27. Silent Witness

2.4K 238 30

"Angel is silent witness. But always in front to protect you and die first."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

- Defian POV -
(sudut pandang Defian)


Dulu, sebelum dia menghampiriku di pinggir jalan, aku tak pernah tahu jika wanita bodoh itu memiliki hati yang luar biasa baik.

Dulu, aku sempat menertawakan kesialannya karena menjadi salah satu korban cinta yang salah, sama sepertiku.

Tapi semua itu hanya aku yang dulu. Karena setelah aku mengenalnya, aku hanya berharap dia dapat melupakan semua hal yang memberikannya rasa sakit. Karena sungguh, siapapun yang benar-benar mengenalnya, tak kuasa melihat ia menangis walaupun hanya setetes air mata mengalir di kedua pipinya.

Namun, siapa sangka jika permintaanku dikabulkan? Dia benar-benar melupakan semuanya.

Satu hal yang kusesali, aku lupa meminta agar ia selalu terlindungi. Aku merasa gagal untuk ketiga kalinya melindungi orang yang sangat kusayangi.

Cukup Eruna dan Mama saja, jangan dia. Andaikan aku harus menggantikannya dengan diriku sendiri, pasti akan kulakukan. Karena aku tak akan pernah merasa berarti tanpa dia.

Mencintai dalam diam, kupikir dengan begitu ia akan mendapatkan kebahagiaannya. Karena bagiku, dia tersenyum untukku saja itu sudah cukup. Karena aku tahu, aku tak pantas untuknya. Karena ku tahu, dia mencintai seseorang sejak dulu. Dia hanya tak tahu saja, jika aku telah lama mengenalnya lebih lama dari yang ia ketahui.

Orang yang dicintainya itu adalah asal mula semua kesalah pahaman ini terjadi. Penyebab dia menyalahkan dirinya sendiri. Hanya aku yang tahu, setidaknya hingga saat ini.

>>>>>

"Hiks, kenapa sih kamu jahat telus sama aku?! Aya salah apa sama Pian? Kalau Pian mau buku Aya, ambil aja. Tapi jangan dilusakin, kasian." Gadis kecil seumuranku menangis tersedu-sedu setelah kuinjak buku tulisnya sampai beberapa bagian ada yang sobek.

Maaf, tapi entah kenapa aku begitu membencinya. Melihat Ayah dan Ibunya yang harmonis, melihat dia hidup serba berkecukupan. Melihat bayi laki-laki yang baru lahir begitu disayangi olehnya, aku benci melihat itu semua. Karena aku tak bisa merasakannya. Aku iri pada gadis ini.

Tapi aku hanya tertawa mengejek dan berlalu begitu saja, tak berniat menjelaskan padanya. Memang siapa dia?

Aku terus melakukan hal yang kukira akan membuatku senang, sampai aku rela menaiki tangga kayu hanya untuk menaruh ember di atas pintu masuk toilet perempuan dan berharap gadis itu akan mandi kedua kalinya pagi itu saat dia hendak masuk.

Namun, sial. Laki-laki seumuran denganku yang sedang berjalan dengan temannya tak sengaja melihat ember di atas toilet, dengan sigap ia menarik lengan gadis itu dari belakang, tapi sayang dia tak bisa menangkap tubuh gadis kecil yang kubenci karena ia berada di sisi sebelah kanan sedangkan laki-laki itu di sebelah kiri. Tapi beruntungnya saat itu temannya berhasil menangkap sang gadis sebelum terjatuh. Ya, dia Ramon. Tetanggaku.

"Ma, Aya tadi ketemu pangelan tahu, Ma!" Aku menghentikan langkah saat melihat gadis itu berbicara pada ibunya.

"Hahaha, yang bener? Ganteng gak?"

Anak itu mengangguk dengan bersemangat, "Tadi Aya sepelti Plincess Elle dansa sama Beast."

'Apa yang dia maksud dengan dansa itu, adegan ketika ia ditangkap anak laki-laki tadi?' bisik hatiku tak sengaja mencuri dengar percakapan mereka.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!