10. Sweety Agam

3.1K 364 58

Aku tepatin janji nih, double ya. Hooray!

Besok soalnya aku gak yakin bisa nulis jadi semoga bisa triple dini hari. Kalau enggak, aku minta maaf. Besok aku ada kepentingan di luar watty. Hehe

Happy reading! 😍

*****

"Manusia tidak ada yang sempurna.
Walau tampan, walau cantik, pasti ada bolongnya."

-Gauri Adoria Zoya-

*****

"Lebih enak di situ kayaknya."

"Kamu yakin?"

"Iya jangan di atas, di bawah aja."

Agam mengangguk walaupun kernyitan di dahinya menunjukkan jika dia heran dengan kemauanku.

"Mama orang Sunda, seringkali Mama minta kita buat makan lesehan di bawah kayak gini. Masakanku tadi itu kan khas Sunda, jadi lebih enak kalau makan di bawah," terangku tanpa disuruh. Melihat Agam yang akan mengambil peralatan makan, aku langsung mengingatkannya. "gak perlu pakai sendok, cuci tangan kamu di wastafel. Bawa piring aja!"

"Terus kita makan pakai apa dong?"

"Yang jelas bukan pakai hidung," selorohku malas. Masa iya dia belum pernah makan dengan tangan langsung? Padahal namanya sangat Indonesia sekali.

Agam menurutiku mencuci tangannya sementara aku menyiapkan lauk-pauk ini. Ya, pada akhirnya aku meminta Jono membelikan beberapa sayuran untuk lalapan dan tak lupa ikan asin ketika melihat isi kulkas di apartemen ini.

Jujur saja aku sedang bosan dengan makanan luar negeri dan hampir semua bahan masakan di sini sangat khas daerah Paman Sam. Hanya ayam setengah jadi yang kuambil dari sini.

Awalnya aku terkesima, isi kulkas dia cukup lengkap. Kupikir Agam bisa berkamuflase sebagai seorang koki selain menjadi seorang designer. Tapi ternyata, tidak!

"Mom yang melengkapi isi kulkas ini hampir setiap minggunya. Hanya khawatir aku kurang gizi. Padahal Mommy tahu aku gak bisa masak sedikitpun, pada akhirnya beliau juga yang memasak ini semua." Begitu jawabannya ketika ku tanya tadi.

"Sini duduk di samping aku," titahku sembari menarik pelan lengan kanannya.

"Ini bisa di makan? Daun-daun itu masih mentah, Zoya!" Suaranya kini terdengar merengek. Sumpah demi apa dia belum pernah mencoba menu Sunda nge-hitz seperti ini? Dan apa ... dia merengek? Bolehkah aku tertawa?

 dia merengek? Bolehkah aku tertawa?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Sumber: Eyang Google)

"Ini karedok namanya. Demi apapun kau belum pernah melihat makanan ini sebelumnya?! Tinggal di bumi penjajahan sebelah mana?" timpalku benar-benar merasa aneh.

"Mommy tak pernah memberikanku masakan seperti ini, lagipula aku tak percaya ini layak dimakan jika aku melihat sendiri proses pembuatannya tadi yang benar-benar masih mentah. Lebih enak Hamburger kurasa dibandingkan ini. Kau saja yang makan itu, aku tak mau!" Agam mengernyit jijik.

Ah, kurasa orang tuanya sudah terbiasa dengan makanan luar walaupun itu fast food sekalipun. Riwayat kesehatannya berada dalam ancaman jika dibiarkan seperti ini.

Papa saja melarangku membeli makanan fast food, lagipula Papa sangat jatuh cinta pada negeri ini, termasuk makanan dan ... wanitanya, sudah pasti. Jadi aku tahu penyebab Agam tak pernah mengenal makanan sederhana yang mudah dibuat ini.

Agam memandang ngeri ke arah karedok dan ikan asin di depan matanya. "Apapun itu ... kurasa nasi dan paha ayam saja sudah cukup bagiku," balasnya tetap keras kepala.

Sudah, cukup. Kali ini aku tak bisa diam saja, dia telah menghina masakan khas daerah ibuku. Ini enak kok! "Duduk diam di situ biar aku yang ambilkan!" titahku tegas.

Agam menghentikan tangan yang hendak mengambil piring dan hanya mengangkat bahunya. Tapi sedetik kemudian bibirnya menjadi sangat cerewet. "Jangan yang-"

"Diam dan biarkan aku mengenalkanmu pada makanan ini!" sanggahku sembari mendelik kesal.

Aku masih bisa mendengar Agam menggerutu, tapi anehnya dia menurutiku. "Terkadang kamu terlihat seperti Mommy, suka sekali memerintah dan tidak bisa dibantah apalagi dikalahkan."

"Itulah wanita," ucapku singkat. "Sekarang, cobalah. Aku sengaja membuat karedok ini tidak pedas, untuk berjaga-jaga jika kamu tidak suka pedas. Jika kau belum percaya dengan tanganku, gunakanlah tanganmu sendiri."

"Maksudmu, aku makan dengan jari-jariku? Yang benar saja!" keluh Agam. Kalian tahu apa yang kurasakan? Andai saja dia tak terlahir tampan dan membuatku penasaran, kupastikan isi piring itu akan tumpah ke wajahnya. Orang tuanya, benar-benar ....

"Cobalah, ikuti aku." Kutunjukkan padanya cara makan menggunakan tangan tanpa sendok. Ragu-ragu ia mempraktekkan apa yang ku peragakan. Aku sangat menunggu lidahnya menyentuh makanan ini.

Ketika Agam mulai mengunyah, aku sudah tahu dia pasti akan suka. Terlihat dari wajahnya yang semula mengernyit kini terlihat lebih rileks. "Bagaimana? Tidak enak?"

"Rasanya segar, lumayan."

Aku mendecih. Bilang enak saja, susah sekali! Kutaruh ikan asin di piringnya dan seperti yang sudah kuduga, hampir saja piring itu terlempar ke arahku.

"Jauhkan itu dari piringku, ikannya jelek!"

Pppffttt ....

Hampir saja makanan di mulutku tersembur. Tergesa-gesa aku meneguk air putih dan tertawa terbahak-bahak setelahnya. "Hahaha, jika ikan ini tampan, aku mungkin akan menikahinya."

"Aku. Lebih baik. Kelaparan. Daripada menyentuh makhluk ini," tekannya.

Ku remukkan sedikit bagian ikan dan mengolesinya ke sambal terasi lalu memaksa Agam untuk membuka mulutnya. "Berhenti mengeluh dan rasakan saja!"

"Rasanya ... asin dan pedas, aku belum pernah menemukan rasa persis seperti ini, tapi ya ... bolehlah," celetuknya.

Dasar, mungkin dia akan berkata jujur enak jika tadi kami berhasil melakukan proses pembuahan. Ah, kurasa bukan hanya berkata jujur setelah pelepasan, tapi bisa jadi berteriak. "Ini enak sekali, Zoya! Tambah lagi yuk!" Karena begitulah suara Papa yang sering kudengar hampir di setiap inchi rumah. Suara khas yang akan membuat Alan tertawa dan aku mengernyit jijik.

"Kalau begitu, tidak masalah dengan masakanku bukan?"

"Lumayan."

Astaga ... pria ini .... lama-lama ku olesi matanya dengan sambal!

"Ah, tapi ... lain kali maukah kau membuatkanku masakan yang sama?"

"Mungkin nanti setelah kau menjadi suamiku," candaku.

"Kalau begitu ... ayo kita menikah!"

WHAT?!

TBC

*****

Maaf kalo pendek sedikit, sangat bukan aku sebenarnya. Tapi aku gak mau maksain takut malah jelek. I'm sorry ....

With love,
Ali

02 Agustus 2017
917 Words

All Eyez (#MOG 2) [END]Baca cerita ini secara GRATIS!