• Sheiland #18 •

325K 28.7K 1.3K

"Kamu serius mau maksain sekolah hari ini?" tanya Aland ketika menjemput Sheila di rumahnya.

Aland merasa khawatir, apalagi setelah melihat wajah Sheila yang masih nampak pucat, bibir cewek itu yang biasanya berwarna merah muda tampak tidak semerona biasanya. Dia juga memakai jaket berwarna ungu yang kebesaran.

"Serius kok, sama seriusnya kayak perasaan aku ke kamu."

Aland terkekeh, mengusap lembut puncak kepala Sheila, lalu menuntun pacarnya itu ke dalam mobil. Benar-benar hati-hati seakan Sheila adalah porselen yang mudah pecah jika disentuh sedikit saja. Seperti di tubuh Sheila terdapat peringatan bertuliskan : awas mudah pecah, dan mudah baper. Maklum cewek.

"Resletingnya tarik ke atas, Shei," pinta Aland sembari mengeluarkan mobil dari halaman rumah Sheila. Memang, jaket yang Sheila gunakan hanya dipakai asal saja.

"Iya." Sheila menurut, menarik resleting jaket hingga ke atas dan menepuk-nepuknya seperti anak kecil.

"Kok kamu maksa buat sekolah? Seharusnya istirahat aja di rumah, biar cepet sehat."

"Kata Hilda hari ini ada ulangan sejarah, aku nggak mau ketinggalan, nanti ulangan sendiri."

"Emangnya kenapa nggak​ mau ulangan sendiri?"

"Soalnya nanti nggak bisa nanya jawaban ke yang lain kalo susah," jawab Sheila polos.

Aland tertawa sejenak, memamerkan pesona yang menjerat hampir semua kaum hawa di SMA Pelita.

"Kan katanya kita harus bekerja sama dan gotong royong, tapi kok pas ulangan begitu malah dimarahin," curhat Sheila sembari menatap figur Aland dari samping.

Aland hanya tersenyum tipis, karena ia malah lebih parah lagi jika ulangan. Dia akan memaksa teman yang pintar untuk meminta contekan, baru kemudian pura-pura mengerjakan sendiri jika guru mengawasinya.

"Kalo Aland lagi ulangan suka gimana?"

Alis Aland bertaut, baru saja ia memikirkan sebuah kebiasaan buruk yang sudah telanjur sering dilakukan jika ulangan, dan Sheila menanyakan soal itu. Jadi, bagaimana seharusnya ia menjawab?

Bagaimanapun, cowok dengan segala gengsinya ingin selalu terlihat baik dan sempurna di hadapan orang lain, apalagi orang yang disuka. Bahkan ada yang nekat sampai berbohong untuk melindungi citranya itu.

"Ya gitu," jawab Aland akhirnya setelah beberapa lama.

"Gitu gimana? Maksa yang lain buat kamu liat jawabannya?"

Aland menelan saliva, lalu nyengir.

"Iya kan? Udah ketebak sih, soalnya muka kamu mirip-mirip tukang sontek, walaupun ganteng."

Aland berdeham, merasa dipojokkan.

"Aland suka warna apa?" tanya Sheila tiba-tiba, dengan topik yang jauh berbeda. Diam-diam Aland bersyukur karena topik kesukaan rasanya tidak akan membuatnya terpojok. Apa hal yang disukai bersifat relatif, dan tentunya berbeda tiap individu. Jadi agak aneh jika ada yang mencela kesukaan orang lain tetapi marah ketika apa yang disukainya dicela balik.

"Abu-abu, atau item."

"Laki banget, aku pikir kamu suka pink."

"Kok bisa mikir gitu?"

"Abisnya di mata aku kamu imut-imut banget kayak warna pink, hehe."

Aland terkekeh, rasanya dalam hubungan ini Sheila yang lebih sering melemparkan godaan. Bukan dirinya.

"Kalo aku suka warna ungu."

"Kenapa?"

"Suka aja."

Sheiland (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang