26. Remembrall Sickness

Mulai dari awal

Tubuhku perlahan dibaringkan di sofa ruang tamu. Ketika Agam hendak berdiri, aku langsung mencengkram lengan suamiku secara spontan hingga ia terkejut. "Kamu kenapa sih, Sayang? Jangan nakut-nakutin aku gini, dong! Kamu abis dikejar apa sampai mau pingsan begini?"

Matilah aku. Aku lupa satu hal, kalaupun aku berhasil sampai di rumah dengan selamat, melihat suamiku baik-baik saja, tapi apakah perlu aku ceritakan hal yang sebenarnya? Hal yang baru beberapa saat lalu muncul diingatanku? Ya Tuhan, aku dilema. Aku takut Agam akan meninggalkanku, setelah mengetahui jika istrinya adalah seorang pembunuh.

Aku memilih untuk diam hingga ia berdecak pelan, "Kamu tunggu di sini, aku ambil air minum dulu. Oke?"

Mau tak mau aku mengangguk pelan dan harus merelakan ia pergi sebentar, walaupun jantungku masih berdetak kencang, ketakutan. Setidaknya aku bisa terbebas dari kewajiban menjawab pertanyaan Agam barusan.

Sejujurnya aku bukan takut diriku yang terancam, tapi keluargaku, Mama, Papa, Alan, dan ... suamiku, Agam. Sejak mataku dan Ramon bertatapan tadi, aku tahu jika orang-orang yang kusayangi berada dalam bahaya. Tapi bagaimana seharusnya cara memberitahu mereka? Bagaimana caraku melindungi mereka?

>>>>>

Pada akhirnya aku memilih berbohong jika tempo hari aku ketakutan karena dikejar orang gila. Tentu saja setelah itu raut wajah Agam yang semula tegang, panik dan khawatir, langsung mencair dan ia tertawa terbahak-bahak. Tidak apa, setidaknya aku berhasil mengalihkan pembicaraan kami setelah itu.

"Astaga Zoya ... padahal aku sudah bersiap lapor ke polisi tadi. Kamu ini benar-benar langka." Begitu ucapannya yang masih sangat terekam dengan jelas.

Tapi aku bersikeras memintanya untuk bekerja di rumah saja karena aku benar-benar ketakutan, kubilang orang gila itu mempunyai rupa menyeramkan seperti setan. Awalnya Agam tak setuju tapi ternyata kesehatanku juga menurun setelah itu, mengingat aku sering muntah terutama di pagi hari, jadi pada akhirnya ia menyetujuinya dan membuatku sedikit lebih lega.

Jadi di sinilah aku, di ruang kerja suamiku, bermanja ria di pangkuan Agam, sementara ia masih tetap fokus membuat desain jewelry proyek baru miliknya.

"Sshhh, kamu kenapa jadi agresif begini sih, Sayang? Waktunya gak tepat, Zoya." Agam meringis ketika aku memang dengan sengaja bernapas di tengkuknya.

Aku cemberut, "Emangnya kenapa sih? Sok jual mahal ya, sekarang. Kemarin-kemarin aja, aku sampai tidur seharian gara-gara kamu!"

Agam tertawa, "Bukan begitu. Tapi kamu lihat kan aku lagi kerja? Aku udah ngalah loh buat kerja di rumah. Tapi godaannya banyak banget. Kayaknya emang perlu ada pengajian di sini, buat ngusir setan di rumah ini."

Aku mendengkus sebal yang mana semakin membuat Agam puas menertawakanku. Aku juga heran sebenarnya, nuraniku jelas memahami jika ada bahaya yang mengancam, tapi entah kenapa aku lebih seperti kucing haus belaian begini.

"Zoya marah pokoknya!" Aku menyilangkan kedua tanganku di depan setelah kami bisa berhadapan langsung. Aku sempat melihat jakun Agam bergerak naik turun beberapa kali setelah tak sengaja melirik dadaku yang katanya terlihat lebih berisi. Aku tersenyum licik, sepertinya aku akan menang sebentar lagi.

Tapi mungkin aku sedang sial, Agam justru memilih meletakkanku ke meja. "Kamu lapar, gak? Aku lagi pengen ice cream. Di freezer ada, kan?"

Aku memutar bola mata, "Zoya itu jenis es krim paling enak, Agam!"

Agam terkekeh, "Jangan sekarang, oke? Aku mau ambil es krim dulu, tunggu di sini. Aku jamin kamu makan paling banyak nanti, kamu kan rakus."

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!