17. Serupa Tapi Tak Sama

2.4K 258 26

Jangan lupa vote dan commentnya, happy reading! 😘

*****

"Bagi sebagian orang, ketakutan hadir tanpa bisa dikendalikan.
Semua karena terlalu mengamati atau setidaknya dia pernah mengalami."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

Mungkin sudah menjadi naluri seorang ibu, menyadari kehadiran anaknya. Hari ini kuputuskan untuk kembali ke rumah Papa dan Mama. Baru saja aku turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih kepada driver online yang mengantarku ke sini, kulihat Mama tidak jauh berdiri di dekatku dengan mata yang berkaca-kaca.

Sekarang aku mengerti, kenapa Mama memilih bungkam, berpura-pura tidak tahu apapun. Mama hanya terlalu menyayangiku. Begitupun dengan Papa dan adikku satu-satunya, Alan. Ingatkan aku untuk meminta maaf kepada mereka nanti.

Aku berjalan menyeret koper dengan sedikit tergesa-gesa, kemudian memeluk Mama dengan erat. "Aya kangen Mama. Maafin Aya ya, maafin Aya bikin Mama jadi sering nangis."

Mama merenggangkan pelukanku dan kulihat raut wajahnya yang terperangah setengah tak percaya jika aku telah mengingat kembali nama panggilan kecilku yang biasanya hanya orang terdekatku saja yang tahu. Maka dari itu kuperjelas supaya Mama tidak khawatir. "Aya gakpapa, Ma. Aya baik-baik aja."

Mama mencium keningku, "Alhamdulillah anak Mama udah jauh lebih kuat sekarang. Jangan pergi-pergi lagi ya sayang."

Mama menatapku tersenyum walaupun matanya masih berkaca-kaca. Senyumannya menular padaku, sebelum kurasakan sebuah benda mendarat dengan mulus di kepalaku.

Tak begitu sakit memang, hanya saja lumayan juga apalagi setelah kutahu barusan itu botol aqua. "Akhirnya pulang juga lo! Kangen banget gue, gak ada yang bisa gue jahilin di rumah." Alan berdiri di dekat pintu depan yang sedikit lebih tinggi lantainya dari tempatku berdiri.

Seharusnya aku marah, tapi justru yang kulakukan adalah menaiki tangga kecil di sampingku dan berlari memeluk tubuh penuh keringat Alan. Ia terkekeh geli, "Tumben elo mau meluk gue lagi bau begini? Biasanya gue lagi wangi aja ogah."

Aku semakin memeluk Alan erat, memang benar bagaimana pun saudara kandung tidak akur, mereka akan tetap menjadi pelindung terbaik yang pernah ada. "Di luar masalah timun, elo itu terbaik deh, Lan!" ujarku tersenyum geli dan Alan seketika cemberut mendengarku.

"Ya ampun, Gas!!! Ini elo kan?!!! Gue kangen banget, astaga! Gue dilarang sama bokap buat ngehubungin, apalagi nyamperin elo di apartemen. Bokap elo bisa galak juga ternyata." Defian muncul dari belakang Alan dengan baju yang sama-sama menggunakan pakaian olahraga.

Sebenarnya sampai sekarang aku tak tahu dengan pasti apa yang menyebabkan kami berdua dekat seperti ini. Aku teringat sesuatu dan melirik sebentar ke arah Mama. "Ehm, Papa di mana, Ma?"

"Di atas, Sayang. Di ruang kerjanya Papa. Tapi ... lebih baik jangan dekati Papamu dulu, Mama takut- Aya!" tegur Mama melihatku yang tak mengindahkan perkataannya, tetap ingin bertemu Papa saat ini juga.

Aku berlari tergesa-gesa menaiki tangga ke ruang kerja Papa. Saat aku sampai di depan pintu yang dibiarkan begitu saja terbuka, terlihat punggung Papa dari sini.

Aku tahu, jika Papa sebenarnya menyadari keberadaanku di sini walaupun pandangannya tetap ke foto keluarga kami yang cukup besar di ruangan ini. Takut takut aku mencoba menghampiri Papa.

"Masih ingat kami rupanya," gumam Papa yang jelas mampu didengar oleh telingaku.

Aku meringis, aku tahu pasti Papa marah karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berani berbicara dengan nada lebih tinggi pada kedua orang tuaku. Ragu-ragu kugerakkan tanganku untuk menyentuh tangan Papa. "Maafin Aya, Pa. Aya kelewat kasar, Aya-"

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!