----------

"Aku memang tak bisa secepat itu meranggas perasaanku padamu. Namun, insyaa allah aku akan belajar untuk melepaskanmu---agar sedikit meredakan luka dan durja di dalam hatiku."

----------

***

Pukul 08:00 WIB.

Sang fajar telah menyingsing 'tuk menyambut hari yang baru. Sementara, wangi embun terbawa oleh angin yang berdesir halai-balai. Dan, nyanyian burung jelantik begitu menenangkan pikiranku sejenak.

Aku tergugu.

Aku diam seribu bahasa. Hatiku merana. Benakku disambangi seribu satu macam tanya---yang tak kutahu apa jawabnya.

"Berada di tempat ini membuatku terhanyut dalam kenangan. Yang tak mudah untuk kulupa karena aku tak pernah sedikit pun berpikir untuk melupakannya."

Aku tak bergeming

Aku tak bergeming. Lidahku kelu. Bibirku serasa beku. Apakah aku gagu?

Tidak. Aku hanya sedang malas untuk bicara saja. Karena, terkadang aku benar-benar ingin merasa sendirian walaupun akhirnya aku kesepian.

Kadang pula aku ingin sendiri menyepi seperti saat itu. Agar aku bisa merenung tentang betapa berharganya kebersamaan.

"Kau ini menyebalkan, wahai pangeran es. Kau memang tak pergi tapi kau menghilang. Apa kau hidup di zaman megalitikum---di mana tak ada hape untuk memberiku kabar walaupun singkat? Apa kau hidup di era soekarno---di mana orang-orang berkomunikasi dengan cara surat-menyurat?" gerutuku dalam hati.

Ini adalah hari yang ke sekian setelah ia menghilang. Bahkan, saat kemarin aku sedang sakit pun, kau tak menjengukku. Apa kau masih menganggapku sebagai sahabatmu? Jika masih, mengapa kau seperti ini padaku? Mengapa kau tega sekali padaku?

Tes!

Air mataku meluruh senada dengan hatiku yang merapuh. Langit-langit di hatiku seketika menjadi gelap-gulita. Tanpa pelita dan secercah cahaya. Kelam. Aku pun terbenam bersama sedih yang kugenggam. Aku terhanyut bersama hampa yang seakan-akan buat nadiku berhenti 'tuk berdenyut.

Jujur saja, aku tak bisa berbuat apa-apa di kala sedu melanda. Sungguh aku tak berdaya karena aku hanya wanita biasa---yang mudah sekali tersentuh hatinya lantas menangis saat rasaku teriris-iris.

"Duhai sahabatku... Andai saja dapat kuputar waktu, aku ingin melukis cerita yang lebih indah bersamamu. Namun, itu mustahil. Waktu adalah hal yang tak bisa diganggu gugat. Apabila ia telah berlalu, ya itu sudah mutlak begitu. Tak mungkin lagi diulang," batinku seraya menatap rerumputan hijau. Aku masih tercenung dalam senyap. Dan, isak lirihku masih mengoyak-ngoyak perasaanku. Karena kenangan itu---yang ada dirimu di dalamnya.

"Aku tak pernah menyangka bahwa masa-masa indah bersamamu kini bermetamorfosa menjadi puing-puing kenangan yang menyesakkan. Dan, dahulu kaulah yang menjadi pelipur atas segala lara di hatiku, tapi kini kaulah alasan mengapa hatiku lara dan pilu." Aku bermonolog dengan diriku sendiri. Dan, aku masih bertengger di atas kursi taman---tempat yang penuh kenangan. Kenangan yang pernah kuciptakan bersama Adam, sahabat kecilku.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!