Topeng

900 81 0

Aku tidak menunggu lagi untuk segera mengambil salah satu kuda dari kandang lalu memacunya secepat mungkin ke Padang Kurukshetra. Aku tak henti-hentinya menangis di tengah perjalanan. Waktu tiba-tiba berlalu sangat lama. Meski aku berusaha, aku tetap tiba di sana ketika matahari telah terbenam.

Duryodhana termenung di tepi telaga saat aku datang. Dia memalingkan kepala untuk memandangku. Kebencian di wajahnya berubah menjadi kepedihan dan kehilangan yang dalam. Hingga matanya kini hanya memendam kehampaan.

"Suamimu telah gugur."

"Saya tahu," kataku dengan napas yang sesak, "Dia telah memenuhi sumpahnya. Melindungi anda. Mengadang panah dan kematian untuk sahabat terbaiknya."

Duryodhana menenggelamkan wajahnya di telapak tangan. Bahunya berguncang sangat keras. Saat aku mendekatinya, barulah aku tahu... dia sedang menangis.

"Bagaimana kabar Bhanumati?"

"Putri Bhanumati dalam keadaan sehat, Pangeran."

Wajah Duryodhana yang angkuh itu melembut ketika dia membuka lilitan kain di tangan kanannya. Ada beberapa butir mutiara yang tersimpan di dalam kain itu. Duryodhana memindahkannya ke telapak tangan, lalu menggulirkannya perlahan.

"Vrushali, bisakah kau menjawab pertanyaanku?" Duryodhana mengembuskan napas dengan sedih, "Kalau aku mati, kira-kira... apakah Bhanumati akan menangis sepertimu menangisi Karna?"

Aku meremas sariku, apakah aku harus menceritakan hari-hari di mana Bhanumati berdoa untuknya?

"Meski Putri Bhanumati terlihat canggung, namun dia mengasihi anda, Pangeran..." akhirnya aku berkata, "Dia sering menceritakan kebiasaan-kebiasaan anda. Hal-hal yang anda sukai dan membuat anda gembira..."

Duryodhana tertawa, "Aku tidak tahu apakah kau berbohong atau tidak, tapi terima kasih. Itu sangat menghiburku."

Duryodhana memandang mutiara itu untuk terakhir kali, lalu melemparkannya ke dalam air. Saat itulah, dia melihat kelima Pandawa yang datang bersama Krisna.

Tawa Duryodhana semakin keras. Meski saat itu para Pandawa memandangnya dengan kebencian yang semakin dalam.

Topeng kekerasan hatinya berhasil dikenakan oleh Duryodhana. Ketika para Pandawa dan Krisna mencecarnya tanpa henti, dia balik berdiri, menantang Krisna. Mengatakan kalau Pandawa juga menang menggunakan siasat. Adu argumen di antara mereka tak terelakkan lagi. Kemarahan mulai menjalari Duryodhana hingga dia menantang kelima Pandawa menghabisinya saat itu juga.

"Apa lagi yang kalian tunggu? Aku sendirian! Aku tanpa senjata! Dan tak memakai baju perang!" dia merentangkan tangan. Menatap satu demi satu para Pandawa itu dengan penuh kebencian.

"Seumur hidupku, aku adalah pewaris kerajaan besar, sahabat yang pengasih, musuh yang ditakuti. Semua pahit manis kehidupan telah kukecap. Tak ada lagi yang kucari dalam kehidupan ini," pandangan matanya berkobar-kobar saat dia menatap lagi para Pandawa itu, "Jika aku gugur dalam perang, maka hal itu adalah kehormatan besar bagiku. Sementara bagi kalian, saat kemenangan di tangan kalian, apa yang kalian tuju? Saat orang tahu bagaimana kalian memenangkan perang ini, maka saat itulah kalian akan tahu... apakah tindakan kalian terpuji, atau tercela."

Kini pandangan Duryodhana tertuju kepadaku. Suaranya melembut saat pandangan kami bertemu. Dia menghela napas, penuh sesal mengatakan, "Aku akan menantikan saat-saat itu. Saat aku bisa bergabung dengan saudara-saudaraku dan sahabatku di seberang sana."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang