His Temptress | 41

21.2K 5K 1.5K

"Bagaimana dia?"

Alfredo langsung berdiri ketika melihat Ewan Marshall Wellington masuk kedalam ruang depan dengan cepat. Majikannya itu terlihat bagaikan macan yang bergerak dengan gesit, perlahan Alfredo langsung bergeser dari sisi Lidya dan menunduk sopan kearah Ewan. "Nona Lidya tampaknya terluka, sir. Kakinya-"

Ia tidak sanggup mengatakan kelanjutannya. Sesungguhnya Alfredo berharap Ewan kembali tepat setelah ia mengobati telapak kaki Lidya yang terluka, setidaknya hal itu akan mengurangi garis ketegangan yang terlihat pada wajah majikannya.

Merasa harus menjelaskan sesuatu, Alfredo dengan berdehem dan mulai berkata, "Tadi siang nona Lidya keluar dari mansion dan ketika-"

"Keluar, Al."

"Sir...?"

Ketika Alfredo mengangkat wajahnya, ia tahu bahwa majikannya tidak menerima kata 'tidak'. Sebelum Ewan mengeluarkan sepatah katapun lagi, Alfredo langsung berkata, "Saya akan menyuruh agar mansion utama dikosongkan."

Dengan cepat Alfredo berjalan meninggalkan ruang depan, meninggalkan Ewan berdua dengan Lidya yang masih pingsan. Setelah keluar, ia langsung menyuruh seluruh pelayan untuk mengosongkan mansion utama dan kembali ke mansion belakang yang diperuntukkan untuk para pelayan.

°

Rahang Ewan mengeras ketika melihat luka ditelapak kaki Lidya dan juga telapak tangannya. Ewan tidak tahu apa yang terjadi. Bukankah tadi pagi semuanya baik-baik saja? Lidya tidak terluka, wanita itu masih sesegar yang diingatnya. Hanya dalam satu jam segalanya berubah menjadi buruk.

Perlahan Ewan berlutut disamping Lidya yang masih menutup matanya dengan posisi menyamping. Jemari Ewan mengelus kening Lidya, dan mendadak hatinya merasa marah. Ada rasa menyesakkan yang memukul relung hatinya dengan begitu kuat. Ada seseorang yang meremas jantungnya hingga ia merasakan sakit, bahkan Ewan tidak pernah merasa takut ataupun marah ketika ia hampir saja kehilangan berpuluh-puluh milyar dalam tender yang gagal didapatnya dua tahun yang lalu. Ewan juga tidak merasakan ini ketika ayahnya menghinanya, marah jelas. Tapi rasa sakit yang menyesakkan? Ini... berbeda.

Mata Ewan teralihkan dengan perlengkapan obat-obatan yang diletakkan Alfredo di atas meja beserta dengan sebaskom air hangat.

Ia mengambil baskom itu, meletakkannya disamping kakinya. Ewan merendam kemudian memeras kain itu dengan air hangat lalu mulai membersihkan telapak kaki Lidya yang kotor dengan hati-hati. Setelah selesai, Ewan mengambil pinset dari kotak obat, dan mulai membersihkan kerikil kecil yang menempel pada luka ditelapak kaki Lidya.

Ewan melakukannya dengan sangat hati-hati dan bahkan tangannya sering kali bergetar ketika ia merasa bahwa gerakannya agak kasar.

Setelah selesai memberikan alkohol dan juga membungkusnya dengan perban, Ewan menundukkan kepalanya dan mengecup telapak kaki Lidya. Sejenak ia tidak membiarkan bibirnya lepas, kecupannya bergerak naik ke jemari kaki Lidya. Ewan begitu ingat bagaimana Lidya sangat suka berlari di pantai dengan kaki telanjang.

Dan bagaimana kaki itu melingkar di pinggangnya. Kaki halus yang begitu sempurna dimatanya...

Dengan cepat Ewan melepaskan kaki Lidya dan bergerak mengambil lap yang sudah direndam air hangat lagi, kemudian ia membersihkan luka di telapak tangan Lidya. Ia melakukan hal yang sama seperti saat ia mengobati telapak kaki wanita itu.

Setelah semuanya selesai, Ewan masih berlutut di samping wanita itu, memperhatikan bagaimana alis halus Lidya bergerak-gerak, bagaimana wanita itu bernafas dan bagaimana...setitik air mata mengalir dari sudut matanya.

His TemptressBaca cerita ini secara GRATIS!