April

"Nanti gue balik bareng abang, gak usah jemput."

"Oke. Have a great day, baked beans."

"Have a nice one too, boo."

Mobil Bil a.k.a mobil gue melaju meninggalkan gue di pinggir jalan. Gue balik badan dan menatap gedung tinggi di hadapan gue. Akhirnya, setelah 3 hari hampir mati kebosenan di rumah gue bisa masuk kerja lagi! Yeay!! Memang kayanya gue enggak bisa kalo disuruh liburan lama tanpa ada plan liburan, karena gue sama Bil bener-bener gak ada kerjaan banget. Seharian cuma makan, nonton tv, pesen take away food, tidur, gosip. Palingan ada temen Bil yang main ke rumah.

"Pagi, dok!" Beberapa koas yang masuk hampir bersamaan ke dalam gedung IBS, menyapa gue.

"Pagi," Gue memasang senyum termanis gue pagi ini.

"Manis amat senyumnya,"

"Hai, Ki~" Kiki langsung berjalan sejajar dengan gue. Kami berdua berjalan menuju ruang residen, tempat di mana semua residen di gedung IBS berkumpul.

"Udah siap gerak, Lil?"

"Siap dong, eh, hari ini lo sama siapa?"

"Gue sama lo lagi,"

"Okay. Kita ikut siapa ya hari ini? Oh, dokter Gatot! Yes, bedah anak!"

"Cieee, udah sembuh."

"Rani!!" Gue memeluk cewek di sebelah gue. Ge jadi kangen sama anak-anak bedah. "Kangen..."

"Sama, tapi ada yang lebih kangen, tuh." Rania menunjuk satu cowok yang berdiri depan pintu ruang residen.

"Dia bukannya kangen sama lo?"

"Ye, gue sama dia ketemu tiap hari. Bosen."

Sesampainya di depan pintu, Rani cuma menjulurkan lidahnya ke Bima. Bima ketawa sedikit. Emang dasar pelit senyum anaknya, gak ngerti kenapa Rani bisa-bisanya kepincut sama papan triplek satu ini.

"Sehat?"

Gue mengelus daerah perut gue. "Sehat dong! Hehe."

"Kayak habis melahirkan aja lo."

"Sialan."

"Kembaran lo mana?"

"Lagi mandi,"

Gue baru saja mau ngambil jas snelli gue, saat Adrio nyamperin. Mukanya sumringah banget. Kaya matahari.

"Pagi, April. Hehe."

Gue mau gak mau ikutan senyum. "Pagi, Adrio. Hehe."

"Akhirnya, hehe. Udah sehat beneran?"

"Udah, dong. Eh, makasih bunganya." Gue nyengir. Gue emang gak sempet bilang makasih setelah gue tahu itu bunga dari Adrio. Bukan gak sempet sih, gue lupa mulu.

"Sama-sama, mau sarapan-"

"Eh, April?"

Gue menatap perempuan yang berdiri di sebelah Dio, bentar, kok kayak familiar.

Ah, Lily. Mereka saling kenal?

"Lily? Hei,"

"Katanya abis operasi? Gimana?"

"U-udah, kok. Udah masuk lagi nih, hehe. Kalian temenan?"

Lily maju selangkah dan setengah berbisik. "Dia mantan gue,"

Gue berusaha gak masang muka kaget. Walaupun kayaknya gak berhasil. Adrio sendiri kayak udah gak tenang di tempatnya.

"O-oh...ya, ya.."

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!