25. Alasan Terpendam

2K 217 18

Vote dan comment dulu pokoknya sebelum baca. Maksa nih. Wkwkwk

Happy reading!😘

*****

"Bagiku tak pernah ada mimpi.
Hanya tersedia kenangan dan peringatan."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

Tak terasa usia pernikahan kami sudah berjalan hampir satu tahun. Sejak pernyataan cinta yang bermula dariku itu kemudian disusul dengannya, hubungan kami benar-benar harmonis sampai sekarang. Aku mencoba melupakan rasa penasaranku pada Agam walaupun itu jelas sangat menggangguku, aku hanya ingin bahagia dan itu cukup. Mungkin nanti ada saatnya dia jujur padaku dan bersikap terbuka.

Hanya saja kini semakin sering kudengar pertanyaan yang membuat telingaku terasa panas setiap kali mendengarnya, baik dari keluargaku, keluarga suamiku ataupun orang lain ketika mengetahui usia pernikahan kami sekarang tapi melihat belum ada tanda-tanda kami akan memiliki calon buah hati.

Oh ayolah, aku mengerti jika orang tua kami sangat tidak sabar untuk menimang cucu. Tapi tolong jangan sindir kami terus-menerus, itu hanya akan membuat Agam tersenyum licik padaku hampir setiap harinya. Sudah satu bulan ini aku benar-benar tidak menginjakkan kaki di supermarket. Bahkan keluar rumah pun bisa dihitung dengan jari. Apa masih perlu aku jelaskan penyebabnya?

Suamiku yang herannya tak kenal rasa lelah, padahal ia selalu menggempurku setiap malam hingga kedua kakiku terasa seperti jelly ketika bangun di pagi hari. Oh sebenarnya aku bangun pun hanya untuk melihat wajah suamiku yang mesum itu, dia sangat pengertian memilih untuk sarapan dengan sandwich buatannya sendiri setiap pagi.

Jangan ikut-ikutan memujinya, percayalah aku bangun pun karena dibangunkan olehnya dengan ciuman selamat pagi yang berawal sangat manis, tapi berujung tusuk sate berkali-kali. Pria itu benar-benar. Enak sih, tapi membuatku jadi seperti pemalas. Tidak apa-apa kan jika aku berkata jujur? Toh aku sudah menikah. Aku bukan Alan yang burungnya senang hinggap di mana saja.

Ya, beginilah aku jadinya. Bangun sendiri di siang hari untuk mengantarkan makan siang suamiku, atau aku memilih menonton drama korea di rumah ditemani dengan persediaan makanan yang kalau dipikir-pikir cukup banyak juga yang kuhabiskan setiap harinya. Agam pernah bilang aku gemukan dan aku tak peduli. Aku begini kan karena dia juga. Agam hanya tertawa mendengar jawabanku.

"Dok, jadi ada kemungkinan saya belum sembuh?" tanyaku. Saat ini aku sedang berkonsultasi dengan Dokter Fathia, psikiater yang sudah dekat dengan keluargaku, tanpa persetujuan Agam. Karena memang aku sengaja menyembunyikan hal ini darinya.

"Kamu memang mengidap gamophobia, rasa takut terhadap pernikahan. Tapi kamu berhasil melewatinya. Coba lihat Zoya, kamu sudah menikah sekarang. Memang cara menghilangkannya harus berangsur-angsur tidak bisa langsung. Kamu hanya perlu membuang semua pikiran negatif di kepala kamu, berusahalah terus untuk selalu positive thingking. Karena memang namanya makhluk hidup pasti akan menghadapi masalah, jangan berpikir itu dampak yang kamu dapat dari pernikahan."

"Tapi Dok, sampai sekarang Zoya masih takut pernikahan kami tak akan bisa bertahan seperti Mama dan Papa. Zoya juga takut untuk memiliki momongan. Karena sampai sekarang Zoya masih meragukan Agam," keluhku.

Aku memang mengkonsumsi pil KB, lagi-lagi tanpa persetujuan Agam. Aku merasa berdosa setiap kali melihat raut wajahnya yang sangat ingin memiliki buah hati. Aku sendiri yang membuat usaha kerasnya gagal selama ini. Aku tahu aku salah, tapi kalian tak pernah berada di posisiku.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!