15. Ilusi Otak

2.5K 283 18

"Tahap berbohong paling mulia yaitu untuk melindungi seseorang walaupun dia sendiri tahu itu tindakan yang salah."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

"Kapan kamu mau check up sama Dokter Fathia? Nanti minta Alan yang nganterin, ingat gak boleh bawa mobil sendiri. Apa mau manggil aja ke sini?"

"Gak perlu repot-repot, Pa. Zoya sehat kok."

"Harus, Jono bilang akhir-akhir ini kamu kambuh," titah Papa.

"Zoya bilang gak perlu! Zoya gak sakit. Daripada nyuruh Zoya check up, kenapa gak sekalian kirim Zoya ke rumah sakit jiwa?!" Nada suaraku meninggi begitu saja tanpa bisa dicegah. Baru pertama kalinya aku begitu lancang pada Papa.

Aku tahu bukan hanya aku saja yang terkejut dengan tingkahku barusan, mereka juga sama terkejutnya denganku. "Sayang ... kok kamu kasar gitu sama Papa kamu? Mama gak pernah ngajarin begitu kan?"

"Setiap Zoya check up, pasti ada aja obat yang harus Zoya minum. Zoya itu gak kena vertigo, Ma. Zoya tahu pasti soal itu karena Zoya yang ngerasain. Tapi setiap Zoya tanyain gak ada satu orang pun di rumah ini yang mau jawab. Zoya berasa kayak orang gila, aneh sendirian di rumah ini. Jadi daripada maksa Zoya minum obat-obatan gak jelas itu mending kirim Zoya ke rumah sakit jiwa sekalian."

"Kamu meragukan kemampuan dokter, Zoya?" tanya Papa dengan raut wajah yang tetap datar tanpa ekspresi berarti, padahal kuyakin beliau sempat terkejut dengan perubahan drastisku tadi.

"Terserah apa kata Papa. Zoya mau berangkat dulu. Semakin lama dibahas malah semakin bikin Zoya kesal!"

Alan langsung dengan sigap berdiri mengikutiku setelah sempat meminum air jeruknya. "Tungguin gue dong! Elo tega banget sih mau bikin gue kelaperan, baru juga mulut gue nyentuh ujung sandwich, udah mau pergi aja!"

Aku mendelik tajam, "Makan aja sana. Gue gak butuh jasa elo! Tenang aja, gue naik Uber kok, bukan nyetir mobil sendiri. Bye!"

Alan melebarkan matanya, "Elo juga marah sama gue? Rugi lo marahan sama gue mah."

"Bodo amat. Ah satu lagi, jangan ngomong sama gue kalau elo juga gak bisa jawab pertanyaan gue. Gue benci pembohong walaupun itu keluarga gue sendiri."

"Yahilah, Kak! Pertanyaan apalagi sih? Gue kan selalu jawab asal rasional aja pertanyaannya, kayak apa gue ganteng gitu, kan udah jadi rahasia umum," celetuk Alan.

Aku menunjukkan cincin yang sejak tiga hari yang lalu kembali melingkar di jari manisku. "Ini cincin dari siapa? Siapa Ramon? Siapa Moira?"

Kulihat Alan yang seketika membisu seperti patung. Sempat kulirik Mama terhenyak dan Papa yang menatapku tajam dari jarak yang cukup jauh dari tempatku berdiri saat ini.

Aku tersenyum miring, "Siapa, Lan? Gak bisa jawab kan? Kenapa? Untuk melindungi gue? Bullshit!" Aku bergegas pergi sebelum emosiku tak terkendali. Aku sangat kecewa kepada mereka. Aku benci dibohongi, tapi mereka dengan teganya melakukan ini padaku. Padahal hanya mereka yang kupercaya selama ini, setidaknya seperti itulah yang kuingat.

>>>>>

Aku mendesah lelah, ternyata sulit memiliki tanggung jawab besar dalam perusahaan ini. Terutama saat menyadari jika kita dalam kondisi yang tidak baik-baik saja dan pikiran kita yang berkelana entah ke mana setiap waktunya.

Ingin rasanya aku meninggalkan semua beban ini untuk sementara waktu dengan melarikan diriku ke manapun aku mau, tapi aku diajarkan untuk menjadi pribadi yang mampu mempertanggung jawabkan semua tindakanku, maka aku perlu berpikir puluhan kali untuk mengambil keputusan tidak bijak seperti itu.

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!