29. Kesalahan Permainan

2.7K 243 40

"Jangan pernah bermain dengan cinta, karena cinta yang akan mempermainkanmu."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

Kehamilanku sudah memasuki minggu kesepuluh, belum begitu terlihat tapi sudah terasa sedikit menonjol di area tengah tulang panggul. Kabar baiknya, morning sickness yang cukup menyiksaku sudah mulai berkurang berkurang.

Kabar buruknya, aku merasa sedikit nyeri di bagian dada dan mudah lelah. Tapi bagiku yang paling buruk adalah meningkatnya indera penciumanku. Aku bukan sedih kesulitan untuk makan karena bau makanan sedikit menusuk hidung atau amis saja aku bisa muntah, tapi karena rasa rinduku mampu membuatku tak berhenti menangis setiap kali aku mencium harumnya.

Setiap hari aku akan menggunakan kemeja miliknya, tertidur di ruang kerja ataupun menggunakan bantal milik Agam. Apapun itu yang menurutku banyak terdapat wangi khas tubuh suamiku. Aku sedih sekaligus bahagia, karena dengan kemampuan baruku, aku bisa meyakinkan diri sendiri jika ia selalu disisiku. Karena dia malaikatku.

Kemarin Defian sudah menceritakan banyak hal kepadaku, termasuk kesalahpahaman yang berakhir bencana. Sejujurnya dulu aku menangis saat mengetahui Ramon selingkuh bukan karena aku mencintainya, tapi siapa sih orang yang suka dikhianati? Aku hanya tidak menyukai caranya dulu, mencintai orang lain diam-diam di belakangku, parahnya lagi menghamili wanita lain sedangkan ia masih berstatus sebagai pacarku.

Banyak hal yang tak bisa ku deskripsikan dengan jelas. Namun sejak aku bertemu kembali dengan Agam, memandangi wajah sendunya di Cafe, atau mungkin sudah jauh lebih lama dari itu, aku mengerti artinya mencintai seseorang. Mungkin aku hanya terobsesi pada Ramon. Ya, mungkin begitu. Karena kenyataannya, aku hanya mencintai satu orang sejak dulu. Dia suamiku.

Entah sejak kapan walaupun ingatanku menghilang, getaran itu masih terasa di dadaku setiap kali melihatnya dari jauh, menatap matanya secara langsung, dan menyentuhnya. Karena dia aku memberanikan diri untuk berbohong pada Papa, Mama, Dokter Fathia dan memilih berusaha menggali sendiri apa yang telah hilang selama ini. Karena aku merasa, aku mengenalnya dan memang benar, hatiku mengenal dengan baik siapa pemiliknya.

"Kak, Papa minta elo tinggal di sana dulu sampai suami elo pulang. Defian kan gak bisa selalu nemenin elo di sini, gue juga."

"Gue sendirian juga gakpapa kok, Lan," balasku tanpa mengalihkan pandangan dari foto konyol kami yang berada di pangkuanku. Aku yang menjulurkan lidah dan Agam yang mengerucutkan bibirnya seperti bebek.

"Ck, kalo elo sendirian di sini, siapa yang mau ngingetin elo buat makan? Hampir seharian yang gue liat selama di sini, elo cuma duduk di situ bahkan suka sampai ketiduran. Kasihan kan calon ponakan gue!" keluhnya.

"Gue pasti makan, tenang aja."

"Tapi Kak, Papa-"

"Gue gak mau ninggalin rumah ini, Lan! Cuma di sini gue bisa ngerasain kalau dia ada. Cuma di sini gue bisa ngerasain wanginya dia." Tanpa terasa setetes air jatuh dari pelupuk mataku.

Alan menghela napas panjang, "Ternyata cinta itu mengerikan ya? Yaudah deh, nanti gue bilang sama Papa kalo elo lebih nyaman tinggal di sini."

Aku hanya menggangguk lemah.

"Gue mau ke supermarket dulu ya, mumpung masih sore. Susu hamil buat elo stock-nya udah abis, sekalian kan gue juga cari snacks, gue bakal di sini sampe Defian balik lagi ke Indo. Ini, dimakan ya sandwich buatan gue, harus abis!"

"Iya, makasih Lan."

"Gue tinggal sebentar ya, Kak." Aku hanya menggangguk pelan sebagai jawaban.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!