• Sheiland #9 •

374K 32.5K 256

Sheila mengganti seragamnya dengan pakaian yang ia bawa dari rumah, mengganti rok dengan celana agak longgar dan tidak terlalu pas pada kaki, lalu mengganti atasan dengan kaus berlengan pendek berwarna putih tulang. Rambutnya ia ikat agar tidak mengganggu nanti, poni Sheila tata ke pinggir sehingga tidak akan menusuk mata dan terasa perih sekaligus gatal.

Setelah selesai, Sheila dan April keluar dari toilet perempuan bersama-sama. Kebetulan cewek itu juga mengikuti eskul dance, sedangkan Hilda sudah pulang hari itu. Karena eskul yang diikutinya yakni fotografi hanya diadakan saat hari Senin saja.

"Kata lo nanti katanya Kak Aland bakalan ada ya?" tanya April sedikit antusias.

"Iya."

April menyelipkan anak rambutnya di telinga. "Bukannya gue ganjen ya, Shei. Tapi kalo ada cowok ganteng nonton gue suka grogi, please lah dilatih sama Kak Arkan aja gue suka dag dig dug ser gimana gitu."

Sheila mendengus, tetapi mengangguk maklum. Wajar dong jika perempuan seperti mereka agak kikuk jika ada cogan alias cowok ganteng di sekitar mereka?

Keadaan kelas sudah sepi karena sebagian besar sudah beranjak pulang, meskipun ada di antara mereka yang masih berada di sana. Ada yang menunggu waktu dilaksanakannya eskul, menunggu jemputan, atau menunggu teman dari kelas lain yang belum selesai proses pembelajarannya.

"Eh, Shei. Nanti lo pulang sama Kak Aland lagi?" April menggendong tasnya, duduk di atas meja sementara Sheila masih melipat seragam sehingga lebih rapi dan mudah dimasukkan ke dalam tas.

"Iya. Kenapa emangnya​?"

"Nggak sih, kalo gitu berarti gue minta jemput ke bokap."

"Enggak ke nyokap aja?"

"Enggak, nyokap masih ada jadwal praktik sampe sore nanti katanya."

"Oh, maaf nggak bisa bareng."

"Selow aja, Shei."

Keduanya keluar dari kelas, segera berjalan menyusuri koridor-koridor kelas X. Agaknya kelas Sheila termasuk kelas yang pulang terlebih dahulu, dikarenakan guru mereka tiba-tiba harus pergi rapat entah kemana.

Ketika baru berbelok dan tinggal berjalan lurus menuju ruangan khusus eskul dance yang baru saja direnovasi dan lebih memadai fasilitasnya, langkah Sheila dan April kompak berhenti ketika seorang kakak kelas berhenti melangkah dari arah berlawanan sambil tersenyum.

Senyumnya tampak ramah, tetapi baik Sheila maupun April saling berpandangan karena memikirkan hal yang sama. Mereka agak terpengaruh ucapan Hilda sebelumnya, tentang Irene yang marah-marah.

"Hai," sapa Irene sambil tersenyum, matanya menyipit dan menunjukkan eye smile yang memesona.

"Hai," balas Sheila kikuk, sedangkan April hanya mengangguk sopan.

"Katanya lo pacar baru Aland ya?" tanya Irene to the point, ia agak menunduk untuk menatap Sheila yang sedikit lebih pendek darinya. Sorot matanya terlihat tertarik, tetapi terkesan mendesak ingin cepat-cepat mendengar balasan Sheila.

"Iya, Kak." Sheila tidak mengerti mengapa Irene bertanya seperti itu.

Bukannya geer atau merasa lebih, tetapi ia kira popularitas Aland di SMA Pelita tidak harus diragukan lagi. Bagaimanapun juga jika ada satu hal menarik yang terjadi pada cowok itu maka seantero sekolah pasti akan tahu karena berita atau gosip yang cepat menyebar. Lalu jika sudah tahu, untuk apa Irene bertanya pada Sheila? Untuk sekadar memastikan?

"Oh, congrats ya. Nggak gampang loh narik perhatian dia," ucap Irene, membuat Sheila mengernyit tidak mengerti.

Seolah mengerti Sheila tidak paham, Irene kembali membuka mulutnya untuk menjelaskan lebih lanjut. "Maksud gue, jujur gue nyoba-nyoba gitu narik perhatian tapi susah. Tapi lo cepet banget, hebat aja gitu."

Sheila tidak tahu apakah Irene sedang memujinya atau tidak, atau malah menyatakan persaingan secara terang-terangan? Ekspresi kakak kelasnya itu masih tampak ramah, tapi nada suara yang dikeluarkan tidak demikian.

"Ya udah, gue duluan ya. Bye girls," kata Irene akhirnya dengan melambaikan tangan yang seputih susu. Dia melangkah menjauh lalu menghilang ketika sudah berbelok.

"Maksudnya apa ya?" celetuk Sheila, ia menoleh ke arah April untuk meminta pendapat.

"Menurut gue ya, Shei. Secara nggak langsung dia itu ngomong kalo dia suka sama Kak Aland."

"Tapi kan Aland sukanya sama gue," balas Sheila polos, matanya mengerjap beberapa kali.

"Iya, sih. Tapi tipe-tipe cewek kayak dia nggak bakalan nyerah deh, Shei. Hati-hati loh."

"Hati-hati kenapa?"

"Takut ditikung, maksud gue."

"Nggak takut, gue percaya kok sama Aland."

"Hmm. Eh, kok lo nggak manggil dia dengan embel-embel Kak?"

"Dia yang nyuruh," jelas Sheila.

Akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan yang belum terlalu ramai karena Arkan sendiri​ belum ada di sana, beberapa masih berbincang-bincang atau mengambil foto sehingga dapat diunggah ke jejaring sosial.

Sheila mengedarkan pandangan, mencoba mencari kehadiran Aland. Cowok itu mengatakan akan ada di sana untuk sekadar menonton, tetapi sampai Arkan masuk dengan langkah terburu-buru karena terlambat pun cowok itu masih belum datang juga.

Daripada menunggu, Sheila akhirnya bergabung dengan yang lain untuk melakukan peregangan. Hal itu tak berlangsung lama karena seseorang yang masuk ke dalam ruangan membuat mayoritas perhatian teralihkan.

Aland masuk dengan santai, terlihat tak peduli dengan pekikan senang beberapa siswi ataupun tatapan bingung Arkan.

"Lanjutin ya," ucap Arkan, ia segera menghampiri Aland yang kini sedang mencoba menyulut rokoknya. Arkan melotot dan menjitak kepala kembarannya dengan cukup keras.

"Jangan ngerokok di sini."

Aland berdecak, tidak jadi merokok tetapi melayangkan pandangan tidak suka. "Terus gimana?"

Arkan mengembuskan napas pelan, menghampiri tasnya yang tergeletak. Merogoh sesuatu dan mengambil beberapa permen mint dan memberikannya kepada Aland. "Nih."

"Oke." Aland membuka satu, memasukannya ke dalam mulut. Ia menoleh dan menatap Sheila yang juga menatapnya.

Aland tersenyum dan melambaikan tangan singkat, yang efeknya justru tidak hanya berlaku bagi Sheila yang kini senyam-senyum tidak jelas. Tetapi juga anggota perempuan lain yang tampak tersipu malu, baper.

Arkan memutar bola matanya malas, latihan hari ini mungkin akan sedikit kacau.

***

Sheila mendapat giliran untuk mencoba gerakan baru yang diajarkan, setelah meminum air mineral cewek itu berjalan ke depan dengan perasaan gugup. Kehadiran Aland seolah memberi atmosfir berbeda dibanding latihan-latihan sebelumnya.

Sheila menarik dan membuang napas berulang kali, ia harus fokus agar bisa melakukan gerakan yang seharusnya. Karena jika Sheila berhasil, setidaknya tidak 'malu-maluin' di depan Aland.

Musik mulai terdengar, Sheila segera menggerakkan tubuhnya. Gerakannya bagus dan sesuai, tidak terlalu lambat dan juga tidak terlalu cepat. Pas.

Sheila tersenyum, semangatnya semakin tinggi.

Tetapi karena terlalu bersemangat, ketika melakukan gerakan berputar Sheila tak bisa menjaga keseimbangannya dan jatuh. Mengaduh sakit ketika semua orang di ruangan itu melempar pandangan terkejut.

Sheila mendesah kecewa tentang dirinya sendiri, mencoba bangkit. Sakitnya sih tidak seberapa, tapi malunya itu lho. Mengapa dia selalu bertindak ceroboh dan kurang perhitungan, sih?

Benar-benar menjengkelkan.

***

Sheiland (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang