenalan dengan pria itu. Jika memang Dinda tidak suka, maka dia bisa membatalkan semuanya.

Sudah jam setengah delapan, semua sudah menghabiskan makan malam dan pria itu belum muncul juga.

"Maaf ya Jeng, macetnya parah kali ya?"

Dinda tersenyum kecut. Macet? Entahlah, anggaplah memang benar maka baguslah. Dinda berharap pria itu malah tidak akan pernah datang.

"Sorry, tadi aku___" seorang pria dengan penampilan agak berantakan menghampiri meja makan, dan matanya mengitari semua orang yang duduk di meja makan dan berhenti, bertatapan agak lama dengan Dinda, "tadi macet" ucapnya masih menatap Dinda dengan dada naik turun karena nafasnya yang masih tersengal.

"Sudah duduk, makan. Semua malah sudah selesai. Kamu lama sekali, Gam," gerutu mama agam.

Agam mengangguk lalu menarik kursi yang posisinya tepat di depan dinda.

Mama agam dan mama dinda saling melempar senyum, merasa gembira karena dari tadi dinda dan Agam masih sibuk saling mencuri pandang meski dengan wajah yang sama sama datar.

"Nah, Dinda, ini anak tante. Namanya agam, kerjanya ya gitu masih sebagai wakil papanya di perusahaan. Tapi nantinya, kalau Agam sudah menikah dan memberikan anak, jabatan itu akan diserahkan ke Agam pastinya."

Dinda melempar senyum tipis menutupi kegugupannya. Pria itu tampan, meski lebih tampan papanya, tapi dia memiliki sesuatu yang membuat dinda merasa dadanya berdesir. Ada yang spesial dan itu membuat Dinda seketika merubah pandangannya pada perjodohan ini.

"Dan Agam, itu dinda sayang. Anak tante Disha. Kerjanya jadi guru di salah satu sekolah swasta."

Agam tersedak, sepertinya kaget saat mendengar profesi yang dimiliki Dinda.

Mr. Right for adindaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang