Chapter 132: Para Pahlawan yang Terpisah

2.1K 134 33

Umm maaf telat update soalnya waktu hari Minggu mau update malah mati lampu -_- alhasil router gak nyala dan seharian gak bisa buka internet T.T

dan begitulah silahkan menikmati!

Chapter 132: Para Pahlawan yang Terpisah

_____________________________

"Level kalian memanglah tinggi, tapi... kau tahu, pertempuran bukanlah taman bermain. Dengan keteguhan yang hanya sebesar itu, apa kalian benar-benar yakin kalau kalian bisa kembali dengan selamat? Dari apa yang aku perhatikan kalian pastinya belum pernah melihat orang mati kan?" (Ornoth)

"..." (Chika)

Chika terdiam karena dia sadar kalau dia sudah kehabisan kata-kata.

"Ataukah mungkin Raja itu hanya memperlakukan kalian sebagai bidak yang bisa dibuang begitu saja?" (Ornoth)

"Ti-Tidak mungkin itu benar!" (Chika)

Chika mengeraskan suaranya saat menolak itu.

"Jadi mengapa kalian ada di sini? 'Sebenarnya apa yang akan terjadi saat kalian pergi ke sini'.Cukup mudah untuk menyadari ini semua selama kalian berpikir walaupun hanya sebentar kan? Sejujurnya kalian semua tidak pantas menjadi prajurit, jadi apa ada alasan lain mengapa Raja mengirim kalian ke sini?" (Ornoth)

Bagi Ornoth itu hanyalah pertanyaan yang cukup normal untuk ditanyakan. Namun bagi Chika, itu adalah pertanyaan yang membuatnya sangat terkejut. Ngomong-ngomong mengapa Raja Rudolf memilih untuk mereka, yang belum pernah membunuh orang lain sama sekali, untuk pergi bersama pasukan kecil ke sini?

Kalau dia memang ingin menyerang Ibukota Evilia, seharusnya dia mempersiapkan pasukan yang lebih besar lagi. Para petinggi Humas juga tidak terlihat mereka cukup mempercayai Gabranth. Walaupun begitu mengapa dia mengirim sedikit pasukan ke sini?

(Aku tidak mengerti! Aku tidak mengerti! Bagaimanapun caraku berpikir aku tetap tidak mengerti!) (Chika)

"Chi... ka..." (Taishi)

Suara Taishi lah yang menariknya kembali ke kenyataan. Berkat rasa sakit yang dialaminya itu, kini dia menjadi lebih tenang. Juga terlihat dari ekspresinya, dia tidak akan melakukan serangan yang ceroboh lagi.

"Taishi! Apa kau baik-baik saja?" (Chika)

"Ah, ya. Perutku terasa sangat sakit, namun.... sepertinya dia sedang menahan kekuatannya." (Taishi)

"Eh?" (Chika)

Taishi memegang perutnya dan melihat ke arah Ornoth.

"Dia tidak menggunakan kekuatan penuhnya. Mungkin... levelnya lebih tinggi dari kita. Bukan hanya itu, tapi aku rasa dia sangat hebat dalam serangan fisik." (Taishi)

"Hoh, tidak seperti sebelumnya, analisamu hebat juga." (Ornoth)

Ornoth kagum dengan Taishi untuk pertama kalinya. Karena bisa membaca kemampuan fisik lawan hanya dengan satu serangan, Ornoth merasa kalau itu adalah apa yang bisa diharapkan dari orang dengan julukan 'Pahlawan'.

"Senjatamu bukan hanya sihir. Setidaknya aku tahu itu." (Taishi)

Jika dilihat baik-baik, tubuh Ornoth sangatlah berotot. Taishi mengerti kalau Ornoth hanya sedikit mendorongnya, namun dia merasa kalau dia baru saja dipukul dengan besi. Karena sudah dilatih dan menempa tubuhnya sendiri, sesaat setelah dia tenang, Taishi bisa menilai keadaan dengan kepalanya.

"Baiklah, kalau kalian menyerah tanpa perlawanan, setidaknya nyawa kalian akan diampuni. Namun bila kalian terus melawan, maka aku akan membuat kalian melihat neraka karena aku adalah anggota Cruel." (Ornoth)

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!