----------
"Duhai kenangan...
Aku takkan pernah lejar
Meski jutaan luka t'lah kau tebar
Meski ribuan rindu menggelepar...."
----------

***

"Yuki-san, kamu jadi ke seoul lusa?" tanyaku saat menunggu pesanan makan siang di salah satu coffeeshop.

"Iya, Ra... Soalnya, aku udah kangen berat sama Julian. Long time no see my boyfriend," ucap Yuki seraya memilin rambut hitamnya. Wajahnya tampak murung. Gadis keturunan Jepang itu tengah masygul.

"Namanya juga LDR-an, Ki. Yang sabar aja, ya?" kata Calista.

"Btw, pacar kamu profesinya apa, Yuki-san?" tanyaku pada Yuki. Aku menatap wanita bermata sipit yang seumuran denganku itu.

"Julian calon gunjin, Ra. Dan, sekarang dia lagi wajib militer di korea selatan."

"Gunjin wa nan desuka?"

"In indonesian gunjin is tentara, Haura-san...," jawab Yuki lalu menyeruput jus alpukatnya yang baru saja diantar oleh waiter.

"Wah! Hebat ya!"

"Ya, di korea kan semua pemudanya wajib militer selama tiga tahun, Ra. "

"Udah, udah! Nanti lagi ngobrolnya, kita lunch dulu," ucap Calista.

Aku, Yuki, dan Calista pun makan siang bersama dengan menu makanan yang sama yaitu steak. Setelah itu, kami pun mulai berbincang-bincang lagi perihal rencana kami untuk pergi ke Negeri Ginseng, Korea.

"Kalian ikut aku yuk ke Korea?" ajak Yuki setelah meminum avocado juice-nya.

"Hah? Serius?" Aku terkejut mendengar ajakan dari Yuki. Karena, pergi ke Korea adalah salah satu keinginanku yang sampai saat ini belum terwujud.

"Iya, kalian mau kan? Ntar aku ajak kalian ke tempat-tempat yang recommended deh di sana."

"Let's go!" ucap Calista.

Aku pun mengangguk. "Oke, aku juga ikut."

"Nah gitu dong. Kan biar rame dan aku jadi gak kesepian di sana," kata Yuki seraya tersenyum manis.

"Iya, Ki. Ya udah, aku pulang duluan ya... Aku mau prepare dulu," ucapku kemudian meninggalkan kafe itu setelah membayar ke kasir.

***

Pukul 14:00 WIB.

"Assalamu'alaikum, Bu?" ucapku seraya memeluk Ibuku di ruang keluarga. Saat itu, aku baru saja pulang setelah makan siang di kafe.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Ada apa, Haura? Kok kelihatannya kamu lagi seneng banget?" tanya Ibuku seraya mengelus-elus kepalaku yang ditutupi oleh jilbab yang lebar berwarna putih.

"Iya, Bu. Haura lagi seneng banget," ucapku seraya melepaskan pelukanku pada Ibu.

"Tante Haura...," panggil seorang gadis kecil berumur tiga tahunan. Ia menghampiriku lalu memeluk kakiku. Namanya Anisa Kalila Lutfia. Ia adalah buah hati kakak pertamaku, Kak Genta Fathia.

"Eh, ada Lutfi toh. Kamu kapan datang, Lutfi Sayang?" ucapku seraya menggendong keponakanku yang cantik jelita itu.

"Baru tadi, Tante Haura...," tutur gadis kecil nan imut itu seraya menatapku.

"Seneng karena ada cowok yang datang ke sini semalem ya?" Tiba-tiba saja Kak Genta datang dari arah dapur seraya membawa mangkuk berisi sayur sop untuk anaknya, Lutfi.

Aku menoleh pada kakak pertamaku itu seraya mengernyit. "Apaan sih, Kak? Dia cuma partner kerja aku kok," kataku seraya mencebik kesal.

"Tapi, kayaknya dia suka deh sama kamu, De...," ucap Kak Genta.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!