Part 9

5.6K 626 1

.
.
.
Part 9
(Meet)
.
.
.

###

Sudah lama semenjak Daniel keluar dari rumah sakit. Daniel tak pernah bertemu dengan Rara sampai saat ini. Namun Daniel masih tetap memikirkan Rara.

"Niel ?" Panggil manager Jung sambil memegang bahu Daniel.

"Ah, hyung. Wae?"

"Harusnya aku yang tanya padamu. Ada apa denganmu? Kau sering murung belakangan ini"

"Ah, aniyo hyung"

"Jangan berbohong Daniel"

"Jinjja gwenchana hyung"

"Kau memikirkan suster Lee? Majjayo"

"Hyung eotteoke... neo..." belum selesai Daniel berbicara manager Jung memotong dan berdecak.

"Ck, aku tau dari raut wajahmu Daniel. Kau merindukannya bukan?"

"Hyung, apa ini cinta?"

"Hm" manager Jung mengangguk.

"Jinjja"

"Ya, Daniel. Kau jatuh cinta pada suster Lee. Kau selalu memikirnya bukan dan kau merindukannya dan tidak ingin jauh darinya"

"Hyung, majjayo"

Manager Jung menghelas nafas.
"Daniel, lupakan suster Lee. Kau tak akan bertemu dengannya lagi"

"Kenapa hyung berkata seperti itu"

"Karna kemungkinan kecil kau bertemu dengan suster Lee, Daniel"

Daniel hanya menghelas nafas panjang. Memang benar apa yang dikatakan manager Jung. Selama hampir satu bulan ini dirinya tak pernah bertemu Rara padahal Daniel setiap satu kali dalam satu minggu dia akan cek kerumah sakit bersama manager Jung. Namun Daniel tak pernah melihat batang hidung Rara.

"Sudahlah Niel, lupakan secara perlahan. Kau pasti bisa"

"Akan ku coba hyung" Daniel mencoba merenungkan kembali. Manager Jung kemudian pergi meninggalkan Daniel.

###

"Daniel ireona!!"

"Aish, hyung"

"Kau ada jadwal pemeriksaan hari ini"

"Hyung biarkan aku tidur 5 menit saja"

"Aniyo, kau harus bangun sekarang"

"Aish, baiklah" Daniel langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi.

Setelah semua siap, mereka berangkat. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah sakit. Daniel masih saja murung, manager Jung benar benar tau kalau Daniel sedang berusaha melupakan suster Lee.

Daniel duduk di kursi tunggu saat ini bersama manager Jung.
"Hyung, aku ketoilet sebentar"

"Hm, pergilah"

Daniel beranjak dan pergi ke toilet. Tak lama kemudian dia kembali.

Dikoridor rumah sakit ada seorang pasien berlari dan dan tak sengaja menabrak dirinya. Pasien itu langsung pergi dan di belakangnya terdapat beberapa suster mengejar pasien itu.

Sementara Daniel masih terduduk dan memegangi tangannya yang cendera. Rasanya sedikit sakit.

"Gwenchana? Mianhae pasien kami membuat kekacauan dan menabrak anda" ucap suster itu dan memegang tangan Daniel yang dibalut perban karna cendera itu.

Daniel sedikit mengenal suara itu. Suara yang sudah lama tak ia dengar selama ini. Daniel perlahan melihat suster itu.

"Lee Rara" suster itu melihat Daniel.

"Kang Daniel-ssi?"

"Jinjja, Lee Rara"

"Su.. sudah lama tidak bertemu. Annyeonghaseo Kang Daniel-ssi"

"Kemana saja kau selama ini"

"Aku tidak kemana mana. Bagaimana dengan tanganmu?"

"Tidak masalah" jawab Daniel asal.

"Hm? Ah, mari aku bantu kau berdiri"

Rara membantu Daniel berdiri.
"Aku permisi Daniel" Rara membungkukan kepalanya dan pergi.

"Tunggu" Daniel memengan pergelangan tangan Rara.

"Ya Daniel-ssi"

"A..aniyo"

Rara tersenyum dan pergi dari hadapan Daniel. Kini Daniel benar benar terlihat bodoh, baru saja dia bertemu dengan suster Lee.

Daniel kembali duduk dengan kesal. Membuat manager Jung terheran heran padanya.

"Ada apa ?"

"Hyung, aku benar benar bodoh"

"Kau baru menyadarinya?"

"Hyung! Aku serius, aku benar benar bodoh"

manager Jung tertawa.
"Memang ada apa hm?"

"Aku bertemu dengan Rara"

"Mwo?"

"Dan aku melepaskannya begitu saja. Aish, hyung aku tak bisa melupakannya jinjja"

"Jeongmal?"

"Hyung, eoteokke?"

Manager Jung hanya menghelas nafas.
"Ikuti kata hatimu Niel, aku tak berhak melarangmu. Tapi pasti ada efeknya jika kau bersamanya. Bisakah kau melindunginya kelak?"

"Tentu hyung. Aku akan melindunginya. Walau itu berdampak pada karierku kelak"

Manager Jung tersenyum.
"Uri Niel sudah dewasa rupanya"

"Aish, hyung" Manager Jung hanya tertawa.

###

"Rara" seorang suster mencari keberadaan Rara dengan sedikit lari.

"Ne, suster Oh, ada apa?" Rara keluar dari dapur rumah sakit.

"Ah, untung aku bertemu denganmu. Rara tolong aku"

"Ada apa suster Oh"

"Bisakah kau ketaman menemani pasienku makan? Tiba tiba perutku sangat sakit. Aku akan ke toilet sebentar. Jebal" suster Oh memohon pada Rara.

"Tapi aku mau mengantar makanan ke pasien lain"

"Ku mohon Rara bantu aku. Bisa bisa aku dipecat"

"Hm, baiklah kalau begitu"

"Ya sudah pergilah ketaman sekarang. Di tempat duduk samping kolam" suster Oh agak mendorong Rara agar bergegas. Rara hanya jalan sedikit bingung.

Rara sudah sampai ditaman, sedikit bingung memgamati pasien satu persatu. Dan sepertinya Rara sudah menemukannya.

"Tuan, maaf apakah tuan pasien suster Oh?"

"Ne"

"Ah, annyeonghaseo tuan, Lee Rara imnida. Suster Oh tidak bisa memnemani tuan karna ada kepentingan"

"Ah, begitu rupanya"

"Sekarang waktunya tuan makan"

Rara mencoba mendekati dari depan pasien suster Oh.
"Annyeong, Lee Rara"

Rara membulatkan mata setelah pasien suster Oh itu menolehkan pandangan pada Rara. Sedangkan pasien itu tersenyum pada Rara yang masih terkejut.
.
.
.

Terimakasih untuk yang sudah membaca ^^ author akan bekerja lebih maksimal lagi agar tidak ada typo.

My Nurse - Kang DanielBaca cerita ini secara GRATIS!