----------
"Yang kutahu; hanyalah bait-bait puisi yang dapat menafsirkan rasa rinduku. Meskipun sekadar ku ucapkan dalam hati, tapi itu sudah lebih dari cukup. Puisi-puisi indahku telah membisikkan luahan rasaku pada dia yang kunanti-nantikan."
----------

***

Setelah mandi, aku duduk santai di balkon tempat penginapanku. Tempatnya sangat nyaman karena ini adalah rumah uncle-nya Lee, pacar Yuki. Aku pun tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena uncle-nya Lee begitu baik. Aku, Calista dan Yuki menginap di sini secara gratis. Yes, free.

'Alhamdulillah,' batinku.

"Haura... Ini aku buatin greentea," ucap Calista seraya menaruh dua gelas greentea di atas meja. Satu untuknya dan satu lagi untukku. Ia pun duduk di kursi sebelahku.

"Makasih, Cal...," kataku seraya tersenyum tipis. "Eh! Yuki ke mana, Cal? Kok tumben dia nongol-nongol."

"Yuki lagi kangen-kangenan sama pacarnya, Lee. Tadi pas kamu lagi mandi, Lee jemput dia ke sini. Katanya sih mau jalan-jalan ke Pulau Nami."

Aku mengangguk seraya menyeruput greentea yang telah Calista buat untukku. "Oh... Kamu kok gak jalan-jalan?" tanyaku seraya menatap iris mata Calista yang berwarna biru.

"Hmmm, mau sih. Tapi, temenin ya? Please... i was bored here and i don't wanna alone to travelling." Calista menunjukkan ekspresi jenuhnya. Bibir tipisnya pun tampak mengerucut.

"Eum... gimana ya?" ucapku seraya mengetuk-ngetuk daguku dengan jari telunjuk. Tatapanku menerawang. Aku teringat pada sesuatu. "Aku kan udah ada janji sama Syammiel," pikirku.

"Come on, Haura... Please, temenin ya, ya?" pinta Calista seraya merengek-rengek seperti anak kecil yang ingin permen. Wanita berdarah Amsterdam itu mulai menunjukkan sifat childish-nya. Padahal, ia sudah beranjak dewasa.

Aku menghela napas panjang. Tatapanku pun beralih pada wanita berambut pirang dan bermata biru yang kini ada di dekatku. Aku menerobos masuk ke dalam matanya yang indah itu. Kulihat ia sungguh-sungguh merasa bosan dan kesepian. Matanya tak bisa berdusta. Ia memang sedang butuh teman 'tuk mengobati rasa sepinya itu. "Oke," ucapku pada akhirnya.

"Yes! Danke, Haura Azalea. You are the best," kata Calista seraya berhamburan memelukku.

Aku mengangguk pelan dan tersenyum simpul. "Siap-siap dulu gih, Cal! Kita berangkat sekarang."

Calista pun melepaskanku dari dalam pelukannya. Mulutnya kini menganga. Matanya membulat sempurna. Ia terperangah. Ia pun seolah tidak setuju dengan instruksiku barusan. "Hah? Kok sekarang sih?"

"Ya, iya sekarang, Cal. What are you waiting for?"

"Aku mau mandi dulu ya."

"Oke, lima menit aja ya, jangan kelamaan! Soalnya, nanti sore aku ada schedule lain, Cal. Oke?" ucapku seraya menjulurkan jempol kananku. Senyuman simpul pun kuukir di bibir mungil-ku ini.

Lima menit kemudian...

"Calista, kok lama? Udah lima menit lebih, lho!" protesku dengan nada setengah berteriak. Saat itu, aku sudah beringsut dari balkon dan duduk di tepi kasur.

"Iya, Ra... bentar!" Calista berteriak.

Sembari menunggu, aku pun memutuskan untuk membuka Instagram yang sudah cukup lama kuabaikan begitu saja. Bukan karena aku takut kehabisan kuota internet, tapi karena aku sedang vacuum di dunia bersimbol kamera itu.

"Hah? Ukh Jihan hiking? Kok gak ngajak-ngajak sih?" gumamku seraya menatap layar ponsel. Foto sahabatku itu berada di urutan teratas di beranda Instagram-ku.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!