19. Dua Cermin Retak

Mulai dari awal

Defian marah dan akhirnya memutuskan untuk kabur. Saat itu ia berpikir jika cinta itu membuat orang kehilangan akal. Dia tak percaya cinta, sampai bertemu dengan seorang gadis yang membuat dia merasakan kebaikan cinta.

Setidaknya sebelum gadis itu tergiur materi ketika tahu jika sebenarnya Defian merupakan anak dari Abraham Brooke, salah satu pebisnis terpopuler kala itu. Terlalu dibutakan emas hingga ia dengan tega berselingkuh dengan pria beristri yang mengaku menyesal di masa lalu. Tak lama kemudian ibu Defian meninggal bunuh diri dengan cara mengiris pergelangan tangan dan ditemukan dalam kondisi berlumuran darah. Sialnya, Defian melihat itu dengan mata kepalanya sendiri. Cinta menghancurkan segalanya. Maka dari itu Defian benci darah dan tak percaya cinta. Sama sepertiku.

"Eruna pernah bilang, kita ini cuma sedang berada di sisi cinta yang salah. Tapi Eruna yakin, kalau nanti kita pasti bisa melihat kebahagiaan itu. Entah kapan, tapi masa itu pasti akan datang. Jadi ... Kakak jangan nyerah ya," kurasakan tubuh Defian sedikit bergetar. "gue tau kalau ngomong aja itu gampang, karena masa bahagia itu sendiri belum hadir untuk gue, tapi ... kalau ucapan adik gue benar, mungkin ini saatnya buat elo, Gas."

Aku menggelengkan kepala sembari menahan air mataku yang siap keluar. "Gue gak bisa, gue takut Def ...."

Defian mengusap bahuku lembut, "Karena masa lalu elo? Atau karena gue? Ahhh ... emang hidup gue dan rumah tangga gue yang dulu bukan contoh yang baik sih."

Aku menggeleng sekali lagi, "Gue cuma takut pernikahan gue nanti gak berhasil, gue gak bisa percaya siapapun untuk ini Def. Manusia itu selalu gak puas, gak bisa bersyukur sama apa yang dia punya. Sekarang gak cuma orang yang keliatan hancur, pernikahannya gagal. Tapi orang yang kita lihat baik pun sama. Kita bisa lihat contohnya di manapun, kapanpun. Semua itu terjadi sama siapa aja, Def. Gue cuma takut baik gue ataupun pasangan gue gak mampu menjalankan rumah tangga seperti Papa sama Mama."

"Hmm ... jadi elo ragu sama diri sendiri juga? Gue rasa kita cocok, Gas! Hahaha," celetuk Defian. Sedetik kemudian ia menarik daguku untuk menatapnya. "gue yakin elo gak akan pernah jadi orang yang gak kenal rasa syukur, jadi kalau suatu saat nanti ternyata elo gak bahagia, gue selalu ada di ujung jalan sana."

"Terus kenapa bukan elo aja yang jadi suami gue?" tanyaku sembari menahan senyum.

"Hahahaha elo ngelamar gue nih? Elo yakin? Ya keleusss ...."

Aku cemberut, "Soalnya gue ragu kalau Agam bener-bener tulus sama gue. Gue gak ngerti kenapa, mungkin elo bakal bilang gue sok tahu, tapi ... seringkali gue ngerasa tatapannya dia itu bukan buat gue, senyuman dia itu bukan buat gue, kebaikannya dia dan semuanya itu gak nyata, Def."

Defian mencubit hidungku gemas, "Elo ngomong apa sih, Gas? Ini nih yang paling gue gak suka dari elo! Padahal kalau dipikir-pikir, lebih berat cobaan hidup gue daripada elo. Tapi negative thingking elo sama orang lain lebih parah dari gue! Ya walaupun awalnya gue gak percaya dia juga sih, tapi setelah gue lihat dia pria terbaik buat elo."

"Tapi buat gue yang terbaik buat gue itu elo, Def!" tandasku.

"Heran gue, elo abis kepentok pintu kulkas apa gimana sih? Gue mana ada minat nikah sama elo, curut. Elo tau sendiri kalau selera gue itu brewokan. Hahaha," tukas Defian.

"Masa?"

"Iyalah! Eh elo mau ngapain?!" ujar Defian panik ketika merasakan tanganku perlahan merambat ke leher dan masuk ke dalam baju dan membuat gerakan abstrak perutnya.

"Mau membuktikan kalau dugaan gue selama ini gak salah," timpalku dan aku sebenarnya ingin tertawa ketika merasakan tubuh Defian menegang ketika tanganku bergerak ke dadanya.

Ampunilah Zoya, ampuni diriku yang mencontoh film aduhai milik Alan. Tapi sungguh, semua ini kulakukan untuk memastikan sesuatu. Lumayan juga kan praktek lapangan, eh?

"Berhenti Gas, percuma aja. Elo ngapain sih?! Ssshhhh .... shit!" Jujur aku sebenarnya terkejut mendengar makiannya ketika tak sengaja paha kananku mengenai alat vitalnya, karena gerakanku yang kali ini benar-benar di luar rencana.

You know what? Sepertinya aku memang harus membuat manusia ini mengaku. Karena untuk pertama kalinya seorang Zoya mengerti bagaimana pria mengalami ereksi, karena kurasakan bagian itunya semakin menonjol. Aku tersenyum puas ke arahnya. "Elo bohong kan selama ini sama semua orang? Gue masih cukup menggiurkan kan di mata elo?"

Defian mendesah pasrah. "Oke fine! Iya gue masih doyan perempuan. Soal gue mau nikah sama cowok dan lain sebagainya itu cuma bohongan. Gue cuma takut gagal lagi aja. Gue percaya omongan Eruna. Puas lo?!"

"Belum," balasku santai dan tetap membiarkan jari-jariku yang kini telah berada sedikit di bawah pusarnya.

"Gue bersumpah Gas, elo bakal menyesal kalau berani ke bawah empat jari lagi!"

Aku tertawa terbahak-bahak dan segera menghentikan aksi nekatku barusan. "Nikahin gue dulu kalau mau bikin gue menyesal." Aku menjulurkan lidah padanya.

"Elo bahaya juga ya ternyata, sial!" Defian meringis, mungkin itu yang dibilang menahan rasa ngilu kali ya?

"Selamat menikmati air dingin, bye!" Aku segera berlari menjauhi Defian karena kutahu jika aku tetap di sini maka tamatlah keperawananku, dan bila feelingku berkata benar, sebentar lagi dia akan ....

"ZOYAAAAA!!!"

Ah, akhirnya dia memanggil namaku dengan benar.

TBC

*****

Ayooo ... pilih Agam apa Defian?

Sekarang percaya Alan kan? Zoya gak selugu itu. Hahaha

Bedanya sama Alan, masih banyak sifat Alisha yang nurun ke Zoya. Malu-malu tapi mau.
Sedangkan Alan, kebanyakan sifat Diyas. 😂✌

Best Love,
Ali

20 September 2017
1456 Words

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!