April

Sometimes, home isn't a place. It has two eyes and a heartbeat. Kata tumblr sih, gitu. Gue dulu pernah merasa pulang ke rumah, pernah merasa memiliki rumah yang definisinya memiliki dua mata dan detak jantung. Dia, dulu, adalah segalanya bagi gue. Gue merasa gue sudah tidak perlu mencari 'rumah' lain karena dia adalah rumah gue. Gue merasa aman, nyaman, tenang dan gue yakin tidak akan ada hal-hal yang buruk terjadi.

Tapi, ketika lo sudah merasakan hal-hal buruk selalu menimpa lo, bahkan saat lo lagi di rumah pun, lo pasti gak akan betah kan? Sama halnya kaya gue.

Rakha dulu adalah rumah gue. Bahkan, Abang Bil dan Raja pun kalah sama Rakha. He was my everything I would ever asked to God. Sudahlah, jangan dibahas. Rasanya, terdengar bunyi retak tadi. Mungkin hati gue.

"Woy, ngelamun aja." Bil a.k.a Raja membuyarkan lamunan gue. Pagi ini, gue lagi masak mac and cheese kesukaan Bil. Dia masih ada di Indonesia sampe seminggu ke depan. Demi menjaga adik kembarnya sampai bener- bener bisa kerja lagi, katanya.

"Elah, Bil. Ganggu aja. Lagi asyik ngelamun juga,"

"Kalo ngelamun ntar mac and cheese gue kematengan," Kata Bil seraya mengambil alih sendok kayu yang gue pakai untuk mengaduk masakkan.

"Lo tuh emang ya, katanya mau jagain gue. Kirain jagain gue tuh berdefinisi masakin gue, beresin apartment gue, cuciin baju gue, eh-"

"Kan kalo lo laper, gue bersedia beliin lo makan, kalo lo mau nyuci baju, gue bersedia nganterin baju-baju lo ke laundry kiloan, kalo lo-"

"Halah. Basi. Diem lo."

"Idih, ngambek~" Bil langsung merangkul gue dan mengacak-acak rambut gue. "Ntar gue yang nyuci piring deh, adikku sayang."

"Geli!"

"Sini cium dulu?"

"JAUH-JAUH DARI MUKA GUE! BILZARDY RADJA NURSHAL!" Gue mendorong muka Bil jauh-jauh dari muka gue.

Bil spontan ngakak. Dia tuh baru bangun, belom mandi dan cuma modal sikat gigi sama cuci muka lalu dengan indahnya nyamperin ke kamar gue minta bikin sarapan. Emang dasar Prince of England kw 2355 jadi serba minta disiapin. Untung sayang.

"Eh, Qil, pas kemaren lo tidur ada temen lo yang ke sini. Jam sepuluhan kayaknya,"

"Hah? Siapa?"

"Gue gak nanya namanya tapi dia ngasih bunga tuh, udah gue pindahin ke vas bunga tapi gue gak baca kartunya."

"Lo tuh, kalo ada yang ngasihin sesuatu tuh tanya dari siapa-BILZARDY GUE BILANG APA SOAL JARAK DENGAN MUKA GUE!!" Bil kabur setelah mendaratkan bibirnya di pipi gue.

"Kayaknya sih dari cem-ceman lo, Qil, siapa tuh? Ganesha? Gue inget mukanya doang,"

Ganesha? Dio dong? Gue mematikan kompor setelah memindahkan mac and cheese ke mangkok bersih lalu gue beralih ke vas bunga di atas meja makan.

"Bil, nih udah mac and cheese-nya,"

Gue mengambil surat yang bertengger di antara bunga-bunga itu. Gue buka  dan gue cuma bisa senyum baca tulisannya. Berantakan banget, kayak orang nulisnya buru-buru tapi isinya manis.

"Get well soon, April. The hospital needs their resident back and I need to see your smile again. See you when I see you." - A

Gue tersenyum geli. Berulang kali gue membaca isi surat tersebut tapi gue selalu tersenyum geli. Gue suka, tapi gue geli.

"Beneran dari si Ganesha?"

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!