32. Eyes For Me [END]

5.4K 336 91

"Kata Soulmate memiliki dua arti;
Beruntung dipertemukan dan bersama, atau tercipta serupa tapi tak pernah bisa bersatu."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

Saatku membuka mata, hal pertama yang kulihat hanyalah warna putih. Tak ada apapun di sekitarku. Aku mencoba untuk berdiri dan berkeliling di tempat ini, akan tetapi tak kutemukan siapapun.

Sebenarnya di mana aku?

"Ahaha, aku terbang Uncle!"

Aku terlonjak kaget mendengar suara tawa anak kecil yang sedikit menggema di telingaku. Aku tidak sendirian! Tapi mereka di mana?

Mataku tak sengaja menatap lorong kecil dengan warna putih yang lebih bersih. Kulangkahkan kakiku dan sedikit mengernyit karena kabut tebal menutupi pandanganku.

Alangkah terkejutnya aku saat melihat Defian sedang menggendong anak perempuan, mereka tertawa bersama tanpa menyadari kehadiranku.

"Defian?" panggilku memastikan.

Pria itu akhirnya menoleh dan tersenyum padaku. Senyum yang begitu tulus dan entah hanya perasaanku saja, ia terlihat berpuluh-puluh kali lipat lebih tampan dari yang kutahu.

"Hai," sapanya.

Anak perempuan dalam gendongannya ikut menoleh dan tersenyum riang saat melihatku. Pipinya chubby membuat siapapun akan merasa gemas ingin menggigitnya. "Mama!"

Mama?

Anak itu meminta untuk diturunkan oleh Defian dan berlari kecil ke arahku, lalu memeluk sebelah kakiku. "Mama bangun, Uncle!" teriaknya senang.

Sejak kapan aku menikah dengan Defian?

Defian menghampiri kami dan mengelus rambut gadis kecil ini dengan sayang. "Uncle bilang juga apa, berdo'a terus supaya Mama kembali."

Tunggu dulu, Mama? Uncle? Jadi bukan anakku dan Defian? Tapi anakku dan ....

"Mama tidurnya lama. Kalau gak ada Uncle, aku kesepian." Gadis ini melirikku dan cemberut. Ekspresi yang sama seperti ayahnya. Ya, seperti Agam. Tapi benarkah?

Defian terkekeh geli, "Jangan begitu. Nanti Mama kamu tidur lagi, loh."

"Iiihh jangan dong! Kasihan Papa."

Aku yang memang sejak tadi penasaran, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Anak manis, nama kamu siapa?"

Namun yang kudapatkan justru wajah sedihnya, dan dengan cepat ia menyembunyikannya dengan memelukku kembali, membuat keningku berkerut semakin dalam.

Sepertinya Defian mengerti aku kebingungan. Tanpa senyuman yang terlepas ia menjawab pertanyaan di dalam kepalaku. "Dia anak kita."

Melihat diriku yang terbelalak tak percaya ia justru tertawa puas. "Bercanda. Dia anak kamu, Zoya."

Anakku? But, wait ... he called me Zoya? Seorang Defian sejak kapan menggunakan kata aku-kamu kepadaku?

"Salah kalau aku panggil nama kamu?"

Aku terperangah saat mendengar ia bertanya seolah dapat mengetahui apa yang kupikirkan. "Bu-kan begitu. Cuma agak aneh aja. Rasanya elo gak normal."

Kudengar ia bergumam, "Itu kenapa aku menyukaimu." Ah, tapi mustahil. Mungkin aku hanya salah dengar saja.

"Sebenarnya kita di mana?" tanyaku heran.

Tapi ia tak menjawab, hanya tersenyum sembari memainkan sesuatu di tangannya. "Itu apa, Def?"

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!