----------
"Lebih baik terjebak hujan daripada terjebak dalam kenangan. Dan mungkin, lebih baik terjebak dalam antrean daripada harus terjebak dalam ingatan yang menyesakkan."
----------

***

Empat tahun yang lalu...

Pukul 08:00 WIB. Angin berdesir pelan. Gugurkan dedaunan yang tengah menikmati sapaan sinar mentari. Burung-burung pun berkicau di dahan pepohonan lantas terbang sebebas-bebasnya. Untuk mencari makanan dan menikmati hangatnya sang fajar.

Kuhirup udara yang begitu sejuk seraya menyecapi udara di hari yang baru. Kulihat, sang surya telah terbit. Senyumku pun menyabit. Bukan karena dijamah kehangatan cahayanya, tapi karena kehadiran seseorang yang kuanggap malaikat. Malaikat baik namanya. Apabila ia ada, bahagia pasti kurasa. Dan itulah sebabnya, aku merasa begitu nyaman jika berada di dekatnya.

Aku melengkungkan senyuman riang di bibirku. Sepagi ini, malaikat itu datang dan semakin mencerahkan hari. Pun, memeriahkan langit di hati.

Entah mengapa, seseorang yang kuanggap sebagai malaikat baik itu selalu punya beribu cara 'tuk membuatku bahagia. Hingga senyuman dan gelak tawa tercipta.

Malaikat baik itu menutup mataku dengan kedua tangannya. Ia datang dari arah belakang, sehingga aku tak tahu bahwa ada dia di taman ini. "Pagi, Lea!" Malaikat baik itu bersuara dan melepaskan tangannya. Aku pun jadi bisa melihatnya karena aku membalikkan badanku.

Aku menatapnya dengan tatapan yang riang. Senyuman pun tak lupa kusertakan. "Pagi, Adam dudidamdamdam!" balasku dengan nada senang. Entah mengapa, sepagi itu aku sudah mendapatkan stok bahagia yang begitu banyak. Dan itu karena malaikat baik. Adam Ahmad Fauzan namanya. Ia sahabat kecilku.

'Catat ya! Seseorang yang kuanggap sebagai malaikat baik itu namanya Adam.'

"Ahaha! Ngeselin loe!" Adam tertawa renyah lalu mengacak tatanan kerudungku yang berwarna biru.

"Biarin! Wle!" kataku seraya menjulurkan lidah padanya. Kemudian, aku membenarkan kerudungku yang sepertinya jadi agak berantakan.

"Ya deh," ucap Adam, pasrah. Ia lebih memilih untuk mengalah. Karena pada akhirnya, akulah yang akan menang karena kebawelanku saat itu. "Eh! Main gitar, yuk!" lanjutnya seraya menggenggam tanganku.

"Emangnya bawa?"

"Bawa kok. Tuh!" jawab Adam seraya menunjuk gitar kesayangannya yang ada di dekat sebuah batang pohon yang tumbang.

Aku pun mengangguk seraya berjalan mengikuti Adam. Lalu, aku duduk di bawah pohon yang rindang. Sementara, Adam duduk di batang pohon yang tergeletak di atas padang rumput itu.

"Dengerin gue nyanyi, ya, Lea...," pinta Adam seraya mulai memetik senar gitarnya sebagai intro. Tak lama kemudian, ia pun mulai bernyanyi dengan suaranya yang enak didengar. Merdu.

🎶
Aku yang pernah engkau kuatkan.
Aku yang pernah kau bangkitkan.
Aku yang pernah kau beri rasa..

Saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti..
Selama itu aku akan selalu mengingatmu...

Kapan lagi kutulis untukmu..
Tulisan-tulisan indahku yang dulu...
Pernah warnai dunia...
Puisi terindahku hanya untukmu..

Mungkin kau akan kembali lagi..
Menemaniku menulis lagi...
Kita arungi bersama..
Puisi terindahku hanya untukmu...
🎶

Adam pun menyanyikan lagu itu sampai tuntas. Ia bernyanyi seraya menjiwai isi lagu tersebut. Mungkin saja, ia juga merasakannya. Sesekali, ia tersenyum simpul ke arahku yang tengah memerhatikannya.

 Sesekali, ia tersenyum simpul ke arahku yang tengah memerhatikannya

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!