23. Intuisi Nostalgia

2.4K 221 10

Jangan lupa untuk vote dan commentnya.

Happy reading everyone! 😘

*****

"Suatu hubungan tanpa rasa saling percaya sama seperti mendaki dengan tali tanpa simpul, tak cukup kuat untuk bertahan."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

"Lagi masak apa ini istriku?" bisik Agam di telingaku. Ia memelukku dari belakang, kebiasaan barunya setelah menikah yang sangat kusukai.

Aku tersenyum simpul, "Aku lagi coba buat gulai iga sapi, nanti tolong bilang ya kalau kurang enak atau kurang bumbu. Ini pertama kalinya aku coba masak iga sapi."

"Aku berani jamin masakan kamu selalu enak, walaupun aku sama sekali belum pernah makan masakan Indonesia tadinya. Tapi kalau kamu yang masak pasti enak," kata Agam membuatku tertawa lebar.

Aku tahu dengan jelas maksud dari kata-katanya barusan. Karena setelah tiga bulan kami menjalani pernikahan ini, akhirnya aku mengerti kenapa Agam sampai benar-benar tidak tahu makanan khas negeri ini walaupun Ayahnya jelas-jelas keturunan Indonesia.

Semua itu karena Mama Irana tak mahir memasak, belum lagi masakan Indonesia membutuhkan bumbu yang banyak, membuat ibu mertuaku itu frustrasi. Beruntung ayah mertuaku begitu mencintai istrinya dan sangat menghormati masakan istrinya ketimbang masakan restoran. Jadi mereka akhirnya menemukan solusi, walupun tidak terlalu enak --masih layak dimakan-- Mama Irana memang lebih baik memasak makanan yang irit bumbu. Jadilah setiap hari Agam lebih kenal masakan Western dibanding negara asalnya sendiri.

Lucu memang, tapi kuanggap sebagai warna-warni keluarga besar kami. Karena kupikir jika keluargaku diulik lebih dalam, keluargaku punya banyak cerita lucu juga. Selain itu, sejak Mama Irana tahu aku cukup pandai memasak, Mama rutin mengunjungi rumah kami dua hari dalam seminggu. Aku bersyukur karena dengan begitu, aku lebih dekat dengan mertuaku dan aku tak merasa kesepian di sini.

Oh iya, aku lupa bercerita. Sekarang kami sudah pindah ke rumah baru. Rumah yang memang sudah disiapkan oleh Agam sejak masih bujang untuk keluarga kecilnya nanti. Ternyata dia memang tahu seleraku, rumah hunian ini tidak sebesar mansion tapi cukup luas dengan Taman di depan dan di belakang rumah. Aku benar-benar memimpikan memiliki rumah seperti ini walaupun hidupku sedikit glamor. Agam tidak pernah keberatan dengan itu, karena aku tak pernah menuntut dan lagipula dia kan bekerja juga untukku.

Aku mematikan kompor dan membalikkan badan hingga berhadapan langsung dengan suamiku. "Minggu depan Defian mau balik ke Indo. Boleh gak dia mampir ke sini?" Satu lagi yang lupa kuceritakan. Defian sudah kembali ke Sidney sehari setelah resepsiku selesai. Dia bilang sudah selesai tugasnya menjagaku, karena aku sudah memiliki malaikat penjaga yang lebih baik sekarang.

Raut wajah Agam langsung berubah, "Enggak boleh! Ketemu di luar aja. Itu juga kamu harus ditemenin Mama atau sama Alan."

Aku mencebikkan bibir, "Iihhh, posesif!"

"Pokoknya tetap gak boleh bawa pria manapun masuk ke rumah ini. Kecuali keluarga kamu sama keluarga aku, apalagi kalau aku lagi enggak di rumah," ujar Agam keras kepala.

"Tapi Def itu udah Aya anggap keluarga sendiri. Lagipula Agam bilang Aya harus ditemenin Alan atau Mama? Alan kan udah balik buat nyelesain thesis dia, terus ya kali Aya ngajak Mama Irana buat ketemu Def? Agam nyebelin!" cerocosku sebal.

Agam justru terkekeh geli mendengar keluhanku. "Omong-omong ini pertama kalinya kita berdebat dari awal menikah."

🎵... I like me better when I'm with you

I like me better when I'm with you

I knew from the first time, I'd stay for a long time

'Cause I like me better when

I like me better when I'm with you ....🎵

Ponsel disaku celana jogger pants-ku berbunyi. Sudah bisa dipastikan ini Defian, karena aku juga baru dikabari dia akan berkunjung ke sini dua jam lalu setelah aku berlatih pilates di rumah sebelum sibuk di dapur.

"Def, gak dibolehin. Agam nyebelin!" aduku pada Defian dari seberang telepon. Sedangkan Agam sempat terkesiap tapi masih berusaha menjadi pendengar yang baik.

"Hahaha ... udah gue duga. Laki elo itu sentimen sama gue, ya salah gue juga sih emang. Yaudah maunya ketemu di mana?"

Aku mendengkus, "Agam juga bilang kalo mau ketemu elo, harus ditemenin Mama Irana kalau enggak sama Alan. Kan mustahil!"

"Astaga! Coba bilang ke laki elo, nanti elo ketemu sama gue ditemenin Mama Alisha, gakpapa lah. Seenggaknya gue gak canggung kalau sama Mama daripada sama ibunya dia."

"Defian bilang nanti Aya ditemenin Mama aja, soalnya Defian lebih kenal sama Mama daripada sama Mama Irana, boleh?" tanyaku pada Agam. Ia tampak menimbang-nimbang hingga akhirnya mengangguk dengan berat hati. Aku langsung tersenyum sumringah.

"Yes, boleh Def! Kita ketemuan di Cafe tempat biasa gue sama Alan nongki-nongki cantik aja ya." Kulihat Agam yang semula terlihat lesu kini melihatku dengan tatapan yang tajam.

"Cafe yang mana, Gas? Kan banyak tempat elo nongkrong kayak jomblo mah."

"Di Shisha Cafe yang di Kemang-" Aku terkejut ketika ponselku langsung direbut oleh Agam.

"Maaf ini saya Agam, tadi saya cuma bercanda aja sama Zoya. Kapan mau ke sini?"

"....."

"Ohhh, iya saya ada di rumah."

"....."

"Iya gak perlu ketemu di luar, datang aja ke rumah."

"....."

"Iya, sama-sama."

Setelah menutup telepon, aku masih terdiam tak percaya dengan sikapnya yang berubah-ubah dan sesuka hatinya sendiri. "Bukannya Agam sabtu depan gak bisa libur?"

"Aku berubah pikiran."

Aku menggelengkan kepala tak percaya dia bisa berubah menjadi menyebalkan. "Kenapa Agam tiba-tiba berubah pikiran?"

"Gakpapa, udah ya jangan diperbesar. Aku tunggu masakannya sambil main dota aja. Nanti panggil aku aja kalau udah matang." Agam membalikkan badan ke arah kamar kami.

"Agam!" panggilku gemas.

"Apalagi sih?!" balasnya dengan nada yang tak kusangka akan setinggi itu, membuatku terkejut.

Agam mungkin menyadari nada bicaranya yang tiba-tiba tak bersahabat. "A-Aya, aku minta maaf-"

"Agam berubah pikiran karena Aya mau ketemu sama Defian di Shisha Cafe kan?"

Agam yang semula tatapannya melemah langsung menatapku dengan pandangan yang menusuk. "Jangan sok tahu kamu!"

Mataku mulai terasa buram sekarang. Ternyata benar firasatku sebelum menikah, ada sesuatu darinya yang tak bisa tersentuh oleh siapapun. Aku tak mengerti dan aku tak tahu apapun itu. Aku berusaha untuk mengerti dirinya, aku berusaha untuk menerimanya apapun yang akan terjadi karena aku sadar tak ada manusia yang sempurna, setiap orang pasti punya kelemahan.

"Aya itu istri Agam, kan? Terus apa gunanya kita menikah kalau enggak saling terbuka? Agam bisa coba percaya sama Aya mulai dari sekarang," terangku kepadanya.

"Aku mohon lupain tentang ini, gak perlu dibahas lagi." Agam pun meninggalkanku begitu saja tanpa berusaha untuk menjelaskan.

Air mataku turun begitu saja tanpa bisa kucegah. Salahkah aku jika mulai menyesali pilihanku untuk menikah dengannya?

TBC

*****

Hayooo ... mulai deh nebak-nebak wkwkwk

Regards,
Ali

22 September 2017
1060 Words

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!