---------------
"Aku tersesat di belantara sunyi. Tak ada sesiapa pun di sini, kecuali aku dan hatiku yang sepi. Tapi, sungguh tak apa-apa. Lebih baik aku begini. Tetap menantinya dalam taat. Dan, tak terjebak pada harapan yang menjerat."
----------------

***

Malam itu, langit ditaburi gemintang nan memukau

Malam itu, langit ditaburi gemintang nan memukau. Meskipun tanpa rembulan yang bersinar-seminau, tapi gemintang masih bisa bersinar dengan cahayanya.

"Aku harus belajar dari bintang--yang tetap bersinar terang walaupun tanpa kehadiran rembulan. Ya, aku pasti bisa. Dan, aku masih akan terus mencoba untuk terbiasa tanpanya. Tanpanya yang selama sewindu ini kucintai, tapi ia tak pernah peka," batinku seraya menatap langit temaram yang dihiasi binar-binar dari para bintang.

Wush!

Dersik angin menerpa pohon cemara yang menjulang tinggi, hingga dedaunannya berguguran lantas terombang-ambing tanpa arah yang jelas. Semak belukar pun tampak bergoyang-goyang dan menciptakan suara gesekan-gesekan dari dedaunan dan ranting.

Suasana malam pun terdengar begitu hening. Namun, agak tersamarkan dengan orkestra natural yang diciptakan oleh grup nokturnal dan bunyi-bunyi alam yang lainnya. Sungguh menenangkan jiwa. Dan, ini adalah apa yang kubutuhkan setelah menjalani hari-hariku yang padat dengan job dan workshop.

Bukan hanya kedamaian yang kudapatkan. Tapi, dari tempat yang antah-berantah dan jauh dari perkotaan ini, aku bisa mengasah kemampuanku untuk hidup di alam bebas. Survive. Aku pun mengamalkan ilmu-ilmu yang dulu ku pelajari saat ekskul Pramuka di SMA. Maka, tak heran jika aku bisa mendirikan tenda, membuat alat penyimpan untuk alat-alat masak, dan jemuran dari simpul-simpul tali.

"Ra, ternyata loe pinter tali-temali juga, ya?" ucap Yudha. Ia membuyarkan lamunanku tentang Alpha Centauri. Itu adalah nama bintang yang paling terang. Bahkan, sinarnya 1,5 kali lebih terang dari matahari yang sering kita lihat di waktu pagi sampai siang hari.

"Alhamdulillah, dulu aku anak Pramuka. Sekarang pun masih sih, selalu," kataku seraya tersenyum dan menundukkan pandanganku.

Ya, saat itu aku dan team-ku tengah duduk santai di atas tikar. Kami sama-sama duduk melingkar dan menghadap ke api unggun yang menyala-nyala. Rasa dingin yang begitu menggigit pun sedikit terobati oleh kehangatannya.

"Wih! Keren loe, Haura. Dua jempol deh buat hijaber ini," seru Yudha seraya menunjukkan kedua ibu jarinya.

"Sugoi desu yo," ucap Yuki seraya tersenyum simpul ke arahku. Ia merekatkan tali jaket harajuku-nya seraya menggigil kedinginan.

"Gak usah berlebihan deh, Yud." Aku mengernyit menatap Yuki dan tak memandang Yudha yang sepertinya tengah memerhatikanku. "Yuki-san, kamu kedinginan? Aku buatin teh anget ya?" tawarku seraya beringsut ke arah Yuki lalu aku memegang bahunya.

"Hai, douzo."

"Iya-in aja, Haura," timpal Calista. Ia menyadari ketidakmengertianku. " I also don't understand like you."

Jomblo Until Akad #KyfaBaca cerita ini secara GRATIS!