12. Konferensi Meja Tamu

3K 304 25

Cuma mau terimakasih banget sama orang yang udah bawelin inces buat nulis, dalam dua hal yang berbeda. 😂

Aku lagi proses nemuin zona nyaman aku nulis, gaya nulis aku seperti biasanya. Semoga masih dapet feel-nya ya.

Happy reading! 😘

*****

"Pertarungan paling buruk adalah persaingan antar sahabat.
Karena aku bukan pihak yang ingin terkalahkan, terutama dalam hal lelaki."

- Gauri Adoria Zoya -

*****

"Defian Borok, tolong jangan kegatelan sama gebetan gue!"

Defian melihatku tak suka. "Siapa tahu dia lebih suka sama gue. Lagipula kenapa lo gak kenalin ke gue kalo ada cowok keren kaya gini?"

Melihat raut wajah datar Agam di sebelahnya, aku semakin takut. Apa ini hukuman untuk anak durhaka?

>>>>>

Sejak tadi aku hanya berpura-pura tuli mendengar rintihan Defian. Melihat seberapa tertariknya ia dengan Agam, kupikir lebih bijak jika aku segera menjauhkan Agam dari serangga berbulu tipis seperti Defian.

Aku tak akan membiarkan pria lentur itu membuat Agam melupakan lamaran secara tidak resmi yang sudah terjadi hingga kedua kalinya ditujukan kepadaku.

Maka dengan langkah cepat aku menangkis tangan berotot yang begitu mulus milik Defian, lalu merangkul lengan Agam dengan posesif dan menuntunnya ke sofa ruang tamu. Tapi memang sudah kuduga, hama ulat sagu tak akan menyerah semudah itu setelah melihat objek Indah seperti Agam.

"Sakit, monyet! Kaki elo biasa aja dong," protes Defian ketika aku dengan lembut menendang tangan nakalnya yang kulihat hendak mencuri kesempatan untuk menyentuh tangan Agam hingga membentur pinggiran meja.

"Sorry, barusan gue kaget. Ada nyamuk gigit paha gue sakit banget!" kilahku santai menahan senyum melihat Defian mencibir dari ekor mataku.

Kami berempat sedang mencoba akur duduk di sofa dengan Defian yang berada di sebelah kananku dan aku merangkul lengan Agam di sebelah kiriku, tak lupa pula Alan yang berada di samping Agam.

"Def, elo tega merusak kepercayaan gue," lirih Alan yang pada akhirnya bersuara juga. Namun bulu romaku berdiri mendengar perkataannya barusan, apa jangan-jangan selama ini Alan dan Defian itu berpacaran?

Seperti mengerti keresahan yang ku alami, Alan segera melanjutkan ucapannya. "Gue pikir elo udah move on,  Def. Hampir aja jual kakak gue demi balikin otak elo ke arah semula. Tapi ternyata elo masih begini, pantas aja elo gak nikah-nikah. Kecewa gue."

Oh jadi begitu, sekarang aku mengerti kenapa tadi pagi Alan kurang ajar sekali membiarkanku hampir dipuaskan oleh Defian. Aku teringat percakapan kami di telepon ketika Defian masih di Aussie, dia memang berkata belum menikah saat itu.

"Ya maaf Lan, elo tahu lah kenapa gue lebih suka batangan. Harusnya malah bulan lalu gue itu udah punya suami, cuma dia tiba-tiba insyaf. Padahal gue udah nemuin jas pengantin yang serasi." balas Defian.

Kami bertiga terlonjak kaget. Ya, tak terkecuali Agam yang sepertinya baru menyadari ancaman terselubung di dekatnya saat ini. Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering, aku meraih gelas di hadapanku dengan sedikit gemetar. Ya Tuhan ... Defian hampir saja hendak menikahi homogen!

"Heh, apa enaknya sih pedang lawan pedang? Setahu gue, kalo perang begitu capek! Pedang itu enaknya buat nusuk." timpal Alan dengan mulut setannya, membuat air yang baru saja sampai di dalam mulutku terpaksa keluar.

"Najis ... jorok banget elo, Kak! Pantas aja gak laku-laku," tambahnya yang sedang mengernyit jijik hingga darahku naik ke ubun-ubun. Hilang sudah pamorku, Zoya yang anggun. Malu sekali ketika harus terjadi di hadapan pria yang kusukai.

Kurasakan seseorang menghapus air yang tersisa di sudut bibirku hingga aku mematung, karena tepat seperti yang kukira, Agam yang melakukannya. "Jangan terlalu jujur membicarakan hal seperti itu di depan wanita," ucapnya yang jelas ditujukan pada Alan.

Alan mencibir, "Jaga image doang dia. Biasanya dia juga begitu kalo ngomong asal dimutahin aja!"

"Jangan sok kalem deh elo, Gas! Bilang aja sih nyari kesempatan biar diperhatiin," timpal Defian ikut-ikutan mencibir.

Melihat wajahku yang memerah karena marah, Agam segera melerai kami sebelum larva gunung meletusku siap tumpah. "Udah, gak perlu diterusin. Saya memang gak berhak menasehati, hanya saja mau bagaimanapun Zoya kan perempuan. Wajar kalau merasa malu setelah mendengar ucapan pria yang terlalu jujur seperti itu."

Perlahan senyumku pun terbit mendengar setiap kata yang keluar dari bibir menggoda milik Agam. Sejauh ini pesonanya membuatku kehabisan kata-kata untuk menolak kehadirannya.

"Emang udah waktunya elo married, Gas. Mau calon yang kayak gimana lagi sih? Ini laki udah suamiable banget loh, Gas! Ya kalau elo gak mau, gue langsung pepet berarti gak masalah kan?" tanya Defian.

Tapi aku belum yakin. Tapi aku takut. Tapi....

Tapi dan tapi itu kini bermunculan satu persatu di kepala cantikku.

Melihat diriku yang hanya terdiam memandang kosong layar televisi, Alan berdecak pelan. "Ck, elo sendiri nyuruh gue buat serius kan, Kak? Terus apa yang elo lakuin sekarang? Inget Kak, perempuan perlu ngandung anak, inget umur! Laki-laki mah cuma bertugas kasih bumbu penyedap aja, jadi bebas mau nikah kapan juga ya kan? Apalagi sih yang elo tunggu? Elo bukan Defian Kak, walaupun dia juga anggun!"

Defian terbelalak tak terima, "Ngapain elo bawa-bawa gue sih? Lagipula maksudnya apa coba, gue sama si Gas elpiji itu sama kali, sama-sama suka tombak panjang! Iya kan, Gas? Awww atit tau!" Defian meringis ketika kucubit pinggangnya sekuat mungkin.

"Bukan salah Zoya kok, ini salah saya juga yang belum pernah secara serius melamar Zoya. Mungkin dia pikir selama ini saya hanya bercanda, tapi sebenarnya saya serius," ungkap Agam.

Aku terkejut tapi entah bagaimana rasanya seperti ada belalang terbang yang menggelitik perutku. "Ah, ya benar. Kupikir cuma bercanda aja. Lagipula kita kan emang gak pernah menjalin hubungan juga."

"Cih, sejak kapan aku-kamu itu berlaku buat elo, Gas? Gue jadi geli gitu dengernya, telinga gue sakit!" sindir Defian.

"Kalau elo niat serius sama kakak gue, mendingan cepet dihalalin biar elo nya gak tersiksa. Zoya gitu-gitu juga masih cukup alim. Kalaupun enggak, gue sunat lima kali lo berani sentuh kakak gue!" tandas Alan posesif.

Cih, rasanya ingin kurendam air panas anak itu, bertingkah seperti adik yang begitu melindungi kakaknya padahal tadi pagi dia ingin menyerahkanku begitu saja pada Defian.

"Walaupun gue juga berharap banyak sama si Mas ini, tapi kalau si ganteng yang jadi masa depannya elo mah gakpapa, gue ikhlas Gas!" Kurasa Alan dan Defian mulai bersekutu kembali.

Pikiranku berkecamuk, aku tak tahu sejak kapan tapi entah kenapa mendengar kata menikah itu membuatku panas dingin.

Biasanya melihat senyum mengejek Agam, aku akan langsung berbunga-bunga. Kini melihatnya tersenyum padaku dan sepertinya akan mengucapkan sesuatu membuat aku panik sendiri. "Ah, udah malam. Aku ngantuk, kalau kamu masih mau di sini ada mereka kok yang nemenin. Good night!"

"Gas!"

"Zoya!"

"Kak, jangan mulai deh!"

Aku tak berniat mendengarkan mereka yang memanggilku, aku tetap berjalan ke kamar dan mengunci pintu. Aku tahu aku sudah tua, tapi rasa takutku terhadap pernikahan kurasa sama tuanya dengan umurku. Seharusnya aku senang sekarang, tapi aku justru menghindar seperti pengecut. Maafkan aku.

TBC

*****

Akhirnya aku nulis jugaaaaaaa!
Maafin aku ya, maaf banget. Aku gitu kalau gak mood, apa-apa jadi males wkwk.

Pardon me,
Ali

05 September 2017
1124 Words

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!