TARI

881 38 18

"Nanti sore bisa jemput Geo ngga, Tar?" Papa Tari berseru dari dapur ketika Tari keluar dari kamarnya dengan tangan menenteng sepatu warna merah menyala. "Kalo Papa yang jemput pasti telat."

"Bisa, Pa. Jemput di tempat les, kan?"

Tari berjalan keluar setelah melihat Papa menganggukan kepalanya sebagai jawaban karena sedang meminum ramuan semacam jamu yang kemarin dibawa Mbah Kakung dari Jogja waktu berkunjung kemari. Sebenarnya menjemput Geo itu salah satu hal yang kalau bisa sangat ingin dihindarinya. Selain karena tempat lesnya jauh dari kantornya, Geo suka minta mampir ke mall dan minta jajan ini-itu. Bukannya pelit tapi adiknya yang sekarang kelas dua SMP itu sangat pintar memanfaatkan statusnya punya Kakak cewek yang udah kerja. Dulu waktu dirinya masih sekolah mau beli apa juga harus nabung jauh-jauh hari. Meksipun dalam beberapa kasus ada seseorang yang selalu memberinya sesuatu yang diinginkannya tanpa diminta.

Dan ini kesekian kalinya Tari mematung di belakang kemudi dengan mata yang menatap jalanan depan rumahnya. Tari tahu dengan jelas jalan ini bukan jalan yang sama. Bukan gang sempit yang selalu membuat seseorang kesulitan memutar mobil besarnya. Bukan jalan yang akan tiba-tiba memunculkan sebuah motor besar warna hitam legam dengan sosok tinggi diatas joknya. Tari bahkan yakin seliar apapun khayalannya tidak akan pernah sampai ke sana. Terlalu sulit untuk sekedar membayangkan apapun tentang dia sekarang. Seolah ada kain hitam yang menghalangi matanya. Pandangannya bukan hanya kabur, tapi gelap.

"Kok belom berangkat? Ada yang ketinggalan?"

Tari terlonjak kaget. Mama berdiri di samping pintu mobilnya yang ternyata belum tertutup. Dia tersenyum dan menggeleng pelan, mengusir raut wajahnya yang sempat keruh beberapa saat.

"Tari berangkat dulu, Ma." Ucapnya sambil menutup pintu dan sedetik kemudian Tari meluncur dengan mobilnya meninggalkan Mama yang jelas terlihat menghela napas panjang.

Sudahlah...

***

"Kan udah SMP masa masih aja suka ujan-ujanan?"

Tari membuka bagasi mobilnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang payung bening dengan hiasan rempel pinggiran warna oranye. Karena sering ditugaskan ke luar kota tiba-tiba, Tari selalu menyimpan beberapa baju ganti di bagasinya. Dia menarik selembar kaos polos warna hitam dari koper kecil dan menyodorkannya ke arah Geo yang berdiri di sampingnya.

"Ngga usah protes. Kaos itu bisa dipake cewek-cowok." Tari menutup kembali bagasinya dan memerintahkan Geo masuk mobil duluan untuk ganti baju. Adiknya itu sedikit membrengut menekuk wajahnya sambil komat-kamit tidak jelas.

"Beliin baju baru kan bisa," gerutu Geo ketika Tari sudah masuk mobil dan duduk di kursi kemudi.

"Buat dipake sejam doang sampe rumah ngga perlu baju baru,"

"Kan bisa dipake besok-besoknya."

"Lo ngga butuh-butuh banget baju baru, Ge. Baju lo malah lebih banyak dari baju gue."

Geo semakin menekuk wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Biasanya mudah sekali minta ini-itu pada Kakak satu-satunya ini, tapi sepertinya suasana hatinya sedang buruk. Terlihat dari caranya menyetir lebih banyak diam daripada mengomel padahal jelas-jelas dirinya sudah melakukan sesuatu yang pantas dimarahi. Kalaupun tidak mengomel, biasanya Tari akan bernyanyi kecil untuk mengusir jenuh menyetir di jalanan padat seperti sekarang.

"Widih hape lo baru lagi, Kak?" Geo tiba-tiba menjerit melihat ponsel tari tergeletak di atas dasboard. Ponsel dengan merk terkenal keluaran minggu lalu itu segera berpindah tempat ke tangannya. "Beliin juga dong buat gue,"

"Umur hape lo yang itu aja belom juga lima bulan." Jawab Tari sambil lalu. Membiarkan Geo memainkan ponsel barunya. Kondisinya masih baru dan belum terisi apapun jadi dia tidak perlu merebutnya kembali. Bahkan phonebooknya hanya terisi enam nomor. Nomor Mama dan Papanya, nomor Geo, kantor dan atasannya. Juga satu nomor yang selalu disimpannya meski dia tahu nomor itu sudah tidak aktif sejak bertahun-tahun yang lalu.

"Beli baju ngga boleh, beliin hape baru ngga mau." Geo mulai memainkan game yang baru saja di downloadnya dari play store, "Traktir gue aja kalo gitu. Traktir makanan Jepang."

"Kenapa harus makanan Jepang?" Lagi-lagi Tari menimpali permintaan Geo sambil lalu. Mungkin karena hujan semakin deras jadi membuatnya harus menyetir dengan ekstra hati-hati. Bisa saja tiba-tiba ada orang yang menyebrang tanpa tengok kanan-kiri karena buru-buru.

"Karena gue laper dan karena gue pengen buktiin ke elo bahasa Jepang gue makin bagus."

Tari mendengus mendengar tawa sombong Geo padahal dia masih berkutat dengan gamesnya. Dia lalu membelokkan mobilnya ke salah satu restoran cepat saji yang menyediakan makanan Jepang. Geo ini punya obsesi sedikit berlebihan pada negeri sakura itu, bahkan cita-citanya pun ingin menjadi pengusaha yang membuka cabang di Jepang atau paling tidak jadi guru bahasa Jepang.

"Turun sana, lo yang pesen. Gue nunggu di sini. Dibungkus aja sekalian buat Mama Papa." Tari mematikan mobilnya setelah mendapat tempat parkir yang tidak jauh dari gerbang.

"Lo aja, Kak. Lagi seru, nih. Tanggung." Jawab Geo masih serius menatap layar lebar ponsel Tari sampai-sampai tubuhnya ikut bergerak ke kiri dan kanan mengikuti gerakan dalam games yang dimainkannya.

"Katanya pengen nunjukin bahasa Jepang lo." Tari menoyor kepala Geo pelan tapi tetap keluar dari mobil sambil membuka payung yang tadi disimpannya di kursi belakang.

Setelah memesan beberapa menu kesukaan Geo dan kedua orang tuanya. Tari duduk di salah satu kursi dekat jendela, karena ponselnya masih di tangan Geo jadi dia hanya bisa duduk diam tanpa melakukan apapun sambil sesekali mengamati keadaan sekitar. Di depannya ada seorang wanita yang memakai seragam PNS yang sepertinya juga sedang menunggu pesanan. Ada sekelompok anak SMA cewek-cowok mengintari dua meja yang di satukan, mereka tertawa keras sekali sampai membuat pengunjung yang lain mendelikkan matanya merasa terganggu. Senyum Tari mengembang, dulu sekali dia juga pernah berada di posisi anak SMA itu. Bersama beberapa orang yang sekarang entah ada dimana. Kecuali Ridho, cowok itu sempat beberapa kali menemuinya untuk urusan bisnis. Itu pun sangat jarang karena sekarang Ridho tinggal di Bandung dengan istrinya.

Pernah sekali Tari ingin bertanya tentang keberadaan seseorang, tapi selalu saja pertanyaan itu tertahan di ujung lidah. Dia tidak sanggup dengan jawaban apapun yang nanti dikatakan Ridho. Entah baik atau buruk. Entah jauh atau dekat. Dia tetap tidak sanggup.

Wireless ditangannya bergetar tanda pesanannya sudah siap. Tari langsung berdiri, merapihkan rambutnya yang ditepa angin dari luar karena ada orang yang masuk dengan membuka pintu lebar-lebar, orang itu berjalan cepat dan sempat menyenggol pundak Tari yang sedang mengecek pesanannya.

Setelah mengucapkan terimakasih, Tari berbalik menuju pintu keluar. Sepertinya di luar hujan sudah sedikit reda jadi Tari tidak membuka payungnya dan hanya menjinjingnya bersama dengan kantong belanjaannya. Tari lalu menaruh keduanya di kursi belakang dan menggeleng pelan melihat adiknya makin tenggelam dengan games-nya. Sudahlah, memarahinya sama saja membuang sia-sia sisa energinya hari ini.

Tari mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kemudi, di detik pintu itu akan terbuka tangannya tiba-tiba membeku. Bersamaan dengan matanya yang juga tiba-tiba membulat. Suara itu...

Dengan sisa-sisa kesadaran yang selalu saja berontak dari usahanya berdamai dengan logika bahwa bisa saja suara-suara itu hanyalah gaungan masa lalu yang senantiasa menemani hari-harinya. Tari mencoba memutar tubuhnya, dia ingin membuktikan dirinya tidak gila. Berapa kali suara itu muncul tapi tidak pernah sejelas sekarang. Hal ini selalu bisa membuatnya memahami kondisi alam bawah sadar orang itu dulu, tidak peduli sekeras apapun dia mencoba merendam suara masa lalu, gaungnya tetap hidup di kepala kita. Dan rasanya nyaris... Gila!

Tari berhasil memutar tubuhnya tepat ketika seorang pria memakai kemeja hitam panjang dengan sebelah tangan digulung sampai siku masuk ke dalam mobil warna hitam legam. Bahkan kaca jendelanya pun sama gelapnya. Pria itu bicara dengan seseorang lewat telpon yang membuat tubuh Tari tersentak ke belakang.

"Ari langsung pulang kok, Ma. Ini cuma mampir bentar beli sushi titipan Ata."

Jingga Series - 7 years laterBaca cerita ini secara GRATIS!