30. Butiran Pasir

2.7K 235 31

Aku mau curhat sedikit ya. Kesulitan dalam menulis cerita ini, aku terlampau sering menggunakan flashback.

Aku sengaja merencanakan seperti itu, tapi ternyata susah juga. Perlu berulang kali aku baca ceritaku ini setiap mau nulis part baru untuk menghilangkan plot hole di tengah-tengah cerita kemarin.

Seperti part ini, aku harus benar-benar jeli, makanya proses nulisnya lama. So, happy reading! 😘

Note: Aku siap diserbu kalian di wall gara-gara part ini, hahaha.

*****

"Banyak hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan oleh lidah, salah satunya cinta."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

Agam Pov
(Sudut Pandang Agam)

Cinta yang kutahu adalah sesuatu yang rumit, sampai aku tak yakin dapat mendeskripsikannya dengan benar.

Kupikir hanya akan jatuh cinta sekali seumur hidupku. Bahkan aku telah lancang berandai-andai tentang masa depan kami sejak kecil, bagaimana aku dapat melihat diriku semasa kecil saat aku dewasa nanti. Bagaimana aku akan melihat wajah gadis belia yang sama untuk kedua kalinya.

Moira Amerina Soenjaya. Aku telah merasakan getaran aneh yang kupikir sebuah penyakit ini sejak pertama kali melihat gadis itu berdiri di depan rumahku bersama sang ibu.

Orangtua kami cukup dekat semasa sekolah menengah atas, khususnya ibuku dan ibu Moira. Namun setelah menikah, orangtuaku memilih untuk tinggal di California karena Papa memiliki karier bagus di sana. Papa merupakan karyawan perusahaan jasa dengan prestasinya yang cemerlang sebagai modal mencuri peluang untuk menjadi eksekutif muda di sana.

Saat Papa telah berhasil menjadi eksekutif muda dalam bidang perhiasan, Papa mencoba untuk membuka cabangnya di negara asal kami. Sehingga orang tuaku memutuskan untuk menetap di Indonesia. Rencana kami disambut baik oleh kedua orangtua Moira. Mereka bahkan menyarankan untuk tinggal bersebelahan sebagai tetangga, yang kebetulan rumah di samping mereka masih kosong. Jadi lah ibuku kembali dekat dengan ibu dari Moira.

Hingga aku baru tahu jika mereka memiliki anak gadis seusiaku dan anak laki-laki yang baru berusia tiga tahun saat bertamu ke rumahku untuk pertama kalinya.

"Wah ... ini pasti Moira, ya? Cantik, persis seperti di foto yang kamu kirimin ke aku, Mona. Firza cintanya lebih besar ya, soalnya Moira mirip banget sama Papanya. Hahaha," canda Mamaku.

"Hahaha, bisa aja kamu, Irana. Oh iya, ini pasti Wafi ya? Tuh, kamu sekarang punya teman yang seumuran, Moi! Ayo kenalan dulu sama Wafi," ajak ibunya Moira.

Gadis di hadapanku justru cemberut, "Yahhh ... tapi gak bisa diajak mainan boneka, Bunda." Para ibu justru tertawa mendengar jawaban gadis itu.

"Tapi kan bisa main monopoli bareng. Kenalin, aku Wafi." Entah darimana keberanian itu datang. Aku yang terkenal cuek, kini menjulurkan tangan terlebih dahulu.

Gadis itu menatapku sebentar sebelum meyambut tanganku. "Moira."

>>>>>

Seharusnya, aku berhasil menikah dengan orang yang kucintai saat umurku telah menginjak dua puluh tiga tahun. Tergolong muda tapi apa yang salah dengan itu? Aku berhasil membuktikan pada Papa jika aku mampu memimpin perusahaan pusat dengan baik selama dua tahun belakangan sembari menyelesaikan studi S1 dan S2-ku di California.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!