Part 1

45 4 2

Happy Reading!

Rumah Ardian

Jakarta, Indonesia

11.50 PM

Ardian menatap pemandangan malam kota Jakarta melalui dinding kaca di dalam ruang kerjanya, sebenarnya ia tidak benar-benar menatap pemandangan indah di luar sana. Matanya justru menatap pantulan dirinya sendiri. Sosok tegap di dalam kaca seolah menertawakan dirinya.

Kamu sekarang berhasil, bisa punya apa pun yang dulu gak pernah bisa kamu miliki. Dunia bahkan ada dalam genggaman kamu. Tapi apa gunanya semua itu kalau kamu bahkan gak bisa memiliki Dia? Ah... jangankan memiliki, nemuin dia aja kamu gak sanggup. Di mana keberadaan dia aja kamu gak tau, Ardian.

Mata Ardian melotot tajam menatap pantulan dirinya, sosok di dalam sana benar-benar menertawakannya dengan puas setelah mencemooh dirinya. Emosi dan rasa frustrasi melingkupi hati pria itu. Bahunya merosot dalam kekalahan, ia tak pernah menyangka akan menjalani hidup sendirian tanpa gadis itu. Gadis yang tak pernah ia lihat sejak sepuluh tahun lalu.

"Kamu masih hidup atau gak? Ada di mana kamu, Kal? Apa kamu hidup dengan baik? Apa kamu tumbuh dengan sehat?"

Selalu pertanyaan yang sama setiap kali dirinya merindukan gadis itu. Rasa bersalah dan penyesalan tak akan pernah lepas dari dirinya sampai kapan pun. Kesalahan yang ia lakukan tak akan pernah termaafkan.

Ardian berbalik dan meraih sebuah kalender duduk di atas meja kerjanya, ia menatap sebuah tanggal yang telah dilingkari dengan tinta pulpen berwarna merah.

"Besok ulang tahun kamu yang ke 25. Aku harap kamu ada di suatu tempat yang aman, semoga kamu lagi ngerayain ulang tahun kamu. Di mana pun kamu berada, aku selalu berdoa untuk kamu. Maafin aku, Kal." Ucap Ardian dengan sendu, tampak raut lelah di wajah pria itu. Ia terlalu menantikan kehadiran gadis yang tak pernah lagi ia dengar kabarnya sejak sepuluh tahun lalu itu.

Ardian menatap lukisan besar di salah satu sudut ruang kerjanya, si bocah lelaki melingkarkan tangannya di bahu si gadis kecil lalu tertawa riang menatap ke depan. Itu adalah potret dirinya dan gadis itu yang ia buat ke dalam lukisan besar.

"Kalau waktu bisa diulang, aku gak akan pernah ninggalin kamu malam itu. Di mana pun kamu berada, semoga kamu baik-baik aja, Kalila." Ucap Ardian, sudut matanya basah tanpa ia sadari. Rasa sesak yang datang tiba-tiba membuatnya sulit bernafas, ia bahkan tak ingin bernafas. Karena bila ia bernafas, ia tahu semua ini nyata. Apa yang sudah ia lakukan pada gadis kecil tak berdosa itu adalah nyata. Meninggalkannya seorang diri bersama orang jahat yang tak pernah ia lihat lagi keberadaannya setelah malam itu. Ke mana mereka membawa gadisnya pergi?

Drrt... Drrt... Drrt

Ardian menatap layar ponselnya, tanggal sudah berubah. Nama Kalila tertera di dalam layar handphone. Alarm ulang tahun Kalila berbunyi.

"Selamat ulang tahun, Kalila."

****

At Mother's Love

Bandung, Indonesia

08.00 AM

Ardian dengan wajah bahagia menatap anak-anak kecil yang tengah berlarian riang di halaman panti asuhan. Namun kebahagiaannya belum terasa sempurna. Ia butuh Kalila di sini bersama dengannya mewujudkan impian kecil mereka dulu. Ia menatap sudut-sudut panti asuhan tempat ia tinggal dulu bersama Kalila, semua masih sama seperti dulu, hanya saja beberapa tambahan bangunan membuat panti asuhan terlihat lebih besar. Kamarnya dan Kalila dulu kini ditempati anak-anak panti asuhan yang baru.

"Terima kasih Ardian, semua pemberian kamu ini berarti banget buat kita. Anak-anak gak pernah kelaparan lagi, mereka sekolah dengan baik, kita gak pernah kekurangan." Ucap seorang wanita paruh baya di samping Ardian.

Never Be The SameBaca cerita ini secara GRATIS!