Wanita Berniqab

2.4K 247 29

Warning!!

Ini hanyalah khayalan author semata. Jadi, apabila yang saya tulis ini beda dengan apa yang ada di dunia nyata mohon kemaklumannya. Karena memang saya masih kurang dalam ilmu pengetahuan sosial.

-------

Tujuun awal mereka dikirim ke kerajaan Saudi Arabia adalah untuk menunjukkan bahwa para pemuda pemudi Indonesia masih memiliki adab dan sopan santun. Tak hanya itu, para muslim di Indonesia juga masih menjunjung tinggi akan agama mereka. Warga Indonesia tidak akan mengelak jika dunia mengatakan bahwa di Indonesia sering terjadi kejahatan, baik itu pembunuhan sesama saudara ataupun pelecehan agama.

Prilly, sebagai warga Indonesia sebenarnya merasa prihatin terhadap kondisi negaranya. Ia juga merasa marah pada orang-orang yang menghina agamanya. Tetapi dengan adanya undangan ini ia akan membuktikan bahwa tidak semua warga Indonesia terlebih muslim, buta dan tuli terhadap apa yang terjadi dinegaranya.

Hari ini ialah hari keempat mereka berada di Arab. Dan di hari ini juga mereka ikut berpartisipasi bersama anggota kerajaan. Agenda untuk hari ini adalah mengunjungi panti asuhan dan pemukiman warga Arab.

Prilly kini sedang berada di sebuah bangunan yang berfungsi sebagai panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu. Di hadapannya mereka sudah duduk dengan rapi.

Prilly sama sekali tidak merasa kesulitan saat berkomunikasi dengan pemilik panti asuhan, karena memang dia fasih dalam berbahasa arab. Ia juga ikut menyumbangkan motivasi-motivasi yang mampu membangun semangat hidup mereka.

"Kalian tahu tidak, dulu kakak sangat malas dalam belajar. Semua nilai pelajaran kakak berwarna merah, cuma satu yang hitam, yaitu agama." jeda Prilly, lalu memerhatikan sekitarnya "lama kelamaan kakak jadi malu, terus minder. Banyak kawan kakak berlomba-lomba mendapatkan peringkat satu dan menjadi juara umum. Mereka terus belajar, bahkan terkadang mereka rela melewatkan waktu makan siang. Dari situ kakak mulai penasaran dan bertanya-tanya. Apa serunya sih menjadi juara? Apa mata mereka tidak sakit membaca selalu? Apa mereka tidak bosan? Tidak lelah?"

"Kakak mulai sadar saat kakak menyaksikan kesuksesan mereka. Ada yang menjadi dokter, guru, dosen, polisi, dan sebagainya. Kakak sedih. Kakak sedih karena tidak bisa membahagiakan kedua orangtua kakak. Tidak bisa membanggakan kedua orangtua. Di situ kakak ingat akan satu hal, kalau dalam menuntut ilmu tidak pernah ada kata terlambat. Kalian ini adalah penerus bangsa. Jika kalian semua malas belajar, mau jadi apa negara ini kedepannya? Kalian mau negara kalian di jajah? Tidak, bukan?"

"Tidak." seru anak-anak serempak.

Prilly tersenyum, "Nah, kalau kalian tidak ingin dijajah, maka kalian harus giat menuntut ilmu! Apa semuanya mengerti?"

"Mengerti."

*****

Malam harinya, Prilly dan teman-teman kembali mendapat undangan makan malam dari Raja Syarief. Tetapi karena Syifa jatuh sakit, maka harus ada seseorang dari mereka berempat yang bersedia untuk tinggal. Dan Prilly memilih mengalah.

"Maaf ya,Ra. Karna jagain aku sakit, kamu jadi gak bisa ikut makan malam bareng keluarga Raja." ucap Syifa ketika mereka tinggal berdua.

"Gak papa, Kak. Saya ikhlas kok. Lagian saya juga gak terlalu kepengen ke sana. Kakak istirahat aja! Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat minta bantuan saya!"

"Iya, Dek. Makasih."

Prilly mengangguk, "Sama-sama, Kak."

Sambil menunggu kepulangan teman-temannya, Prilly membaca sebuah novel yang memang sengaja ia bawa dari rumah.

Suasana terasa semakin dingin. Prilly melirik ke arah Syifa, yang ternyata sudah tertidur pulas. Setelah memastikan Syifa tidur dengan nyaman, Ia kembali ke kamarnya untuk melaksanakan solat isya.

Takdir Yang Telah Diatur Baca cerita ini secara GRATIS!