15. Ilusi Otak

Mulai dari awal

Aku ditunjuk sebagai petinggi perusahaan, dijadikan teladan baik secara langsung maupun tidak langsung, jika aku pergi begitu saja lalu apakah begitu sikap seorang pemimpin? Meninggalkan kewajiban ketika sangat diperlukan? Maka aku tetap datang, walaupun harus kuakui sikapku jauh dari kata profesionalitas akhir-akhir ini.

Tapi aku tidak pulang ke rumah selama satu minggu ini, aku memilih menginap di apartemen milik keluarga kami. Memang bukan pilihan yang bagus karena kapanpun mereka ingin bertemu denganku tinggal datang saja. Tapi setidaknya aku punya ruang sendiri. Walaupun aku heran, Papa sama sekali tak menanyakan kabarku ketika Mama bahkan sampai menangis meneleponku kemarin padahal Mama tahu aku di mana. Begitu juga Alan yang berubah semakin menyebalkan dengan menerorku setiap hari dengan bunga. Cih, aku tak akan luluh dengan cara seperti itu.

Satu notifikasi whatsapp messenger terdengar dari ponselku. Seharusnya aku melonjak bahagia seperti biasanya saat melihat nama dia pada tampilan Pop up, tapi entah mengapa aku jadi merasa aneh.

A-gamau lepas! :

Aku merasa aneh beberapa hari tanpa kabar apapun darimu, Zoya.
Walaupun emang aku sendiri belum jadi siapa-siapa kamu, tapi bisakah kita ketemu hari ini?

Aku menggigit jariku dengan sebelah tangan yang sibuk memainkan ponselku. Sejujurnya, aku ada sesuatu yang ingin kuketahui juga darinya.

Zoya :

Mungkin nanti malam.

Ya, kupikir lebih baik aku bertemu langsung dengan pria itu. Tapi tak menutup kemungkinan aku akan kembali kecewa kali ini, karena orang-orang di sekitarku senang sekali membuat teka-teki menjengkelkan.

"Kupikir tadinya ada hantu di sini, ternyata manusia cengeng mojok sendirian."

Aku melirik ke sumber suara, tidak terlalu jelas rupanya memang, karena terhalangi genangan air di mataku. Tapi cukup jelas hanya pria yang memiliki suara bariton seperti ini.

Aku mendengus, "Pergi. Gak usah sok kenal."

"Yasudah. Tapi nanti, setelah tangisanmu itu berhenti. Aku kasihan dengan anak kecil yang gak sengaja lewat sini nanti, pasti langsung lari ketakutan."

"Siapa sih dia? Menyebalkan sekali!" batinku. Ya, mana bisa aku mengenalinya dalam jarak yang cukup jauh seperti itu.

"Nih! Makin banyak air mata, makin gak enak dilihatnya. Untung aja aku gak lagi makan." Pria ini menjulurkan sebelah tangan untuk memberikanku tissue.

Aku menangkis dengan cepat. Mulai saat ini aku benar-benar tak bisa mempercayai orang lain apalagi orang asing seperti dia. Tapi yang membuatku terlonjak kaget adalah pria ini dengan lancang mengusap wajahku sedikit kasar lalu membiarkan tissue yang tadi ditawarkan kepadaku melekat di wajahku. Aku terlihat seperti orang bodoh sekarang.

"Hah, hari ini ketemu dua wanita yang menangisi hal bodoh. Sama-sama keras kepala juga. Kutebak pasti karena laki-laki kan? Makanya jangan suka laki-laki."

Dia bodoh atau apa? Dia kan laki-laki juga, sepertinya dia menyadari kebingunganku, "itu kenapa aku lebih suka wanita daripada pria," lanjutnya.

Spontan aku terkekeh kecil membuat pria ini juga menarik senyum lebar. "Tinggalkan, relakan, itu lebih baik. Tak ada yang tahu takdir berkata apa."

Aku mengernyit, "Elo gak tahu ya masalah gue. Jangan sok ceramah gitu, elo belum pernah ngerasain jadi gue," tunggu, dari jarak sedekat ini aku bisa mengenali wajahnya. "Eh, bukannya elo temennya Moira kan?"

Kini giliran dia yang mengernyit bingung, "Kamu kenal Moira?"

"Ya, kenal lah. Nama elo siapa sih? Siloam? Whisgam? Apa siapa sih gue lupa," celetukku seenak hati.

"Agam."

"Ah iya, Agam. Kenalin, gue Zoya."

Dering pesan balasan dari Agam membuyarkan ingatan yang baru-baru ini kudapat tanpa diketahui siapapun tentunya.

A-gamau lepas! :

Oke, kujemput di rumahmu jam 7.

Aku meringis, sepertinya dia tak tahu jika aku sedang ada masalah dengan keluargaku.

Zoya :

Jangan. Kirim alamatnya aja. Kita ketemu di sana.

A-gamau lepas! :

Oke.

Baiklah, sepertinya aku memang harus siap dengan kemungkinan apapun yang akan terjadi nanti.

TBC

*****

Bingung yaaa? Nikmatin aja! 😜

Jangan lupa vote dan comment ya, support aku hehe.

Regards,
Ali

11 September 2017
1146 Words

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!