OJI

816 32 14

Ada satu hari di beberapa tahun yang lalu, tahun berapa tepatnya dia lupa. Yang jelas waktu itu dia masih memakai seragam putih-abu. Masih menjadi salah satu panglima tempur sekolahnya. Masih jadi anak yang lebih suka nongkrong di pinggir jalan menunggu bus lewat -dan kesiangan, daripada menggunakan kendaraan inventaris orangtuanya untuk sekolah. Hari itu dia datang ke sekolahnya pada jam ke tiga yang otomatis membuatnya mendapat hukuman membersihkan halaman depan sekolah bersama Mang Ridwan, dia melihat salah seorang seniornya yang dulu pernah berjuang bersamanya di jalanan demi membela nama baik sekolah, yah... Itu bahasa yang biasa digunakan Ari yang dalam artian sebenarnya membela nama baik itu tawuran. Senior itu baru lulus tahun kemarin, dia selalu menjadi yang terdepan kalau SMA Brawijaya atau SMA lain cari gara-gara. Dia bahkan sering keluar masuk kantor polisi karena pihak sekolah sudah tidak sanggup megendalikannya. Kenakalannya jauh lebih parah dari Ari yang selama ini terkenal sebagai biang onar.

Tapi hari itu, senior yang Oji juga lupa-lupa ingat siapa namanya. Yang jelas dulu panggilannya Jun, entah nama panjangnya Jujun atau Junaedi atau mungkin Juned, yang jelas dia yakin nama panjangnya pasti bukan Jin dan Jun. Si Jun ini mengenakan seragam yang sama dengan orang yang dulu sering menyeretnya dari jalanan waktu tawuran. Ya, Jun ternyata menjadi salah satu anggota kepolisian dengan waktu kelulusan lumayan cepat. Saat itu Oji bahkan sampai tidak bisa mengatupkan kedua bibirnya. Jelas kaget! Anak berandalan itu sudah jadi orang rupanya.

Dan ketika Oji lulus sekolah dengan nilai yang sedikit nyerempet standar kelulusan. Sebenarnya dia malas melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan karena menurutnya kesuksesan tidak selalu diraih dari gelar sarjana. Oji menghabiskan waktu bebasnya hanya dengan main-main dan kadang latihan olahraga bersama Ari yang waktu itu belum pindah ke Malang. Pikirnya kalaupun hanya lulus SMA, dia bisa jadi atlet. Futsal, basket, sepakbola, ataupun lempar lembing, semua itu bukanlah hal yang susah baginya. Karena selama sekolah meski nilai akademiknya hancur tapi prestasinya di semua praktek olahraga selalu mengekor Ari. Dan ketika satu persatu teman-temannya mulai mencari pekerjaan, bahkan ada beberapa yang sudah bekerja walaupun belum lulus kuliah. Oji mulai sadar, dia tidak mungkin bisa bertahan hidup hanya dengan main dan handal berolahraga. Jadi atlet bukan hanya tentang menguasai trik-trik olahraga, begitu yang pernah dikatakan Ridho sebelum cowok itu memintanya menjadi pendamping di hari pernikahannya.

Oji masih ingat dengan jelas beberapa minggu setelah Ridho menikah, Ibunya yang dulu selalu meninggalkannya demi mengejar karir sempat menangis ketika dia mengatakan ingin kuliah. Tidak apa-apa telat yang penting dia tahu apa tujuan hidupnya sekarang. Dia juga tidak ingin menyia-nyiakan bakat dan hobi berolahraganya selama ini.

Hari ini, setelah beberapa tahun terlewati. Setelah banyak sekali waktu yang terbuang sia-sia. Oji dengan bangga berdiri di pinggir lapangan basket dengan pluit warna putih melingkari lehernya dan beberapa lembar kertas tergulung dalam genggaman tangan kirinya.

"Hey? Kamu!" Teriak Oji setelah meniup pluitnya panjang. "Kamu yang larinya belakangan, lepas topinya. Sudah lari belakangan, pakai topi pula. Kamu pikir ini latihan marching band?"

Anak yang ditunjuk Oji memperlambat laju larinya sesaat sebelum berhenti tepat di hadapan Oji dan membungkuk dengan kedua tangan diletakkannya di atas lutut.

"Panas, Pak. Lagi Bapak ada-ada aja tukeran jam olahraga jam terakhir gini. Jam terakhir kan waktunya santai Pak, bukan lari-lari keliling lapangan."

"Kamu saja yang manja. Yang lain ngga protes. Sini buka topinya." Oji menarik paksa topi warna hitam yang masih bertengger di kepala salah satu anak didiknya dan mengenakannya ke kepalanya sendiri.

"Yang lain ngga berani Pak, bukan ngga protes. Bapak aja kepanasan kan, berdiri di tempat teduh gitu. Coba sini Bapak ikutan lari juga."

"Kamu?!" Bentak Oji hampir memukul pundak anak itu dengan gulungan kertas absen di tangannya kalau tidak mendengar suara tawa berat dari belakangnya. Oji sontak menoleh, di sana terlihat Pak Sitanggang tengah terkekeh geli, kedua tangannya bertolak di pinggangnya.

"Bapak nih seneng banget ngetawain saya ngajar." Gerutu Oji menghampiri Pak Sitanggang setelah memberi intruksi pada murid-muridnya untuk kembali berlari mengelilingi lapangan.

"Bukan begitu, Ji. Bapak tetep bangga sama kamu. Berandalan ini sekarang jadi Guru olahraga sekolahnya dulu," Pak Sitanggang kembali tertawa, menepuk-nepuk pundak Oji yang hanya nyengir kuda. "Bapak cuma suka ngeliat ada anak yang ngelawan sama kamu, akhirnya kamu tahu bagaimana posisi guru-gurumu dulu." Lanjutnya kemudian melangkah meninggalkan Oji yang masih nyengir dengan suara tawa semakin geli.

Oji menggeleng-gelengkan kepalanya. Pak Sitanggang salah satu gurunya dulu yang masih mengajar di sini, dan beliau masih saja menganggapnya siswa bermasalah yang berteman dengan berandalan SMA Airlangga dulu, Matahari Senja. Bukan sebagai rekannya sesama Guru. Kalau saja Bu Ida atau Bu Sam juga masih di Airlangga, entah bagaimana pandanggan mereka terhadapnya yang sekarang setiap pagi masuk gerbang Airlangga mengenakan seragam yang sama dengan mereka.

Jingga Series - 7 years laterBaca cerita ini secara GRATIS!