----------
"Persiapkan dan tegarkanlah hatimu. Sebab, hidup itu penuh dengan teka-teki dan kejutan --- yang terkadang menyesakkan dan kadang pula membahagiakan."

----------

***

"Mas, tolong sampaikan permohonan maafku ya sama partner yang lain? Gara-gara aku, rencana kita banyak yang gak terealisasikan."

"Iya, nanti Mas sampein sama mereka. Tapi, gak usah nyalahin diri sendiri, Haura... Ini kan musibah--yang datangnya tanpa kita minta dan gak bisa diduga-duga," ucap Mas Bimo di seberang sana.

Ya, pagi itu, aku menelpon Mas Bimo via WhatsApp.

"Iya, Mas."

"Keadaan kamu gimana sekarang, Ra?"

"Alhamdulillah, udah mulai membaik, Mas. Cuman masih suka pusing aja," jawabku seraya bersandar di dipan kasurku. Dua hari yang lalu, aku baru saja dibolehkan pulang oleh dokter dari rumah sakit di mana aku dirawat.

"Syukur alhamdulillah, Ra. Jangan lupa diminum obatnya, biar cepat sembuh dan bisa berkarya lagi."

"Iya, Mas. Inginnya sih seperti itu."

"Mmm, nanti malam Mas sama yang lain mau jenguk kamu. Jangan ke mana-mana oke?" tanya Mas Bimo. Dan, setelah aku mengiyakannya, sambungan telepon pun terputus. Lantas, kutaruh ponselku di atas nakas yang tak jauh dari tempat tidurku.

Lagu "Ikrar Cinta" yang dinyanyikan oleh penyanyi religi bernama Dodi Hidayatullah pun bak menggema di seluruh sudut kamarku. Ya, aku telah mengganti nada dering telponku. Dari lagu "Assalamu'alaikum" by Harris J menjadi lagu bertajuk "Ikrar Cinta."

Aku mengernyit seraya menatap layar ponselku yang menyala. "Nomornya gak aku kenal," batinku.

"Assalamu'alaikum, Ukh Haura?"

"Afwan. Ini dengan siapa ya?"

"Ini aku Jihan Nurul Azizah, sahabat SMA kamu," ucap seseorang di seberang sana.

"Ooo, ya. Jihan? Aku kangen banget sama kamu," pekikku seraya tersenyum mengingat kenanganku bersama Jihan dulu. Ia adalah sahabatku sekaligus teman curhatku, walaupun aku dan dia berbeda kelas. Dulu, Jihan menjadi wakil ketua dalam ekskul rohis di SMA-ku. Ekskul itu diberi nama "Pejuang Al-Kahfi" oleh ketua umumnya yang pertama--yang entah siapa namanya. Dan, akhirnya aku pun masuk ekskul itu meskipun hanya jadi member saja.

"Tapi, tak apa-apa. Yang kubutuhkan bukanlah pangkat dan jabatan, tapi akhlaq yang semakin meningkat dalam kebaikan."

"Ana juga syauq, Ukhtii. Lameu tak jumpeu, kamu apeu kabarnyeu? Baik-baik jeu kan?" ucap Jihan di seberang sana. Nada suaranya terdengar berbeda. She was worried of me.

"Aku baru aja kena musibah, Ukh...," jawabku. Aku kembali lagi memanggil Jihan dengan kata 'Ukh atau Ukhtii.' Dan, itu adalah kebiasaanku dan Jihan saat menghiasi masa-masa indah semasa SMA di semester terakhir.

Karena apa? Karena, aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Perbedaannya jauh sekali. Bila dibandingkan dengan jarak, mungkin milyaran kilometer. Dan, bila dibandingkan dengan sudut, mungkin perbedaannya 180 derajat.

Jangan berpikir yang tidak-tidak, ya? Aku yang dulu itu adalah aku yang suka datang terlambat, ikut ekskul Band, pernah terjerat dalam ikatan pacaran, dan sering upload foto selfie-ku ke sosmed. Beda jauh kan dengan aku yang sekarang?

Ya, kan setiap insan pasti bisa bertransformasi dari yang buruk jadi baik, dari yang baik jadi makin baik. Begitu pun dengan aku. Aku juga manusia. Dan, aku adalah hamba Allah. Yang punya hati, naluri, firasat, intuisi, dan nalar untuk berpikir.

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!